APOKALIPSIS REPUBLIK
MK dibegal, konstitusi diperkosa.
Bocah 'dlahom • kosong, fakir literasi, intelektual rendah, duduk di lingkar kuasa.
Intelijen Negara (BIN, BAIS, hingga BAINTELKAM POLRI) "dipakai" mematai - matai parpol & dijadikan "dildo politik" Mulyono, bahkan secara terbuka & jumawa itu disampaikan di podium kekuasaan.
Parpol² besar diacak - acak, pun ada parpol yg mau dibegal, kendati gagal.
Sesaat setelah "di-KTA-kan", dlm waktu ± 172.800 detik, penjual pisang yg sekaligus pengusaha mesin "laundry", dijadikan Ketum Parpol 'Bootlicker, dgn kapasitas yg "ketaker".
Pj. Gubernur, Pj. Bupati, Pj. Walikota dipanggil ke istana, utk menerima "arahan", pada Senin, 30 Oktober 2023.
Pun, parcok jadi alat utk membangun "jalan tol" agar menantu jadi gubernur, & blok Medan semakin aman teratur.
Para menteri & kepala daerah dijadikan sandera atas berbagai perkara.
Ormas² besar keagamaan dijerat tambang & diracun dari dalam.
Meritokrasi TNI-POLRI dirusak, dlm 10 th. Mulyono berkuasa.
@KPK_RI dimandulkan.
@KejaksaanRI dikasih "kumis tebal" tp zonder mental, hingga Silfester • begundal kelas teri pun, tak mampu dieksekusi.
_______
Lalu,
1. Mau melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia ?
SDA dijarah
Hutan dibakar
Air diracun
Laut dipagar.
Tanah diserobot —
atas nama “Proyek Strategis Nasional”.
Parcok menulis hukum sedikit di atas lutut, tajam ke bawah, tumpul ke geng Solo.
Yang dilindungi; oligarki
Yang ditumpahkan: darah rakyat kecil.
2. Mau memajukan kesejahteraan umum ?
Badai PHK & hujan pengangguran hanya angka, yg bisa diturunkan di ruang gelap statistika kekuasaan.
Orang miskin dan anak terlantar "dipelihara" negara - tapi negara malah belajar 'biologi sosial, dgn merawat kemiskinan, agar tetap beranak pinak.
Utk kemudian dijadikan "ternak politik", yg diinjeksi racun bansos saat musim elektoral 5 tahunan.
3. Mau mencerdaskan kehidupan bangsa ?
Presiden RI ke 7 - berada dalam pusaran skandal ijazah palsu.
Wapres hari ini — tamatan SMP,
dgn 'spek tamatan SD Filial • kelas sore.
Mestinya yg gratis: pendidikan, bukan makan gratis yg menyebabkan ribuan anak keracunan.
Tempurung kepala rektor "negeri", dicengkeram kekuasaan, dan kampus² sibuk mencetak gelar, bukan nalar.
Bahkan, IQ anak bangsa, tak terpantau radar dunia.
4. Mau Ikut melaksanakan ketertiban dunia ?
Di luar negeri bicara perdamaian.
Di dalam negeri ?
Menyita buku bacaan, memata - matai diksi, gugup dialektika, gagap metafora, menjerat pikiran, menangkap kata - kata hingga menertibkan aksara.
Perdamaian abadi, tampaknya harus dimulai dgn diam yg dipaksa.
________
INDONESIA EMAS 2045 ?
Seperti Vladimir dan Estragon yg menunggu GODOT, yg tak pernah datang.
.
.
#FufufafaAibNasional
| @DPR_RI
SIMULACRA VERITAS
Ini melampaui "kaki" anak biologisnya yg rapuh, kepala yg kosong, 'dlahom, tamatan SMP • tp "spek"-nya tamatan SD.
Bahkan, intelektualnya tak sampai pada huruf terakhir kata "akal".
Pun, kini ijazah bukan lagi soal kertas berlogo @UGMYogyakarta, atau sekadar cetakan pasar Pramuka, melainkan;
PINTU YANG TAK DIKEHENDAKI TERBUKA.
