Guys, di antara semua angka dan statistik yang beredar tentang kecelakaan kereta di Bekasi Timur 16 orang meninggal, 84 orang luka-luka, evakuasi 8 jam ada satu kisah yang menurut gue perlu lo dengar.
ini cerita seorang ibu yang kehilangan ibunya
Malam itu Sofia tidak berencana mengalami apapun yang luar biasa:
Dia berangkat bersama ibunya perempuan 63 tahun yang punya riwayat jantung
dan anaknya yang masih kecil.
Tujuannya sederhana:
mengunjungi adik kembarnya di Cikarang.
Kereta berangkat pukul 20.00 malam.
Perjalanan biasa.
Tidak ada yang mengindikasikan malam itu akan mengubah hidupnya selamanya.
Lalu sekitar pukul 20.30 semuanya berubah dalam hitungan detik.
Apa yang Sofia rasakan saat tabrakan terjadi:
Kereta di jalur sebelah menabrak sesuatu.
Lampu mati.
Lalu tiba-tiba guncangan keras.
Seperti tertampar.
Kereta yang Sofia tumpangi dihantam dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek.
Di dalam gerbong panik total.
Pintu tertutup.
Tidak ada yang tahu harus ke mana.
Sebagian penumpang sudah turun sebelumnya untuk melihat kondisi di perlintasan sehingga gerbong tidak terlalu penuh.
Itu yang menyelamatkan sebagian orang.
Sofia melihat ada jendela yang bisa dibuka.
Dia tidak berpikir panjang.
Anaknya dikeluarkan lewat jendela itu terlebih dahulu.
Anaknya selamat.
Lalu dia ingat ibunya:
Ibunya masih di dalam gerbong.
Bersama orang-orang lain yang belum bisa keluar.
Sofia kembali.
Menunggu pintu dibuka oleh security.
Alhamdulillah responsnya cepat.
Pintu dibuka.
Sofia menyeret ibunya keluar dari gerbong.
Ibunya masih sadar. Masih bisa bicara.
Sofia menenangkannya. "Sabar. Sabar."
Lalu dalam hitungan detik ibunya jatuh.
Pingsan. Berdarah di kepala.
Dan di situlah Sofia sendirian:
Di sekelilingnya semua orang panik mengarah ke titik tabrakan yang lebih parah.
Korban di mana-mana. Pertolongan tidak cukup untuk semua orang sekaligus.
Sofia tidak bisa berbuat banyak.
Dia berdoa.
Menunggu bantuan yang ada.
Melakukan semampunya.
Ada polisi yang membantunya.
Ambulans datang. Ibunya dibawa ke RSUD Bekasi.
Dan di RSUD Bekasi ibunya dinyatakan telah tiada.
Ironi yang paling menyayat hati:
Sofia berhasil menyelamatkan anaknya.
Sofia berhasil mengeluarkan ibunya dari gerbong.
Sofia melakukan semua yang bisa dia lakukan dalam kondisi yang tidak memberi ruang untuk berpikir — hanya untuk bertindak.
Tapi ibunya tetap pergi.
Bukan karena tertimpa besi yang melintir.
Bukan karena terjepit gerbong yang hancur.
Tapi karena jantungnya yang sudah lemah tidak kuat menanggung syok dari kejadian yang seharusnya tidak pernah terjadi.
63 tahun. Ibu dari delapan anak.
Enam cucu.
Punya warung sembako kecil.
Perempuan yang aktif dan masih bersemangat pergi dalam satu malam di atas rel kereta yang seharusnya aman.
Dan ini yang membuat kisahnya semakin berat:
Tanggal 6 Juni kurang dari sebulan dari malam itu Sofia berencana menikahkan anaknya yang bungsu. Perempuan.
Anak keenam.
Hajatan yang sudah dipersiapkan.
Sang ibu seharusnya ada di sana.
Menyaksikan.
Mungkin menangis bahagia.
Mungkin sibuk di dapur.
Mungkin cerewet mengatur-atur tamu.
Sekarang tidak ada lagi.
Adik bungsunya yang akan menikah bulan depan sampai malam hari kejadian masih syok berat.
Tidak bisa ditemui.
Tidak bisa merespons apapun.
Trauma yang terlalu dalam untuk diproses dalam semalam.
Harapan Sofia untuk KAI dan ini yang paling jujur:
Meski baru kehilangan ibunya berjam-jam sebelumnya Sofia tidak marah-marah. Tidak menyumpahi.
Dia bilang:
Responsnya sudah cepat.
Sudah luar biasa menurut saya.
Tapi dia berharap keamanan lebih ditingkatkan.
Agar tidak ada Sofia-Sofia lain yang harus menghadapi malam yang sama.
Dan ini yang perlu kita semua ingat:
Di balik setiap angka dalam statistik kecelakaan ada manusia.
Ada Sofia yang harus memilih antara menyelamatkan anaknya atau menunggu ibunya.
Ada ibu 63 tahun yang jantungnya tidak kuat menanggung sesuatu yang bukan salahnya.
Ada adik bungsu yang harusnya sedang sibuk persiapan pernikahan yang sekarang harus memproses duka yang tidak terencana.
Dan semua ini terjadi karena satu perlintasan sebidang yang tidak dijaga.
Satu taksi yang tersangkut di atas rel.
Satu sistem sensor yang gagal memberikan sinyal yang benar.
Satu rantai kegagalan yang seharusnya sudah diperbaiki puluhan tahun lalu.
16 orang meninggal. 14 keluarga yang malam itu hidupnya berubah selamanya. 16 cerita seperti Sofia — yang masing-masing terlalu berat untuk dibayangkan.
Dan Rp4 triliun yang baru diumumkan hari ini setelah semua itu terjadi.
Buat semuanya, tolong jangan salahkan Masinisnya, sekali lagi JANGAN SALAHIN MASINISNYA. Kereta itu CEPAT dan enggak bisa di-rem secara mendadak, karena kalau tidak, bakal kemakan banyak korban lagi dan bakal rem blog sampai keluar gerbong. Tolong banyakin literasi lagi 🙏🙏🙏
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran.
Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini.
Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan.
Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja.
Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya.
Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia.
Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”.
Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal.
Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;)
Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan.
Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa.
Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri.
Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok.
Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
kalo gabisa 1 juz per hari setengah juz, kalo gabisa setengah juz seperempatnya aja, kalo gabisa juga 1 lembar, kalo masih gabisa 1 halaman, kalo masih tetep gabisa setengah halaman, yg penting usahain jangan biarin waktu berlalu tanpa baca Al-Qur'an, karena :