Presiden terdahulu klo market ancur, rupiah melemah, dan rakyat udah berisik bakal cepet ditangani problemnya.
2013 parah banget rupiahnya tapi pak SBY take action jg saat itu jadi bisa ternetralisir
2015 budget berantakan parah, trus Pak Jokowi take action jg dengan manggil balik bu SMI.
2018 berantakan karena tariff Trump dan BI berani pre-emptive rate hike dan pemerintah adjust anggaran juga
Baru kali ini market ancur hampir 40% dan rupiah melemah terus tapi gak ada respon serius. Masih nyalahin BI, masih glorifikasi MBG, masih anti kritik tentang plesir ke LN, dll.
Problemnya itu. Global economy gk lagi baik2 aja. Spekulasi pasar saham gila2an dan credit issue mulai muncul. Kalau gaya kerjanya masih kayak gini.
Gw gak paham lagi mau seberapa hancur rupiah dan IHSG ketika nanti kejadian.
dino patti djalal ini bukan orang sembarangan. beliau mantan dubes ri untuk as, mantan wamenlu, dan anak dari diplomat legendaris hasyim djalal.
jadi kalau dino ngomong soal adanya 17 calon dubes asing yang masih nunggu serah surat kepercayaan ke presiden, itu bukan gosip. itu fakta dari daleman.
bayangin, ada yang udah nunggu 8 bulan. ada juga dubes dari negara asean yang nunggu 6 bulan. mereka udah di jakarta, tapi belum bisa mulai kerja. karena mentok di meja istana.
sementara dubes indonesia di luar negeri selalu cepat diterima. ini double standard yang mulai dibaca mitra internasional.
seorang diplomat senior sekelas dino sampai buka suara ke publik, artinya kondisi ini sudah parah. beliau bahkan sudah coba semua jalur komunikasi. macet.
ini bukan cuma masalah protokol. ini masalah reputasi. indonesia sedang dikirim sinyal: "kita gak serius sama hubungan bilateral."
lucunya, presiden dan seskab sibuk klarifikasi soal biaya perjalanan dinas yang katanya ditanggung pribadi. tapi urusan sepenting ini malah diem.
ngapain keliling dunia cari investasi, kalau dubes negara sahabat aja bertahun-tahun gak diterima?
apalagi tinggal di luar jakarta (especially luar jawa) trus akhirnya ngerantau dan bergaul sama temen yang born and raised di sana. Oh lu makin tau seberapa berpengaruhnya akses informasi dan peluang ke pola pikir, tumbuh kembang otak, mental, & cara bersosialisasi even bermimpi
Banyak yang bilang beliau selalu menghindari shalat jamaah macam shalat Tarawih, Idul Fitri, dan Idul Adha bersama masyarakat.
Alasannya selalu bertepatan dengan agenda kunjungan ke luar negeri.
Kupikir itu masih normal. Tapi setelah lihat video ini kok saya agak garuk kepala.
Kita dilarang memilih pemimpin non muslim, tapi bagaimana kalau muslim tapi dipertanyakan keislamannya?
Guys, Bu Rani Anggrini Dewi konselor pernikahan 25 tahun lebih, sudah menikah 44 tahun bilang sesuatu yang menurut gua adalah penjelasan paling nyesek yang pernah gua dengar tentang kenapa banyak perempuan menyesal setelah menikah.
Dan ini bukan opini.
Ini dari orang yang setiap hari duduk berhadapan dengan pasangan-pasangan yang pernikahannya sedang hancur.
Jawabannya satu kalimat
mereka masuk ke pernikahan
tanpa tahu siapa diri mereka sendiri.
Dan begitu mereka masuk
semua yang membentuk identitas mereka sebelumnya karir, mimpi, ambisi,
pengembangan diri pelan-pelan hilang.
Bukan karena dirampas.
Tapi karena struktur pernikahan
yang mereka masuki memang tidak dirancang
untuk menampung itu semua.
Bu Rani bilang polanya sangat konsisten dari ribuan kasus yang dia tangani.
Perempuan menikah.
Anak lahir.