Karena yg ia takutkan, lebih dari sekadar keaslian dokumen, lebih dari sekadar latar belakang pendidikan anak biologisnya yg amburadul, melainkan terbongkarnya ;
JATI DIRINYA YANG SEBENARNYA.
Intelijen negara kecolongan ?
Mungkin saja.
Atau sekadar pura - pura bodoh, krn di republik ini, kebenaran bukan utk diungkap, tp "dibekap" di ruang arsip "Aib Nasional" dgn stempel:
- RAHASIA NEGARA -
____________
Wajah bisa diedit, sejarah bisa diubah, Drs jadi Insinyur, ikut bimbel 'ujug - ujug sarjana.
Hingga, tak ada bedanya antara manusia dgn epitaf elektronik pd batu nisan digital, yg tampak hidup, tapi "mati kartu" di meja data.
Di republik ini, sejarah memang bisa bangun tidur dgn wajah baru.
___________
Suatu waktu, di tengah kerumunan orang dewasa, ada seorang anak kecil yg bertanya, "Bukankah itu dua orang yang berbeda ?"
Orang² dewasa menoleh takut, mereka bukan takut pada pertanyaan anak kecil itu, tapi takut pada jawabannya.
_________________
Sebab;
KEBOHONGAN YANG TERBAIK, SELALU BERSEMBUNYI DI BALIK SETENGAH KEBENARAN.
.
.
"Mengemis suaka" kepada penguasa hari ini, (mungkin) adalah satu - satunya jalan, agar "tak telanjang".
Setidaknya, sampai sejarah menuntut balas dgn wajah yang utuh.
.
.
#FufufafaAibNasional
Reformasi Polri di bawah Kapolri, yg menjabat selama 4 tahun 7 bulan 26 hari, atau sekira 1.746 hari ?
• Itu seperti ; meminta kpd seekor serigala utk bikin SOP - menjaga keamanan di kandang domba.
• Seperti nyuruh tikus, jaga malam di gudang Bulog. Berasnya ludes, tikusnya gendut.
• Bahkan, seperti jenazah yg memimpin pemakaman dirinya sendiri.
.
.
Absurd !!
😁
KEPALA BESAR, RETAK NALAR |
Jidat lebar, sempit akal.
Seperti eksperimen murahan, di laboratorium tanpa penelitian.
Kebijakan yg dilahirkan, bukan dari rahim ilmu pengetahuan, tapi dari "dubur kegelisahan" kekuasaan, yg takut kehilangan tepuk tangan.
Rakyat kecil di republik ini, spt kawanan spesimen di laboratorium percobaan.
Bedanya, tikus di laboratorium mati, masih dihargai sebagai data dan ilmu pengetahuan.
Sedangkan rakyat kecil, terus menerus digiring demi "personal branding" kekuasaan, dan sekadar dijadikan catatan kaki kebijakan arogan yg sesat nalar.
Kalau tikus lab. bisa protes, mungkin tikus lab. menolak keras disamakan dgn rakyat kecil, yg dijadikan kelinci uji coba kebijakan instan.
KURANG BIADAB APA LAGI KALIAN ?!!
.
.
NU DITARGET ?
NU DISASAR ?
Ngga' lah, dlm konteks ini, yg jadi titik lemahnya adalah segelintir "elite PBNU" yang ;
"KAGET & KESASAR"
.
.
Terlebih, ketika "umpan kuota dan umpan tambang" dilempar ke meja makan mereka, oleh Presiden RI ke 7 - yg daya rusaknya luar biasa, menyisakan ranjau di banyak sudut, bahkan di pekarangan ormas sebesar NU.
Presiden RI ke 7 itu, bukan hanya meninggalkan jebakan kuota dan tambang, bahkan jebakan loyalitas.
Sebuah perangkap halus, yg membuat ormas besar bisa tampak menjadi alat legitimasi kekuasaan Presiden RI ke 7 saat itu, bukan suara umat, dan hari - hari ini tergelincir dalam pusaran isu korupsi.
