Ayat ini mengingatkan kita untuk tetap teguh memilih yang baik, meski tidak selalu populer, meski terasa tidak mudah.
Karena pada akhirnya, yang baik itulah yang membawa keberkahan dan kemenangan✨
#MotivasiAyatHariIni#IslamBerkemajuan
Di Eropa nyetir 4 jam udah pindah negara.
Indonesia :
Nyetir 4 jam di Pulau Jawa udah pindah provinsi.
Nyetir 4 jam di Pulau Sumatra masih di satu provinsi.
Nyetir 4 jam di Pulau Kalimantan masih di satu kabupaten.
Nyetir 4 jam di TB Simatupang jam pulang kantor masih dalam satu kecamatan.
Kami dulu pernah disebut orang gila krn menanami lahan pasir tailing timah di belitung timur.
Lahan yg dihadapi sungguh ekstrim. Menurut ahli tanah, mungkin 20 tahunan rumput baru mau tumbuh lahan itu. Tapi gapapa. "orang gila" kan bebas. Tanam aja lah.
Tp sebenarnya, apakah kami yg berjasa?
Bukan. Nek Inah ini salah satunya yang berjasa.
Nenek berusia sekitar 74 tahun bersepeda menempuh jarak 10 km (pulang-pergi) dari rumahnya ke lahan bekas tambang untuk membantu menanam.
Gw punya temen yang kalau dimintain tolong tidak pernah bisa bilang tidak.
Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tidak sanggup lihat muka kecewa orang lain.
Suatu hari dia cerita sesuatu yang bikin gw diam lama.
Dia punya rekan kerja yang sering minta tolong kerjain bagian tugasnya. Alasannya selalu masuk akal.
Anaknya sakit lah. Keluarganya ada acara lah. Lagi tidak enak badan lah.
Dan temen gw selalu iya.
Sampai suatu titik dia lembur hampir setiap hari. Tugasnya sendiri belum selesai karena kebanyakan handle punya orang lain. Tidurnya kacau. Badannya mulai drop.
Gw tanya kenapa tidak bilang tidak bisa?
Dia diam sebentar.
Terus bilang 'gw takut dia pikir gw tidak mau bantu. Gw takut hubungan kita jadi tidak enak. Gw takut dia kesan gw egois.'
Dan gw tanya balik tapi dia pernah takut gak bikin lo kelelahan?
Temen gw tidak jawab.
Karena jawabannya sudah jelas.
Dan ini yang paling menyakitkan dari jadi orang tidak enakan.
Lo pikir lo menjaga perasaan orang lain. Tapi sebenernya lo sedang mengorbankan diri sendiri untuk orang yang bahkan tidak pernah kepikiran untuk menjaga perasaan lo balik.
Mereka tidak jahat. Tidak semuanya. Tapi mereka tau lo tidak akan bilang tidak. Dan selama itu benar mereka tidak punya alasan untuk berubah.
Yang paling ironis
Temen gw akhirnya sakit. Masuk rumah sakit dua hari.
Rekan kerjanya yang sering dia tolong kirim pesan singkat. Get well soon.
Tidak lebih dari itu.
Dan di tempat tidur rumah sakit itu temen gw akhirnya ngerti sesuatu yang harusnya dia sadari jauh lebih awal.
Orang yang kita jaga perasaannya mati matian tidak selalu menjaga perasaan kita dengan cara yang sama.
Dan tubuh kita menyimpan semua yang tidak berani kita ucapkan.
Sampai akhirnya dia yang berbicara dengan cara yang tidak bisa kita abaikan lagi.
Aku nemu do'a yang bagus banget :
"Ya Allah, mudahkanlah segala sesuatu yang sedang aku alami. Berkahilah aku dengan rezeki yang melimpah. Tenangkanlah hatiku di setiap kekhawatiran. Kelilingi aku dengan orang-orang yang baik dan penyayang, serta ampunilah segala kekurangan dan kesalahanku."
Pernah nulis ini di akun pribadi.
Singkatnya tahun lalu, di tengah hujan deras dan macetnya jalanan, gue ketemu ibu dan anak lagi kehujanan tanpa mantel. Gue ingat ada jas hujan plastik di jok motor, lalu gue teriak, “BU SAYA ADA JAS HUJAN, MAU NGGAK?”
Beliau berhenti, lalu gue menawarkan untuk pakaikan mantel plastik biru ke anaknya yang lagi pegang pisang goreng yang layu karena hujan.
Sewaktu gue pakaikan, si Ibu tiba-tiba nangis dan bilang, “Mbak, makasih sudah baik sama saya. Hari ini, saya lagi hancur sekali. Dunia jahat banget sama saya, Mbak."
Gue — yang masih keribetan bantu anaknya pakai mantel dan kita lagi bertarung sama kaki-kaki hujan yang nusuk wajah, agak kebingungan. Setelah selesai, gue tanya, "Ibu kenapa?"
Beliau bilang, "Saya habis pergokin suami saya di kontrakan bareng selingkuhannya, Mbak. Mereka ternyata sudah nikah. Saya dan anak saya diusir." Tangisnya sederas hujan.
Gue lihat anaknya yang masih menggenggam pisang goreng layu — yang gue asumsikan sudah menyaksikan pentas patah hati orang tuanya, matanya masih terlalu polos untuk lihat semuanya. Dunia betulan jahat.
"Mbak, makasih ya. Ternyata di tengah jahatnya dunia, masih ada kebaikan di sini untuk saya,” lanjut si Ibu.
Gue si manusia kikuk ini, entah gimana caranya bisa elus pundak si Ibu dan bilang, "Air mata dan luka Ibu sudah dihitung Allah. Insyaa Allah semuanya akan diganti dengan yang lebih indah. Masih banyak kebaikan di dunia ini."
Sekalipun diam-diam gue setuju bahwa dunia ini jahat. Tapi gue berharap ada kekuatan di kalimat yang gue sampaikan.
Percakapan kita cuma sampai di situ. Setelah untuk yang kesekian kali beliau bilang makasih, karena hujan deras dan khawatir Adik kedinginan, si Ibu buru-buru pamit.
Ini kisah tahun lalu.. semoga sekarang mereka selalu direngkuh dengan banyak kebaikan 🤍
@sbmptnfess G mau ngundang orang yg udah berjasa bayarin kuliah kamu pdhl bukan orangtua kandung kamu cuma krn kamu nilai penampilan mereka g bagus aku yg sedih nder. Bisa aja kamu undang & pilihin pakaian yg baik buat mereka mrt km. Dibilang "ngampung bgt" aku marahh🥲
Lagi rame banget orang2 membicarakan baby Punch-kun. Aku mau nulis soal kasusnya Punch dari kacamata primatologist.
Disclaimer dulu: Aku gabisa Bhs Jepang jadi mohon dikoreksi ya kalau aku salah memahami/mengartikan suatu kalimat.
https://t.co/BHZ3koftXa
gue selalu ngeyakinin diri sendiri "gapapa kok kalo proses nya lebih lama dari temen² yg lain, gapapa kok ketinggalan, yg penting i do my best" tp ga bohong sih ttp aja ga tenang, takut, dan kepikiran🥲