Semua fokus beralih ke peran sebagai ibu dan istri.
Pengembangan diri berhenti.
Dan di suatu titik entah dua tahun kemudian atau sepuluh tahun kemudian mereka bangun dan bertanya siapa saya sekarang?
Saya sudah S1,
saya pernah kerja,
saya punya mimpi.
Sekarang saya cuma masak
ngurus anak, dan menunggu suami pulang.
Dan yang membuat ini sistemik dan bukan hanya nasib buruk individu adalah satu fakta yang Bu Rani sebut dengan sangat tegas orang tua Indonesia sekarang sudah sadar untuk menyiapkan anak perempuannya.
Mereka kirim ke universitas terbaik.
Dorong untuk berkarir.
Ajarkan untuk mandiri secara finansial.
Tapi mereka lupa menyiapkan anak laki-lakinya.
Hasilnya adalah collision yang tidak bisa dihindari. Perempuan yang sudah berkembang menikah dengan laki-laki yang masih membawa mindset bahwa suami harus dilayani, urusan rumah tangga dan anak adalah urusan istri, dan suami harus selalu lebih tinggi dari istri dalam segala hal.
Dua orang dengan level perkembangan yang sangat berbeda masuk ke satu institusi.
Dan perempuannya yang selalu diminta untuk menyesuaikan diri ke bawah bukan laki-lakinya yang didorong untuk naik ke atas.
Dan ini yang paling menyakitkan dari seluruh cerita ini. Banyak perempuan yang menyesal bukan karena suaminya jahat.
Bukan karena pernikahannya penuh kekerasan.
Tapi karena perlahan-lahan tanpa ada satu momen dramatis yang bisa ditunjuk sebagai titik balik mereka kehilangan diri mereka sendiri.
Dan begitu mereka sadar bahwa yang hilang itu tidak bisa dikembalikan oleh siapapun termasuk oleh suami yang mencintai mereka itulah penyesalan terdalam yang Bu Rani temui dalam kasusnya setiap hari.
perempuan yang menyesal setelah menikah bukan perempuan yang salah pilih pasangan.
Mereka adalah perempuan yang masuk ke struktur yang tidak pernah dirancang untuk menampung mimpi mereka.
Dan selama struktur itu tidak berubah selama anak laki-laki tidak disiapkan dengan cara yang sama dengan anak perempuan angka penyesalan itu tidak akan turun.
asumsi yg sebelumnya menyatakan bahwa program ini, program menyiapkan kemenangan tahun 2029 (warga dibuat miskin, pendidikan diacak-acak, setiap wilayah pemenangan punya modal banyak untuk memanipulasi mereka yg pra-sejahtera dan bodoh) menjadi sesuatu yg tidak mungkin kita tidak percaya.
Aku baru baca ini,
Hasil survey dari Policy Research Center (Porec)
Judulnya "Siapa yang diuntungkan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG)"
Silahkan kita baca hasil penelitiannya, yang sebenernya hasilnya tidak mengagetkan namun melegitimasi dan mengkonfimasi asumsi kita.
Gue punya temen yang pertama kali merantau ke Jakarta, dia masuk kerja di salah satu kantor di pusat kota.
Hari pertama, dia langsung ngerasa salah tempat.
Bukan karena dia nggak kompeten, tapi karena lingkungannya beda banget.
Orang-orang di kantornya ngomong campur Inggris, santai bahas kuliah di luar negeri kayak University of New South Wales atau Monash University, seolah itu hal biasa.
Sementara dia?
Dari kampus daerah, nongkrongnya dulu kopi sachet, mainnya kartu sama temen-temen.
Kontrasnya kerasa banget.
Hari pertama aja dia udah minder.
Dia cerita ke gue, Gue ngerasa paling nggak nyambung di ruangan itu.
Bahkan hal simpel kayak nanya kuliah di mana bisa jadi awkward, karena jawabannya beda dunia.
Dia sempet mikir kalau dia kurang pintar, kurang keren, bahkan sempet kepikiran apa gue nggak pantes di sini ya?
Tapi makin lama dia mulai sadar sesuatu yang cukup nendang.