PBNU jadi spt "katedral raksasa" yg dikepung kabut distopia, di mana nama besar dijadikan tameng, sementara elitnya sibuk "menawar harga".
Pada akhirnya, bukan @nahdlatululama yg disasar dan ditarget, melainkan segelintir elite PBNU sendiri lah, yg menempatkan NU berada dalam posisi :
"RAWAN TEMBAK"
.
.
.
#FufufafaAibNasional
SEPANJANG KODOK, BELUM JADI SWIKEE |
Sepanjang Wapres Fufufafa • Si Anak Haram Konstitusi, belum direhabilitasi, lalu "diisolasi".
Sepanjang Kapolri dan Panglima TNI belum diganti.
Sepanjang para termul di Kementerian, Kepala Badan, pejabat setingkat menteri lainnya, hingga Komisaris² di BUMN • belum diamputasi.
Sepanjang Menteri @kkpgoid masih Sakti "Termul" Wahyu Trenggono | @saktitrenggono, maka :
Kabinet yang dinakhodai Presiden @prabowo tak akan pulih dari ;
KABINET "KORMOBID".
____________
Bukan hanya laut yg dipagar beton, jangan - jangan "mata dan telinga" Presiden Prabowo ditutup "pagar silikon".
.
.
#FufufafaAibNasional
KABINET KOMORBID |
Rakyat kecil bukan beban negara, negara yg kerap membebani rakyat kecil, pun justru negara yg jadi "komorbid" dgn Wakil Presiden "spek" Fufufafa serta kabinet sesak penyakit.
Beban terberat itu ada di punggungmu Presiden @prabowo.
_________
Sehat selalu Jenderal !!!
.
.
😁
#FufufafaAibNasional
Karena "stunting nalar", fakir literasi, berjarak dgn kultur membaca, pun "terbelakang" dlm soal akademis, shg sulit naik kelas di tingkat SMA di Surakarta.
Lalu, "diopname" di Singapura, utk kemudian "di-packing" ke Oz.
Relatif lama di Oz, tapi ngga' bisa bahasa Inggris ? Lah...jangankan bhs Inggris, bhs Indonesia aja gagap.
Atau mungkin, selama di luar negeri, dia bawa penerjemah. 😁
.
.
___________
Mimpi apa republik ini ?
.
.
#FufufafaAibNasional
MBG | MAKAR BERGIZI GRATIS 😁
.
.
Pembangkangan sipil ('civil disobedience) | tak lahir dari rakyat yg tiba - tiba bosan antre di loket birokrasi, ia lahir dari luka kolektif dan kesadaran pahit, ketika hukum "pensiun dini" menjadi perisai keadilan, lalu berubah menjadi alat gebuk kekuasaan, sementara rakyat masih punya kompas moral.
Ia lahir bukan dari anarki, melainkan dari negara yang tega membunuh akal sehat warganya sendiri dan pikiran rakyat dijadikan buronan.
Ketika palu menjadi satu - satunya bahasa, maka suara rakyat kecil dianggap paku.
Makar, terorisme dan perusakan menjadi titik pukulnya.
Namun tak satu pun kalimat yg disediakan utk menyebut ;
"Ketidakadilan yg terinstitusionalisasi"
"Brutalitas aparat sebagai problem struktural dan kanker kultural"
.
.
__________
Sepanjang kodok belum jadi swikee, maka;
SUDAH - SUDAHLAH !
Meminta maaf saja mereka gagap,
bagaimana mungkin rakyat kecil berharap, mereka bisa membagi keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia ?
.
.
#FufufafaAibNasional
Presiden @prabowo sudah mengucapkan; turut berduka cita dan menyampaikan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya, prihatin, terkejut, dan kecewa.
Kapolri minta maaf
Kapolda Metro Jaya minta maaf
Karena, sudah tidak ada ruang gelap untuk mengarang cerita, seperti dalam tragedi Gamma dan Afif Maulana.
