Nahdliyin di kampung-kampung itu kadang sederhana saja menilai Capres dukungannya. Misal: jika diundang ke acara NU, dalam sambutannya dia fasih mengucap "wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq". Atau sesederhana yang paling sanggup berdiri di sepanjang "Mahalul Qiyam" dalam acara Shalawatan. Simpel sekali.
Pada Pemilu 2019, exit poll perolehan suara Jokowi lebih dari 50% berasal dari pemilih Nahdliyin. Mengapa warga NU ketika itu tidak memilih Prabowo? Alasannya sederhana: Jokowi dianggap lebih jelas "sholat Jum'at dimana" ketimbang Prabowo. Meski ketika baca Qur'an lidah Jokowi masih terdengar "wolo wolo kuwato" (meminjam istilah kang M. Shobary), tapi setidaknya optik relijiusnya lebih tampak ketimbang Prabowo.
Jika hasil salah satu lembaga survei minggu ini menyatakan suara Nahdliyin meningkat ke Prabowo, bisa saja itu memang terjadi. Kaget sih ndak juga. Pasti bukan karena Prabowo sudah jelas "Jum'atan dimana" tapi mungkin saja pergeseran ini terjadi karena dipengaruhi oleh "Gus-gusan" yang entah anak Kyai dari mana, tiba-tiba blusukan bawa "ransel" naik SUV edisi teranyar.
Ah, tapi sudahlah. Bagaimanapun, konon Pemilu adalah pesta demokrasi, terutama pestanya para makelar politik.
Kyai itu harus kaya!!
Imam As Syadzili adalah Sufi terkemuka yg sangat kaya raya, pakaian2nya mewah, kereta kencananya mewah, punya kebun anggur dsb, banyak Khadamnya, bahkan ada yg hanya bertugas untuk menuangkan teh pada tamu2nya.
Suatu hari, Abul Abbas Al Mursy, seorang murid kinasihnya, yg kelak menjadi guru Ibnu Athaillah Al Askandari, Kata Abul Abbas, "Wahai guruku, engkau ini Sufi, bahkan Qutbul Minal Aqtobil Ar`abah, kenapa pakaiannya sangat mewah, penampilannya seperti pengusaha, seperti konglomerat? Padahal banyak Sufi lainnya yg pakaiannya ala kadarnya"
Lantas Imam As Syadzili menjawab "Ya Abal Abbas, pakaian saya ini bisa bicara, " Ya Ayyuhannas, Ana ghani fala tarhamuni". Saya kaya, maka jangan kau kasihani saya.
Jika kemudian kita diberi Fadhal untuk menjadi panutan Ummat, memberi pengajian kepada Ummat, kepada santri, punya lembaga, kita sudah Ndak tolah toleh kemana2, Ndak minta dikasihani orang lain, ndak ngarep amplop pas ngici pengajian, malah bisa ngurip2i lembaga, ngidupin ustadz2nya, santri2nya, murid2nya.
Mugo2 kita smua punya harta yg cukup, bisa manfaat untuk sekitar, ngidup2in ummat disekitar kita, Amien ...
Saya hanya ingin mengetuk kesadaran @KemenBUMN . Sejak dulu saya dan beberapa teman berteriak ketika ada pendakwah beraliran Wahabi atau pengusung Khilafah yang anti Pancasila berceramah di PLN, Telkom, Pertamina atau di Badan Usaha penting milik negara lainnya.
Banyak karyawan BUMN, Kementerian dan Lembaga negara hari ini yang mengharamkan Pancasila tapi menyuapkan makanan kepada diri dan anak istrinya dari "Gaji Pancasila".
Mereka sadar, sangat sulit untuk melakukan makar atau revolusi terhadap negara ini. Maka yang mereka lakukan adalah dengan "kudeta perlahan" melalui pengendalian lembaga-lembaga vital milik negara. Mereka berusaha menggelembungkan populasinya dengan harapan bisa mengendalikan negara ketika mereka sudah menduduki posisi "decision maker" di setiap entitas yang mereka kuasai.
Jurus awal mereka adalah; menguasai pusat kajian keagamaan di setiap lembaga tersebut dengan mendatangkan pendakwah-pendakwah agama yang memiliki resiliensi ideologi yang sama dengan mereka. Semisal pendakwah Wahabi, Hizbut Tahrir atau Ikhwanul Muslimin.
Penangkapan tersangka teroris DE alias Danan alias Abu Nibras yang merupakan karyawan @KAI121 kemarin, bukan lah satu-satunya di BUMN. Masih banyak lagi yang selama ini bergerak diam-diam di berbagai institusi penting negara.
Perlu keseriusan dari mas @erickthohir dan stake holder lainnya untuk menyelesaikan ini. Indonesia punya Densus 88 yang bisa diajak kerjasama dan dilibatkan untuk menyelesaikan sengkarut persoalan radikalisme di BUMN. Densus 88 bisa mencegah, assesment dan bisa juga menangkap. Jangan menunggu sampai kelompok ini betul-betul beraksi di lapangan.
Saya kira membersihkan kelompok radikal ini adalah tekad pak @jokowi sejak 2014. Karena beliau paham, satu orang saja berhasil melakukan teror, bisa runtuh ekonomi satu negara dalam sekejap.
Kita bisa bayangkan efek terornya andaikata orang-orang sejenis DE ini sudah menyusup ke badan usaha penerbangan, kereta api, distribusi BBM, listrik, telekomunikasi hingga lembaga keuangan. Jangan pernah menganggap sepele persoalan "radikal radikul" ini.
Tersangka DE alias Danan adalah alumni SMK 7 Bale Endah, Bandung (2012). Anda yang kenal dengan dia dan keluarganya di Bandung, pasti paham seperti apa tafsir agama yang diyakininya, hingga membuat Danan ingin mati syahid dengan berniat berangkat ke Suriah atau menyerbu Markas Brimob...
Orang tuamu bangga nak..
"Shevia Puspita Sari"
Putri dari Sahabat Sucipto, BAGANA Satkorcab BANSER PC GP Ansor Gorontalo.
Hari ini Tgl 17 Agustus 2021,Bertugas menjadi salah satu anggota Paskibraka Pengibar bendera Pusaka Merah Putih di Istana Negara.
@Official_Ansor#HutRi76
Dan lagu Yalalwathon (Cinta Tanah Air) pun berkumandang di negeri Mesir
Pembukaan DTD (Diklat Terpadu Dasar) Ansor Banser Pimpinan Cabang Mesir, di Hall Markas Bahasa Al Azhar University Cairo Egypt, 17-18 Juli 2019.
#DTDAnsorBanserMesir
https://t.co/8RCldzvWJA
#KRINanggala402
terimakasih telah bersedia menjaga bangsa hingga titik terdalam samudra.
pada bulan puasa semoga segala lelah dan letih Allah balas dengan Surga.