Ternyata bukan dia yang kurang tapi banyak dari mereka emang udah punya start lebih dulu.
Dari SMA udah di luar negeri, udah biasa presentasi, udah terbiasa ngomong dengan cara yang terdengar pintar.
Jadi pas masuk kerja, mereka keliatan langsung siap. Sementara temen gue?
Baru belajar semua itu dari nol di dunia kerja.
Yang bikin dia makin kaget, ada beberapa orang yang keliatannya santai banget, kerjanya nggak terlalu keliatan, tapi posisinya aman.
Setelah dia cari tahu pelan-pelan, ternyata background keluarganya bukan kaleng-kaleng.
Dari situ dia mulai ngerti, di Jakarta itu bukan cuma soal kerja keras tapi juga soal lu mulai dari mana.
Dia juga pernah cerita pengalaman lain yang bikin dia makin kebuka matanya.
Pernah dia kerja di tempat yang secara logika bisnis nggak masuk akalnggak jelas profitnya, tapi tetap jalan terus.
Dia sampe nanya ke seniornya, ini kok bisa hidup ya? Jawabannya simpel, “Udah, nggak usah dipikirin.
Beda dunia.
Di situ dia sadar, buat sebagian orang, kerja atau bisnis itu bukan buat bertahan hidup, tapi cuma aktivitas
Tapi justru dari semua itu, yang paling berubah dari dia bukan skill teknis tapi cara dia melihat diri sendiri. Awalnya dia minder, ngerasa kecil.
Tapi lama-lama dia mulai ngerti
dia mungkin nggak punya privilege yang sama, tapi dia punya daya tahan yang nggak semua orang punya. Dia terbiasa adaptasi, belajar dari nol, dan itu pelan-pelan jadi kelebihan.
Sekarang, setelah beberapa tahun, dia bilang ke gue satu hal yang cukup pedas tapi jujur
Di Jakarta, lu bakal ketemu orang yang keliatan jauh di atas lu.
Tapi bukan berarti mereka lebih hebat kadang mereka cuma mulai lebih dulu.
Tugas lu bukan ngejar mereka, tapi jangan berhenti jalan.
Dan menurut gue itu poin paling real dari merantau.
Jujur, Pemerintah Indonesia ini gak punya "sense of crisis"
Dunia lagi krisis minyak
Indonesia tenang-tenang saja
Kebijakan yg sudah dibuat sampai saat ini:
- WFH PNS satu hari
- Matikan kompor gas klo masakan udah matang
- Sekolah gajadi daring karena bingung nanti MBG gimana bagiinnya
Menurut kalian sampai kapan kita bisa santai seperti sekarang?
Anaknya diberi makan, orangtuanya hilang pekerjaan. Walhasil satu keluarga terjaga dalam kemiskinan dan ketergantungan.
Kelak begitu musim pemilu tiba, suara mereka bisa dibeli dengan mudah. Itu pun dengan harga murah.
Demikian si bengis melanggengkan kekuasaannya. Di Somalia.
Negara ini bisa bertahan dgn kondisi yg gini2 aja (korup dan tertinggal) tanpa perubahan selama puluhan tahun, bukan karena pemimpinnya buruk. Tapi karena masyarakatnya pengecut, pemalas, sukanya pasrah krn terlalu percaya pertolongan Tuhan akan datang dengan sendirinya.
Negara agraris, tapi hasil pertanian byk impornya, petani miskin.
Negara maritim, tapi lautnya dicemari dan dieksploitasi.
Negara mayoritas Islam, tapi kelakuan pejabat tdk sesuai ajaran Islam.
Negara kaya SDA, tapi rakyatnya tambah miskin, elit tambah kaya.
Indonesia waktu itu hampir jadi penguasa parfum dunia.
Diplomasi Soekarno dan Soebandrio bikin Soviet kirim insinyur Bulgaria untuk bangun pabrik essential oil terbesar se-Asia di Karanganyar.
Indonesia punya 30ribu jenis tanaman bahan parfum. Soviet pengen dorong industrialisasi minyak wangi.
