โ Biromantic
โ Workaholic-perfeksionis
โ H 189cm
โ Artist but not far-idealism
โ loyal dan empati
โ Ambisius tapi ber-Attitude
โ Masalah Saraf sampai ga bisa ngendarain motor
โ satset, cut off, lugas & nyelekit
โ jujur & terbuka
โ skala prioritas
Baru sidang pertama sudah kelihatan posisi hakim yg tak netral dan JPU yg masuk angin.
Ternyata kenaikan gaji hingga 300% tak membuat mereka untuk benar.
โผ๏ธLagi-Lagi Jawa Baratโผ๏ธ
Telah terjadi penolakan di Rumah Doa Kristen, di sebuah perumahan yang dibangun oleh developer perumahan yang juga berprofesi sebagai seorang Pendeta. Rumah Doa tersebut telah berdiri selama kurang lebih tiga tahun dan melayani sekitar 40 Kepala Keluarga (KK). Konflik muncul pada tahun kedua ketika jemaat mengalihkan kegiatan ibadah mereka dari hari Rabu menjadi hari Minggu, yang memicu penolakan dan aksi demonstrasi dari warga yang tidak menerima adanya ibadah umat Kristen di lokasi tersebut.
Menanggapi demonstrasi tersebut, sang Pendeta segera mengurus perizinan resmi agar tempat tersebut sah terdaftar sebagai Rumah Doa, bukan sebagai Gereja. Meskipun izin resmi akhirnya berhasil diterbitkan sekitar dua bulan yang laluโyang seharusnya memberikan kebebasan bagi jemaat untuk beribadah pada hari Minggu dan Rabuโpenolakan dari massa ternyata tetap berlanjut. Bahkan pada hari Rabu sebelumnya, massa kembali mendatangi lokasi dan menuntut agar Rumah Doa tersebut segera ditutup, hingga petugas TNI dan Satpol PP harus turun tangan untuk mengamankan situasi.
Situasi sempat semakin memanas ketika massa kembali datang dan mengancam akan membakar Rumah Doa jika tempat ibadah tersebut tidak segera ditutup. Developer perumahan (Pendeta) sebenarnya juga telah menghibahkan sebidang tanah secara gratis untuk membangun sebuah masjid di kawasan perumahan yang sama.
Source: IG https://t.co/h0ruF13y0g_
TEROR DAN INTIMIDASI TERUS BERLANGSUNG
Saya tidak pernah membayangkan bahwa sebuah niat baik dapat berakhir menjadi beban yang begitu panjang dan berat.
Semua bermula dari sebuah ikhtiar sederhana. Sesama perempuan, sesama ibu, kami membangun sebuah usaha dengan harapan dapat saling menguatkan. Tidak ada niat buruk. Tidak ada keinginan mengambil hak orang lain. Yang ada hanyalah keyakinan bahwa kami bisa bertumbuh bersama.
Lalu pandemi COVID-19 datang.
Seperti jutaan usaha lain di negeri ini, usaha yang kami bangun pun runtuh. Bukan karena kami tidak bekerja keras, tetapi karena keadaan berubah begitu cepat sehingga banyak hal berada di luar kemampuan kami untuk mengendalikannya.
Dalam dunia usaha, untung dan rugi adalah bagian dari risiko yang diketahui semua orang. Namun saya tidak pernah ingin meninggalkan tanggung jawab. Karena itulah saya memilih jalan yang mungkin tidak mudah. Saya tetap berusaha mengembalikan dana yang sudah ditanam sedikit demi sedikit, sesuai kemampuan yang saya miliki.
Saya percaya bahwa integritas bukan diukur ketika hidup sedang mudah, tetapi ketika seseorang tetap memegang janjinya di tengah kesulitan.
Namun perjalanan hidup ternyata membawa saya ke ujian yang jauh lebih berat.
Ketika saya akan maju ujian seminar hasil di suatu pagi malah gelap, tetiba polisi menangkap dan meneror dengan brutal. Kini, ketika saya baru menjalani wajib lapor pertama dan seluruh tim penasihat hukum telah siap menghadapi persidangan yang akan dimulai pada 2 Juli 2026, pada saat yang hampir bersamaan saya kembali menerima penetapan penyitaan apartemen saya, hanya akibat dana usaha kecil-kecilan yang padahal sudah saya cicil sedikit demi sedikit.
