UPDATE: Daycare Little Aresha, Jogja
- Dari 149 anak yang diperiksa: 18 anak mengalami masalah gizi kurang (berat badan kurang/underweight). Masih tahap awal, belum masuk kategori gizi buruk.
- Dari 153 anak yang diskrining tumbuh kembang: 12 anak mengalami penyimpangan perkembangan (termasuk speech delay, gejala autisme, ADHD), 19 anak kategori meragukan, & sisanya normal.
Itu laporan dari Pemkot Yogyakarta tentang hasil pemeriksaan kesehatan terhadap anak2 korban penelantaran di Daycare Little Aresha. Anak2 tersebut saat ini mendapat penanganan lanjutan di Puskesmas berupa suplemen gizi, makanan tambahan, & pemantauan intensif oleh dokter spesialis anak.
Cepat pulih ya, dedek2 balita ๐ญ๐คฒ๐
Gimana kabar para tersangka?? hmmm ๐ค
faktanya banyak lulusan ilmu murni dan terapan yang nggak bisa jawab tantangan dan kebutuhan industri. Come on, Sir.
Ayo kita akui bersama bahwa riset akademik di RI jarang punya orientasi menjawab masalah pada ranah praktikal alias hanya jago di lembar jurnal.
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran.
Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini.
Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap โtidak bergunaโ, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan.
Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja.
Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya.
Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia.
Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap โtidak praktisโ.
Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal.
Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;)
Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan.
Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa.
Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri.
Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok.
Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
Hot issue.
Dari POV UPPS yang dicurhati stakeholders industri, mahasiswa, alumni, dan orang tua, isu ini blessing in disguise untuk memaksa dosen-dosen upgrade pemahaman soal industri.
Indonesia saat ini butuh industrialisasi untuk mengejar iklim ideal ilmu murni.
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya mendorong Presiden RI Prabowo Subianto memanfaatkan Board of Peace (BoP) untuk menciptakan perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Maka dari itu, dia pun mendorong pemerintah untuk mencari celah untuk memanfaatkan keanggotan dalam Board of Peace dalam mewujudkan perdamaian.
Sebelumnya diberitakan, mantan Menteri Luar Negeri (Menlu), Hassan Wirajuda mengatakan Presiden RI Prabowo Subianto akan mengevaluasi keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) menyusul eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.
Hal itu disampaikan Hassan usai menghadiri pertemuan dengan Presiden Prabowo dan mantan presiden-wakil presiden di Istana Merdeka, Jakarta Pusat pada Selasa, 3 Maret 2026 malam. Hassan menyebut evaluasi terhadap keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace diperlukan mengingat dinamika situasi di lapangan terus berkembang.
Baca selengkapnya disini: https://t.co/jk7j6JM0sS
now I ask you
1. gimana kalau ternyata Epstein document itu adalah semacam alat kontrol dominasi US secara global?
2. gimana kalau R20 2026 itu adalah kendaraan US untuk memenangkan hati Global South dg image anti-sekuler dan pro-faith?
Ada tokoh bilang bahwa gabungnya Indonesia ke BoP ini adalah aksi nyata Indonesia di platform internasional untuk perdamaian di Palestina.
Apa pernyataan beliau itu benar sesuai fakta?
Habis "kapitil" terbitlah "Tailan"
Ya, betul saudara2. Per Mei 2025, nama resmi Thailand berubah menjadi Tailan dalam bahasa Indonesia.
Ini adalah keputusan yang dibuat oleh BIG (Badan Informasi Geospasial) setelah berkonsultasi dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementrian Luar Negeri, dan eksper (ya, ini baku saudara2) dari Fakultas Ilmu dan Budaya Universitas Indonesia.
Sikap PKB soal pilkada dipilih oleh DPRD sejak saat pemerintahan Pak SBY dan bahkan sudah berhasil dijadikan UU, alasannya sederhana; biaya mahal dan penuh kecurangan, juga aparatur belum banyak yang bisa netral. Sayangnya kemudian dibatalkan oleh Perpu. Produk pilkada langsung tidak banyak menghasilkan kepala daerah yang kuat dan mandiri.
Bagaimana menurutmu sobat ?
@ainunnajib tapi bukankah konsep humanitarian islam yg digencarkan bbrp waktu ini oleh Gus Yahya akhirnya bermuara ke NU milik semua orang, Kang?
Disebut NU lebih besar dari entitas sosial politik manapun, mosok dibatasi kode referral sih? Apa nggak malah bikin putus koneksi grassroot-elit?
Breaking News
terasa belum bisa move on dari kampus,
Kepala @brin_indonesia ,
Prof. Arif Satria membuka opsi untuk memberikan jabatan fungsional peneliti di perguruan tinggi sebagai upaya untuk memperkuat riset-riset di perguruan tinggi.
Coba tebak, kampus yang jadi role modelnya?
yak, betul IPB.
kasian rektor IPB, kena caweยฒ.
apakah konsepnya akan seperti Dosen @PNS_Ababil Kopertis, yang ditugaskan di PTS?
here we go !
https://t.co/46EVfgXp4T
Tentu saja NU harus dipimpin Kyai yang punya akar kebudayaan yang kuat sehingga punya "keramat" sebagai insan kamil.
dan tentu saja bukan tokoh yang sekedar "cosplay" ulama.....
in the last day, she told me : in 5 years I will retired. You will continue this study and collaborate with someone else. But for now, let's finish this project to pave the milestone for your country
Ada cerita lucu soal ngelab di sini. Partner ngelabku pas mau cek hasil PCR bilang gini "If this one fail, I and you must take another virology class."
Asal udah jam 11 pagi, di tengah ngelab "I will take the coffee, you want?"
Padahal beliau ini bukan sembarang beliau. Respect
Habis makan siang, ngopi lagi.
Kalau Jumat, sesudah makan siang ngajak ngobrol film dan pameran. Sering banget menyarankan film-film festival Cannes yang aku sendiri gatau nontonnya di mana.