skripsi itu ujian mental terberat di S1
kadang liat berita ada mahasiswa bnh diri pas skripsian, bisa jadi seberat itu. karna biasanya itu umur2 kritis, orang tua semakin tua sakit2an, temen2 udah pada lulus duluan, tema skripsi yg sulit, hasil analisa data stuck, dosen yg susah ditemuin, bisa jadi ditinggal pasangan, setiap orang punya strugge masing2.
yuk support temen2 kita yg lg skripsian, enggak usah ditanya kapan lulus, bilang aja kalau butuh bantuan kita siap bantu
smg selalu dimudahkan yah!
@unairmfs masalah dapet kerja, semuanya itu susah, kl km ngeliat org lain ya gaada habisnya. tinggal usahamu dan doamu aja loh nder dikencengin. toh garis start dan finish orang beda". hidup tuh cukup dijalani aja nder^_^ no need to worry.. percaya dgn kemampuanmu sendiri aj okkk
@unairmfs gak samsek. even jurusanku banyak dibilang susah dpt kerja gaada menyesalnya sama sekali. km tau ga sih nder sesuatu yg udh jd milik km skrg, yg km jalani skrg ya berarti emg itu ditakdirkan buat km, trs apa gunanya menyesal?
@jntexpressid ah saya disuruh nunggu terus.. ini dah satu minggu lohhh masa iya paketnya masih di jakarta. gamau tau besok paketnya harus sampai di rumah saya dengan kondisi yg baik.
@jntexpressid min paketku ngestuck aku udah cek berdasarkan nomor resi. kenapa ya paketku masih stuck "sedang transit"? tolong itu transit dimana dan kira" kapan sampainya min, sudah seminggu kok belum sampai.
Guys kata Tom Lembong di podcast Malaka dan ini salah satu yang paling jujur yang gw dengar dari mantan pejabat Indonesia soal kondisi sekarang.
Dia bilang kebijakan luar negeri Indonesia sekarang paling berantakan sejak 1965.
Bukan sejak 1998. B
ukan sejak reformasi. Tapi sejak 1965.
Dan dia kasih contoh konkret yang bikin gw tidak bisa bantah.
Beberapa minggu lalu Indonesia bergabung ke Board of Peace yang diketuai Amerika dan Israel.
Seminggu setelah itu Amerika dan Israel menyerang Iran.
Sekarang Indonesia ngemis ke Iran minta kapal tanker kita boleh lewat Hormuz.
Dan Iran dalam kondisi marah besar habis diserang mau simpati ke kita?
Itu konsekuensi langsung dari kebijakan luar negeri yang tidak berprinsip.
Soal energi ini yang paling bikin gw ngeri.
Stok BBM dan LPG nasional kita hanya ekuivalen dengan 20 sampai 25 hari konsumsi.
Itu saja.
Kalau Hormuz tidak buka dalam 25 hari puluhan kota di Indonesia bisa kehabisan bensin dan gas.
Ibu ibu tidak bisa masak.
Logistik lumpuh.
Bukan skenario jauh.
Itu risiko yang menurut Tom Lembong sangat nyata dan sangat dekat.
Bandingkan dengan Jepang yang stoknya 250 hari. China yang stoknya 1,3 miliar barel.
Mereka sudah siap dari jauh jauh hari.
Kita masih 20 hari dan tidak ada rencana darurat yang jelas.
Dan ini yang paling menyakitkan dari semua yang dia bilang.
Tahun lalu harga minyak dunia lagi murah.
Surplus 2 juta barel per hari.
Itu saat yang sempurna untuk borong dan nambah cadangan nasional.
Tapi tidak dilakukan.
Uangnya dialihkan ke program program lain yang multiplier effect-nya kecil yang kita sudah tau semua itu yaps EMBEGE
Soal tarif Trump Indonesia panik duluan. Buru buru negosiasi. Dapat kesepakatan tarif 19%. Eh satu hari kemudian Mahkamah Agung Amerika batalkan tarif itu karena ilegal. Negara yang tidak panik sekarang cukup bayar 10%. Kita yang paling semangat negosiasi malah kena 19%.
Tom Lembong bilang ini pelajaran lama yang terus diulang. Kalau kita tinggalkan prinsip demi keuntungan jangka pendek hasilnya selalu buruk. Selalu.
Dan kata dia satu satunya hal yang bisa dilakukan masyarakat sekarang hemat. Kencangkan ikat pinggang. Nabung. Dan mulai pikirin alternatif kalau LPG benar benar langka.
Karena pemerintah sendiri belum punya solusinya.