___________
Istana minta maaf, tapi dalam arsip negara, tragedi itu hanya disebut "insiden".
Kamera warga merekam kenyataan, negara menulis ulang kenyataan.
Di republik ini, maaf hanyalah algoritma darurat untuk meredam murka, lalu rakyat dipaksa mati dengan rapi.
Distopia bukan fiksi, ia hadir di jalan raya, direkam dalam ponsel warga.
Di tanah ini, maaf adalah;
PROPAGANDA TERAKHIR
sebelum sensor bekerja.
________
Lalu dalam situasi domestik seperti ini, Wapres Fufufafa bisa apa ? Bagi - bagi skincare ?
Tapi yang pasti, dia hanya bisa "sakaw" di ketiak Bapaknya.
.
.
#FufufafaAibNasional
S I M U L A C R A
Membayar mahal pengacara, hingga memobilisasi ternak - ternak digitalnya, hanya agar semua wacana "dilokalisir" pada satu simpul; ijazah itu asli atau palsu.
Bahkan, 600 bukti dan 99 saksi diperiksa polisi.
Ijazah bukan lagi soal "kertas" berlogo @UGMYogyakarta atau cetakan pasar Pramuka, melainkan "pintu" yang tak dikehendaki terbuka.
Karena yg ia takutkan, lebih dari sekadar keaslian dokumen, melainkan terungkapnya ;
JATI DIRI YG SEBENARNYA
Intelijen negara kecolongan ? Bisa jadi.
____________
Wajah bisa diedit, sejarah bisa diubah, lalu apa bedanya manusia dgn epitaf elektronik pada batu nisan digital ?
Di negeri ini sejarah pun, bisa bangun tidur dengan wajah baru.
___________
Suatu waktu, di tengah kerumunan orang dewasa, ada seorang anak kecil yg bertanya, "Bukankah itu dua orang yang berbeda ?"
Orang - orang dewasa menoleh takut, mereka bukan takut pada pertanyaan anak kecil itu, tapi takut pada jawabannya.
_________________
Sebab;
KEBOHONGAN YANG TERBAIK SELALU BERSEMBUNYI DI BALIK SETENGAH KEBENARAN
.
.
#FufufafaAibNasional
KOMPENI 4.0 |
"Monetizing Rakyat, Maximizing Pejabat"
Pajak rakyat = Kewajiban.
Pajak lenyap di pasar gelap kekuasaan ?
"RAHASIA NEGARA"
#Cenasuwok
___________
Di era kompeni, pajak dipungut paksa lewat 'contingentenstelsel & 'verplichte leverantie ; rakyat dipaksa setor hasil bumi, tp tak pernah menjadi penerima manfaat (Kecuali di level priayi/ Bupati dan pangreh praja • yg masih bisa menjadi penikmat hasil pajak • pamer harta, pamer istri hingga jual beli jabatan).
Di era Kompeni 4.0 • polanya sama, tapi dgn wajah Sri "Mulyono" • @KemenkeuRI dan LBP, lebih modern, kendati sudah menua.
Kini ; pajak rakyat dikutip dgn ancaman, kalau tak bayar, administrasi dipersulit.
Sementara uang pajak, utk bayar bunga utang di dalam dan luar negeri, utk gaya hedon pejabat, kemewahan anggota DPR RI, proyek siluman atas nama PSN, pasar gelap kekuasaan, hingga bintang jasa yg diobral sana - sini.
Untuk kesejahteraan rakyat ? Ah...angkanya tampak sulit dipastikan.
_________
Jadi, Kompeni 4.0 bukan sekadar satire; itu adalah diagnosis sejarah yg berulang.
● Perbedaannya :
Dulu kompeni bawa bedil, kompeni 4.0 bawa regulasi.
Dulu VOC, sekarang BUMN & PSN.
Dulu, cambuk rakyat dgn rotan, sekarang dgn aplikasi, administrasi dan algoritma birokrasi.
_____________
Kompeni 4.0 adalah;
KOLONIALISME DENGAN USER INTERFACE.