Waktu itu syarat Soviet adalah semua pekerja harus tergabung ke serikat buruh. Tentu sebagian besarnya anggota aktif PKI dan partai buruh tani.
1965 meletus, Insinyurnya disuruh pulang sama Soviet. Pabrik batal dibangun.
Kita kehilangan potensi besar ini.
Aku Ahli Gizi, dan mau jelasin kenapa banyak menu MBG Ramadhan "tak layak dan tak bergizi"
Padahal studi Celios mendata 24% Pengawas Gizi itu kerja lebih dari >14 jam sehari. Alias kok bisa overwork tp menu jelek??
Biar adil, tau fakta di lapangan.
Suamiku bukan PNS tapi aku harus ikut Dharma Wanita karena aku PNS. Yang paling kasian lagi adalah istri tentara yg juga jadi PNS. Jadi persit + DWP. BELUM KALAU DI RUMAH ADA PKK. PKK ini harus direvitalisasi karena asumsi yg mendasarinya adalah pemberdayaan perempuan (yg mana kita sudah kerja + sekolah tinggi, masihkah dibilang kurang berdaya? Apakah kita hanya dianggap berdaya jika kita rajin arisan dan piket bersih-bersih TOGA?). Tatalaksana keluarga & rumah tangga itu tanggungjawab suami-istri. Sebelnya lagi, kalau bapak² ada acara, pasti ngrepotin ibu² PKK urusan konsumsi
ada riset bagus banget, bahas ttg perempuan. ditulis oleh sejawat mindos dosen UI,
@kpertiwi29 PhD & Fitri H. Oktaviani alumni Unbraw.
dipublikasikan di laman @ConversationIDN.
mindos berikan secuil rangkumannya, sisanya baca sendiri. Jangan kayak gibran, ga suka baca.
• Meskipun jumlah diplomat perempuan terus meningkat, dunia diplomasi Indonesia ternyata masih terjebak dalam praktikh ibuisme negara
• Warisan budaya Orde Baru yang kaku membuat banyak diplomat perempuan maupun istri diplomat tetap dibebani ekspektasi domestik, seperti mengurus konsumsi atau tampil sebagai "ibu ideal" dalam acara sosial.
• Fenomena ini disebut sebagai kekerasan simbolis, di mana peran profesional perempuan sering kali tersisih oleh tuntutan peran tradisional yang dianggap wajar, padahal hal tersebut justru melanggengkan ketimpangan gender di lingkungan kerja yang maskulin.
• Hasil riset menunjukkan bahwa punya latar belakang pendidikan tinggi atau posisi elite ternyata tidak menjamin perempuan bebas dari hambatan struktural ini.
• Oleh karena itu, sekadar menambah jumlah keterwakilan perempuan saja tidaklah cukup jika budaya organisasinya tidak dirombak.
• Kementerian Luar Negeri perlu melakukan audit gender yang mendalam dan membentuk satgas khusus agar standar ganda ini hilang, sehingga perempuan bisa berkarya sepenuhnya berdasarkan kompetensi profesional mereka tanpa harus dibatasi oleh label domestik atau tuntutan sosial yang bias gender.
Makin banyak perempuan di sebuah institusi ≄ ketimpangan gender 💔
Ideologi ibuisme yang lahir dari era Orde Baru, masih dipelihara sampai sekarang.
Dharma Wanita Persatuan, Bhayangkari hingga PKK masih terus berjalan dengan dalih mendukung kinerja suami.
🧵
Gajiku 76jt/bulan sebagai konten kreator dan bekerja, istriku gajinya 37jt/bulan sebagai IRT dengan sampingan jualan online. Bulanan uang hanya kepakai 5-6jt buat kebutuhan, sebulan sekali staycation di luar kota, kadang kuar negeri kalo lagi ada promo. Tabungan pensiun udah terkumpul hampir 5,5M. Beli rumah cash tanpa riba. Mobil udah punya dan mobil listrik juga kebeli. Di umur 30 thn an ngerasain slow living di Di jepang rasanya nyaman sekali. Anak-anak bisa sekolah di sekolah favorit.