Ini merupakan kegiatan reguler dari komunitas teater Siapa Kita. Asbak berisi perayaan, kontemplasi, refleksi, dan kreativitas seni. Di edisi kelima ini, komunitas teater Siapa Kita mengusung tema sentral “Orang Asing!”
IUCN menetapkan status komodo dari yang awalnya vulnerable (rentan) menjadi endangered (terancam punah). Aktivis menilai pembangunan pemerintah yang serampangan akan mempercepat punahnya komodo. cc: @SunspiritFlores@KawanBaikKomodo
https://t.co/4Hc1utNmBO
Tidak terima dikritik warga sbg pelaku "Kejahatan Lingkungan" jika tetap memaksakan pembangunan hotel2 di dlm habitat Komodo, baiklah kita cari istilah yg "santun" u @KementerianLHK
KLHK = PAGAR MAKAN TANAMAN. Bukannya melindungi sesuai mandatnya, KLHK malah merusak TN Komodo.
Peringatan UNESCO agar pembangunan lokasi wisata Taman Nasional Komodo, di NTT, dihentikan, karena dikhawatirkan melanggar prinsip dasar konservasi, membuka kembali polemik seputar desain pembangunan industri wisata di kawasan konservasi itu.
https://t.co/hh0RPNqDxI
Selain skema penghapusan hutan menjadi “kawasan bukan hutan” & izin usaha pemanfaatan jasa lingkungan wisata alam (IUPSWA), jg memperlihatkan skema PMA juga skema PMDA di atas lahan
400 ha, penyangga kota Labuan Bajo.
Baca: https://t.co/hUT7I5UB0C
𝐊𝐚𝐛𝐚𝐫 𝐛𝐚𝐢𝐤 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐓𝐚𝐦𝐚𝐧 𝐍𝐚𝐬𝐢𝐨𝐧𝐚𝐥 𝐊𝐨𝐦𝐨𝐝𝐨.
Gelombang protes publik terhadap pembangunan yang mengancam konservasi Kawasan Taman Nasional Komodo kini mendapat respon serius dari UNESCO.
𝗦𝗤𝗨𝗔𝗗 𝗙𝗪𝗙
Mari berkenalan dgn orang2 baik di balik Flores Writers Festival [03].
Mulai hari ini kita akan berkenalan dgn kakak2 Tim Kurator Flores Writers Festival. Kurator kita yang pertama, ada Kaka Armin Bell @mencariayam. Siapa dia? Intip profilnya berikut ini.😉
𝗦𝗤𝗨𝗔𝗗 𝗙𝗪𝗙
Mari berkenalan dengan orang2 baik di balik Flores Writers Festival.
Hari ini ada Kaka Ronald Susilo. Pada perhelatan ini, beliau dipercaya sebagai Direktur Festival yg memiliki tugas utama mengarahkan seluruh program dan pelaksanaan Flores Writers Festival.
Tidak perlu berpanjang kata, Admin sarankan teman2 langsung cek materi yang baru diunggah ini karena informasinya sangat menarik, penting, dan yang pasti ADA HADIAHNYA.....
Siapa yang mau jalan2 gratis ke Ruteng?Yuhuuuu.....
Silakeun tautan formulirnya: https://t.co/VCgZyIRu8k
*UTAS*
Bagaimana Flores, peta samar dalam sejarah sastra dan literasi (secara ideal) memetakan diri?
Simak selengkapnya Kerangka Kuratorial Flores Writers Festival dari kakak-kakak Tim Kurator Flores Writers Festival berikut ini...
Berapa banyak generasi milenial di NTT yang tahu bahwa di Flores pernah beroperasi percetakan dan penerbit yang amat signifikan di masanya? Barangkali bisa hitung pakai jari.
Aktivitas-aktivitas kepenulisan dan penerbitan di Flores hari-hari ini adalah jalan sunyi di antara perkembangan isu lainnya, termasuk mulai tumbuh dan maraknya iklim literasi dan kesusastraan dalam konteks yang paling dekat dengannya: NTT.
Logo Flores Writers Festival diciptakan oleh TYO,
seorang kawan baik, yang juga mengerjakan logo Komunitas @bukubagiNTT di tahun 2014. Kecintaannya pada Flores dan kepeduliannya pada literasi di NTT, akhirnya menghantarkan kami pada kerja kolaborasi yang luar biasa lagi kali ini.
Dengan gembira kami persembahkan 𝗙𝗹𝗼𝗿𝗲𝘀 𝗪𝗿𝗶𝘁𝗲𝗿𝘀 𝗙𝗲𝘀𝘁𝗶𝘃𝗮𝗹 𝟮𝟬𝟮𝟭: 𝗟𝘂𝗱𝘂𝗻𝗴 𝗪𝗮 𝗠𝗮𝗶 𝗧𝗮𝗻𝗮𝗻.
Festival ini diprakarsai oleh @klubbukupetra dan pada perhelatan yang pertama ini didukung oleh BPOLBF.
Selengkapnya: https://t.co/t2XGliiVXI
Covid di Jawa sedang menggila, lalulintas manusia dari Jakarta dan Surabaya ke Labuan Bajo dibuka lebar, @bpolbf dan @kemenparekraf getol promosi “workfromlabuanbajo” (yg entah artinya apa), turis tidak taat protokol kesehatan.
Dalam kosmologi masyarakat Manggarai, Flores, NTT ada konsep “Tana Mbate”. Orang menerjemahkannya sbg “tanah warisan”. Itu tdk sepenuhnya tepat. Tana Mbate adl tanah yg kita terima dari leluhur yg kita harus jaga karena akan kita wariskan kepada generasi-generasi berikutnya.
Pernah dengar lagu ini?
#VoiceFromLabuanBajo#SelamatkanHutan
Video dari acara Apresiasi Seni Bersama Komunitas Orang Muda Labuan Bajo: Bangkit untuk Hutan Bowosie
Semalam ada 2 acara besar di Labuan Bajo. Pertama, Anugerah Pariwisata Indonesia. Digelar di Hotel BUMN Inaya Bay, dihadiri Bupati Gubernur, dll.
Kedua pentas Seni & Budaya "Selamatkan Hutan Bowosie" oleh anak2 Muda L Bajo. Digelar di Lancang. Serasa Davos vs Porto Alegre.
Seperti ‘desing peluru tak bertuan,’ penggalan bait senandung ‘Sunset di Tanah Anarki’ karya @SID_Official, begitu kira2 rencana pembangunan pariwisata di Hutan Bowosie serta kebun & tanah rumah warga. Tanpa pemberitahuan. Menghujam hati. Menguras waktu. Hari pun tak benderang.