.
.
#FufufafaAibNasional
REPUBLIK DEMOKRASI ½ MATANG |
Ketika seorang anggota @DPR_RI yg terdidik, masih memilih diksi "rakyat jelata" dalam argumentasinya, itu bukan sekedar pilihan kata, itu pengakuan dosa yg terucap dari memori implisit - nya.
"Rakyat jelata" kerap menjadi mantra yg justru melucuti demokrasi, sekali saja kosakata itu diucapkan, rakyat berubah; dari subjek yg berdaulat, menjadi objek belas kasihan.
Dari pemilik negeri, menjadi penonton drama politik yg diberi tiket subsidi.
Ada beberapa "lapisan getir" dari kosakata "rakyat jelata" ;
● "Jelata" adalah kosakata warisan feodal - monarkis. Kerap dipakai dalam posisi biner;
BANGSAWAN VS RAKYAT JELATA
● Patronase yg disamarkan.
Pengunaan diksi "rakyat jelata" selalu dijadikan "alat retoris", agar seolah tampak "merendah" & paham penderitaan rakyat.
Ironisnya, justru ia sedang meneguhkan posisi superior.
Seperti pejabat yg berkata, "Saya akan bela rakyat kecil".
Tapi, dari gaya bicaranya, telah membentangkan "jarak sosial".
● Kontradiksi Konstitusional
Scr konstitusi tidak ada hirarki 'rakyat jelata, yg ada hanya rakyat berdaulat.
● Bahasa adalah refleksi cara pikir.
Kalau 'rakyat jelata masih jadi pilihan kata, artinya 'mindset feodalisme belum benar - benar putus.
Demokrasi hanya kosmetik, kosakatanya masih kerajaan.
.
.
Demokrasi di republik ini memang tampak hidup di panggung, tetapi pilihan kosakata, (kendati terdengar sepele), selalu menyuguhkan realitas, bahwa ;
DI BALIK JAS PARLEMEN MODERN DAN MIKROFON DIGITAL, MENTAL FEODAL TAK GOYAH, MASIH DUDUK TENANG DAN TAK TERGANTIKAN.
.
.
| @PDI_Perjuangan
KAMUS AJAIB APARAT & "TEATER API" |
Membakar di Barat • menuduh di Timur
_______
Setiap kali rakyat turun ke jalan, aparat selalu punya ;
"KAMUS AJAIB"
utk menafsirkan kericuhan.
● Halaman pertamanya selalu berbunyi;
Ada pihak lain, yang memanfaatkan situasi, atau ada pihak ketiga yang menunggangi.
___________
Lalu, pos polisi di Petamburan dibakar pkl. 22.00 WIB.
Padahal, siapa yg waras dgn penuh dedikasi, membakar pos polisi di Petamburan yg berjarak dari titik keramaian pada jam 10 malam ?!!
Tampaknya, di republik ini, setiap "api" selalu memiliki sutradara.
Api di pos polisi Petamburan pukul 22.00 WIB itu, bukan soal korek api, tapi soal narasi.
Narasi bukan sekadar menutupi jejak, pun bisa mengaburkan kompas moral.
Bahkan sangat efektif membungkam tuntutan massa aksi dan memadamkan legitimasi rakyat, daripada ribuan gas air mata.
Publik seperti dipaksa percaya, bahwa unjuk rasa bukan ttg tuntutan rakyat, melainkan ttg "provokator" tak bernama, yg entah mengapa, selalu "lebih rajin" melakukan aksi, daripada rakyat itu sendiri.
Seperti dalam novel distopia murahan: kebakaran selalu punya arsitek imajiner, tapi tak punya alamat dan tak pernah tercatat di pusat data kekuasaan.
___________
Karena itu, yg selalu menarik perhatian saya, setiap ada aksi massa yg mengarah pada kekuasaan, adalah;
"bahan bakar • bensin" selalu tercecer sebelum mereka tiba, percikan api justru sering menyala di titik² strategis, yg relatif jauh dari pusat tuntutan, tapi cukup dekat utk menodai wajah demonstran.