Sebagai manusia, saya tentu bertanya dalam hati mengapa berbagai peristiwa besar itu selalu datang tepat pada saat-saat yang sangat menentukan dalam hidup saya. Saya tidak ingin berspekulasi mengenai alasan di balik semuanya. Saya hanya dapat menyampaikan apa yang benar-benar saya alami.
Yang paling berat bukanlah apartemen itu sendiri.
Yang paling berat adalah ketika anak saya, yang sama sekali tidak mengetahui apa pun tentang persoalan orang tuanya, harus membuka pintu rumah dan menyaksikan proses penyitaan itu berlangsung. Sebagai seorang ibu, tidak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat anak ikut memikul beban yang bukan miliknya.
Namun saya tidak akan membiarkan semua tekanan itu mengubah siapa diri saya.
Saya tetap percaya bahwa tanggung jawab harus diselesaikan dengan tanggung jawab. Saya tetap percaya bahwa hukum harus dihormati. Dan saya tetap percaya bahwa kebenaran harus diperjuangkan melalui cara-cara yang bermartabat.
Karena itu, kepada seluruh sahabat dan para pejuang yang selama ini berjalan bersama saya, saya ingin menyampaikan satu hal.
Jangan biarkan berbagai tekanan yang saya alami hari ini melemahkan semangat kita untuk terus mencari dan memperjuangkan apa yang kita yakini sebagai kebenaran. Saya tidak meminta siapa pun membela saya sebagai pribadi. Yang saya harapkan hanyalah agar semangat untuk menjunjung kejujuran, integritas, dan keberanian tidak pernah padam.
Saya akan tetap berdiri dengan kepala tegak.
Tekanan boleh datang silih berganti. Cobaan boleh datang bertubi-tubi. Tetapi keyakinan saya tidak akan runtuh.
Selama hati nurani masih memanggil saya untuk memperjuangkan apa yang saya yakini benar, saya tidak akan mundur.
Karena pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang paling kuat menghadapi badai. Sejarah juga mencatat siapa yang tetap memilih berdiri tegak ketika badai itu datang.
Berapa jahatnya berita yang beredar yang tidak sesuai dengan fakta yang sesungguhnya.
Setelah ancaman, teror, bujukan restorative justice, rayuan Rp 50 miliar tidak mempan, sekarang yang dilakukan adalah fitnah mempermalukan, untuk melemahkan mental saya menghadapi Sidang 2 Juli 2026.
Hasbunallah wani"mal wakil
Nimal maula wani'man nashiir.
La haula wala queeata illa billah.
Apa alasan takut sidang LIVE?
Saya diperiksa berkali-kali ke POLDA tidak pernah absen, saya tidak takut!
Saya di suruh wajib lapor seminggu sekali berbulan-bulan, saya tidak takut!
Saya ditangkap secara tidak manusiawi lalu dijebloskan ke sel tahanan saya tidak takut!
Saya dijadwalkan sidang, saya InsyaAllah akan datang saya tidak takut!
Saya pakai baju orange saja tidak takut!
Lalu siapa yang rencana mau ngumpet dari kamera LIVE ini???
Justru homofobia lah yang merupakan pendatang, homofobia bukanlah budaya kita, kolonialisme, orba dan pengaruh agama abrahamik yang memupuk subur homofobia di indonesia.
Sebelum itu masyarakat kita sudah terkenal dengan keberagaman suku, bangsa, bahasa dan budayanya, begitu pula ragam seksualitas bukanlah hal sulit untuk diterima, bahkan memiliki tempat dalam ritual adat serta spiritualitas masyarakat setempat.
Di konser hindia mikirin boti, di aksi kamisan yang literally aksi kemanusiaan fokusnya tetep boti.
Homofobik tuh aslinya punya masalah psikologis delusional, yang harusnya berobat bahkan direhab tuh kalian.
Ketakutan dan kebencian kalian itu ga rasional tapi kalian ga sadar, apa lagi kalo bukan gangguan psikologis?
mending ke pskiater sebelum merugikan orang lain.
Lagi di kereta, biasa menghindari suara orang2 dengan earphone, trs terpikir, "andaikata listrik mati, susah ini itu, suara2 itu harus biasa didengar, ga ada artis yg nyanyi untukmu seorang, kecuali kalau kita tuli" langsung terdiam. Mikir. Sesimpel ini aja dealingnya kyk serius.
Peringatan dilarang merokok pakai bahasa Indonesia di ximending Taipei Taiwan.
Artinya apa?
Yak yang suka merokok di sana ya orang Indonesia.
Malu gak?