Kalo hari ini sering liat suporter turun ke jalan (dg ragam cara, bendera & metode) dlm isu2 kerakyatan: di situ Andi Peci (sedikit banyak) yg memulai.
Baliknya Persebaya 1927 ga cuma kemenangan Bonek, tapi ttg: sepakbola emang alat perjuangan.
Malah budhal disek kon iku, Cok!
Rest in Peace, Cak Andie Peci
Sepak bola Indonesia kehilangan salah satu sosok paling tulus dan berani. Perjuangan panjang Cak Andie Peci tercatat abadi dalam sejarah berupa gerakan nyata melawan ketidakadilan demi marwah sebuah klub, sebuah kota, dan sebuah prinsip.
Memoriam perjuangannya, terutama momen mengembalikan Persebaya ke kancah nasional, adalah bukti sahih dedikasi tanpa tandingnya.
Pandangan kritis beliau adalah cermin jujur yang berani dia ungkapkan dari apa yang terjadi dalam dunia sepak bola khususnya di tanah air.
Warisan pemikirannya akan terus hidup, menjadi role model bagi siapa saja yang percaya bahwa sepak bola adalah milik rakyat.
Pandit Football mengagumi dan menghormatimu, Cak. Tenang di sana.🥀
Minggu depan aku nemenin teman-teman pembaca buku dari Malaysia buat booktour di Jogja lagi. Kalau ada yang mau join ngopi bareng mereka dm aja ya, siapa tahu nanti bisa ketemu di salah satu toko buku.
Rute kami:
- Warung Sastra
- Berdikari baru
- Buku Akik
- Mojok
- Akal Buku
- Guru Bumi
- Teotraphi
- Ruang Melamun
- Shira
- Solusi
- Gramedia Sudirman
- Bawa Buku/Kebun Buku
Atau kalau ada rekomen toko buku indie baru di Joga reply yaa 😊
Baru ngeh dgn caption ini & baru selesai jg baca artikel mang Zen. Btw, kami tdk pernah mengajak "kembali ke partai sentralistik ala masa lalu" seperti dlm caption. Bahwa memprogandakan pentingnya partai iya. Tapi kalo sentralistik ini kesimpulan sendiri. Hehe..
Aneh banget bangsat. Masukin “PENCEGAHAN” LGBT+ ke kurikulum pendidikan but sex education, “how not to be a rapist”, and how to respect differences—ethnicity, race, religion, skin color, language, culture, beliefs, and sexuality.
Tolong saranin dong channel youtube underrated 🙏
Aku mulai duluan: channelnya Safar Nurhan
Aku suka dengerin terutama yang ngobrol dengan penulis, kritikus sastra, penyair, pokoknya yang ada hubungan sama buku. Seru banget dengerin mereka bisa ngobrol santai dan deket gak cuma soal karya tp kehidupan pribadi juga. Mirip Soleh Solihun kalau lagi ngobrol sama musisi di youtube dia 😄
Diskusi ttg partai & rimpang, IMHO, kerap abai kpd kondisi material.
Saya menulis catatan atas serial esai Bung Mughis di @indoprogress & @projectm_org, juga esai Gus @MurtadhoRoy
"Tahu Marxisme, Kenal Keadaan": Kritik MDH atas Pedantisme dlm Gerakan
https://t.co/292jlbkVG6
Kak, kamu daripada defensif gini, mending minta maaf atau mungkin diem aja. Film yang papa kamu buat itu bukan film biasa, tapi film PROPAGANDA. Hasilnya? Banyak keluarga korban ‘65 yang masih kena stigmatisasi hingga saat ini.
Jelas gk perlu.
Film Pengkhianatan G30S itu urusan publik. Korban sesungguhnya film itu juga publik—rakyat Indonesia yang pemahaman sejarahnya dimanipulasi, dan terutama, keturunan PKI/dianggap PKI yang distigmatisasi puluhan tahun.
Jadi, segala penjelasan pun haruslah publik.
setelah baca novel ini, aku saranin untuk lanjut ke buku Di Bawah Rundungan Merah - Dhianita Kusuma Pertiwi. ngomongin soal praktik pelarangan dan politik ketakutan atas the grapes of wrath di amrik
Kalian bacalah buku bagus ini. Saya baru baca 100an halaman aja udah bisa bilang, ini buku terbaik tahun ini yg saya baca.
Beli segera sebelum hilang di telan bumi lagi kaya East of Eden atau Of Mice and Men.
BACA BUKU KEKERASAN BUDAYA PASCA 1965.
Biar kalian tahu segimana brengseknya Harto dalam mendoktrin masyrakat selama 32thn dan berlanjut sampe sekarang.
Begitulah kalo korban pembantaian 1965 bisa hidup lagi.
Akan berkata kasar kepada mereka yang melegitimasi kekerasan budaya pasca 1965.
Saya tidak akan baca lagi buku blio dan tidak merekomendasikannya.
logo yang tertera di Kuasa Ramalan edisi pertama, selain logo penerbit, adalah logo Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD) yang dipimpin Hashim Djojohadikusumo.