MENGATASI KEMALASAN DIRI
Seorang jama'ah pernah bertanya kepada saya,"Habib, bagaimana caranya mengatasi kemalasan?" Pertanyaan itu muncul karena sebelumnya saya mengatakan,"Kemalasan adalah halangan paling berat dan rintangan paling sulit bagi manusia untuk meraih kesuksesan."
1. Ya Allah, sungguh aku berlindung kpd-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir; dan aku juga berlindung kpd-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian). (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Ya Allah, sungguh aku berlindung kpd-Mu dari keluh kesah dan dukacita, aku berlindung kpd-Mu dari lemah kemauan dan malas, aku berlindung kpd-Mu daripada sifat pengecut dan kikir, aku berlindung kpd-Mu daripada tekanan hutang dan kezaliman manusia. (HR. Abu Dawud)
4. Kita tunda dulu menjawab pertanyaan di atas. Sebaiknya kita memahami kemalasan terlebih dahulu dgn teori Al-Ghazali tentang buah pikiran seperti tlh dikemukakan dlm kitab Tafakkur.
5. Al-Ghazali mengatakan dengan jelas sekali bahwa buah dari pikiran adalah beragam ilmu, beragam suasana hati dan beragam amal. (Ihyā'). Bila kita memahami perkataan itu maka kita tahu sebenarnya kemalasan adalah suasana hati (الحال).
6. Kita sering mendengar orang berkata,"Hari ini, rasanya aku malas sekali." Perkataan semacam itu membuktikan dan memperlihatkan kepada kita bahwa kemalasan adalah suasana hati. Dalam pandangan Al-Ghazali, suasana hati disebabkan oleh ilmu yang diproduksi oleh pikiran.
7. Dengan kata lain, kemalasan terjadi dalam diri kita sebab memikirkan sesuatu. Ibn 'Athā'illāh menggambarkan seorang pemalas dalam kitab Al-Hikam. Ia mengatakan bahwa orang lalai, di pagi hari, memikirkan apa yang hendak ia lakukan.(al-Hikam).
8. Kita melihat Fulan bekerja setiap hari tapi ia tidak mendirikan shalat lima waktu. Apakah Fulan termasuk orang rajin atau termasuk orang pemalas? Kita harus paham apa yang dimaksud oleh rasul saw tentang kemalasan seperti diungkapkan dlm doa beliau.
9. Tampaknya kita tdk bisa mengatakan bahwa orang yg bekerja setiap hari tapi namun mendirikan shalat lima waktu sbg orang rajin. Begitu juga sebaliknya, kita tdk bisa mengatakan bahwa orang yg mendirikan shalat lima waktu namun tdk bekerja setiap hari sbg orang rajin.
10.Tentunya perintah Allah dalam sehari semalam bukan hanya mendirikan shalat lima waktu. Sesungguhnya Perintah-Nya dalam sehari semalam begitu banyak. Bahkan kita sendiri tidak bisa menghitungnya dengan tepat berapa banyak jumlah perintah Allah dalam sehari semalam.
11. Sehari semalam, kita diperintah oleh Allah untuk melakukan beragam perintah-Nya. Sementara itu, nafsu dlm diri kita tentu saja merasakan berat untuk melakukan beragam perintah-Nya. Tidaklah terasa berat bagi nafsu kecuali ia adalah kebenaran.(al-Hikam).
12. Tentu saja kita tahu bahwa kemalasan dlm diri membuat kita tidak bisa melakukan beragam perintah Allah dalam sehari semalam. Seperti dijelaskan oleh Ibn 'Athā'illāh bahwa nafsu dlm diri kita akan merasa berat, malas, menjauh dan nenghindar dari beragam perintah Allah.
13. Sesungguhnya kemalasan di hadapan beragam perintah Allah adalah sifat dasar nafsu dlm diri kita. Bila kita mengikuti doroangan nafsu dlm diri maka kita akan menjadi seorang pemalas di hadapan Allah. Oleh sebab itu, rasul saw meminta perlindungan kepada Allah dari kemalasan.
14. Dlm kitab al-Hikam, Ibn 'Athā'illāh berkata : Keluarlah dari beberapa sifat kemanusianmu, dari setiap sifat yg menentang penghambaanmu, agar dirimu bergegas untuk memenuhi panggilan Sang Maha Benar dan dekat dari Hadirat-Nya!(al-Hikam)
15. Sekarang kita tentu bisa mengerti maksud dari kemalasan dlm doa rasul saw. Yang dimaksud kemalasan dalam doa beliau saw adalah "merasa berat" dalam angka menjalankan beragam perintah Allah yg telah dibebankan kpd manusia.
16. Mengatasi kemalasan dapat dimulai dgn mengetahui nafsu dan akibat buruknya. Tanpa mengetahui nafsu dan akibat buruknya, secara rasional, kita takkan bisa mengatasi kemalasan dlm diri kita. Sebab itu, mengandalkan berdoa takkan mengatasi kemalasan.
قال الغزالي :
قد اتفق العلماء والحكماء على أن لا طريق إلى سعادة الآخرة إلا بنهي النفس عن الهوى ومخالفة الشهوات
Sungguh ulama dan hukama sepakat bahwa tiada cara meraih kebahagiaan akhirat kecuali dgn menawan nafsu dari dorongannya dan meninggalkan beragam keinginan.
Ihyā'