____________
YANG TERBAKAR BUKAN BANGUNAN, TAPI MAKNA UNJUK RASA.
.
.
#FufufafaAibNasional
| @DPR_RI
Pemerintah melalui mulut Sri "Mulyono" - @KemenkeuRI kerap mengklaim berhasil menciptakan jutaan lapangan kerja, tapi tak pernah berani menunjukkan data empirik berikut daftar lapangan kerjanya.
Ini mirip pabrik mimpi totalitarian, di mana angka² tak berbanding lurus dgn realitas, bahkan tak lebih dari sekedar ;
MANTRA PROPAGANDA.
Lapangan kerja versi pemerintah bukan tempat orang bekerja, tapi;
KOSA KATA
yang diproduksi terus - menerus utk menimbun bau menyengat angka pengangguran.
Klaim pemerintah spt statistik tanpa tubuh, angka²-nya mengambang spt mitos kuntilanak yg kakinya tak menapak di tanah.
Tapi, oleh para pendengungnya, dianggap spt firman Tuhan.
.
.
😁
#FufufafaAibNasional
WI WOK DE TOK
"Sudah kita tempati 79 tahun. Ini bau-bau kolonial selalu saya rasakan setiap hari, dibayang-bayangi. Dan sekali lagi, kita ingin menunjukan bahwa kita punya kemampuan untuk juga membangun ibu kota sesuai dengan keinginan kita"
Demikian kata Ki Dalang Sprindik | Presiden RI ke - 7, saat memberi arahan kepada Kepala Daerah di Istana Garuda, di IKN, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, pada Selasa, 13 Agustus 2024 lalu.
____________
Bahkan, untuk memahami kata "patriotik" - pun, kamu tak mampu.
Jadi, kapan kamu, istrimu dan anak - anak biologismu pindah ke IKN Mul ?!
.
.
NOT ONLE TOK DE TOK !
.
.
😁
#FufufafaAibNasional
Dada membusung, tangan kanan mengepal, tampil garang dgn kumis melintang, di layar - layar digital.
Menantang badai bertikai, tapi terhuyung digebuk bayang - bayang hujan.
Tampil gagah melawan puting beliung, tapi masuk angin tertiup hembusan "kipas angin" mungil yg digenggam Silfester "Termul" Matutina.
Kena embun saja bersin, tapi merasa bisa mengunyah semesta.
___________
Lalu, saya berguman dalam hati, sembari mengintip dari balik jendela, "Suara apa itu ?"
Ternyata hanya :
" M E R I A M B A M B U "
.
.
😁
#FufufafaAibNasional
LAPOR PAK @ST_Burhanuddin • JAKSA AGUNG RI |
1. Tidak seperti tahun - tahun sebelumnya, hari ini, Minggu, 17 Agustus 2025, terpidana Silfester "Termul" Matutina, tidak terpantau hadir di Istana Negara.
Absennya bukan karena eksekusi, melainkan karena radar integritas institusi yg Bapak pimpin, sudah 6 tahun mati suri.
2. Namun, nama - nama berikut ini terpantau di lokasi :
- Budi "Termul" Arie • Menteri Koperasi.
- Airlangga H. • Menko. Perekonomian.
- Zulkifli Hasan • Menko Pangan.
- Erick Thohir • Menteri BUMN.
- Bahlil Lahadalia • Menteri ESDM.
- Dito Ariotedjo • Menpora.
- Mulyono • Presiden RI ke - 7.
3. Nama - nama pada nomor 2, saya sampaikan, dapat diperlakukan sebagai "lampiran pendahuluan", jika sampai batas waktu yang tidak ditentukan, @KejaksaanRI gagal mendeteksi keberadaan terpidana Silfester "Termul" Matutina.
.
.
Demikian laporan ini saya sampaikan, untuk dapat dijadikan periksa, dan mohon perkenan diproses, kendati hanya dalam ruang imajinasi.
SELESAI !
.
.
😁
#FufufafaAibNasional