People who think they are extremely self-aware are often doing nothing more than turning themselves into a permanent psychological project. Every reaction is analyzed, every emotion is interpreted, every insecurity is examined, every childhood event is revisited.
They call it awareness, but most of the time it is simply self-preoccupation with intellectual decoration around it. The ego has not disappeared, it has become the observer, the analyst, the therapist, and the patient all at once. Years can pass this way. The prison remains exactly where it was. Only the description of the prison becomes more sophisticated.
@puzzleaerim aku kalau lagi ngerasa useless selalu inget kata2 ini “ada kebaikan yang ga akan lahir kalau ga ada kamu” or “barangkali kamu hidup bukan untuk menjemput doamu, melainkan kamu lah “bentuk” dari doa itu”
gue suka banget kalimat ini:
“Orang yang gak terbiasa komunikasi sehat, tiap masukan kerasa kayak sindiran.
Orang yang kurang tanggung jawab, tiap kritik kerasa kayak disudutkan.”
Ego itu harus dikontrol, bukan diturutin.
Karena kalau ego yang selalu pegang kendali, semua hal bakal diputer jadi soal harga diri.
Dikit-dikit ngerasa diserang, dikit-dikit pengen ngebela diri, padahal belum tentu orang lain punya niat seburuk itu.
Ego bikin kita susah denger, susah nerima, dan akhirnya susah berkembang.
Padahal gak semua masukan itu jatuhin kadang itu cara orang lain biar kita bisa jadi versi yang lebih baik.
Kalau ego terus diturutin, yang ada kita bakal stuck di situ-situ aja.
Gak belajar, gak berubah, cuma makin pinter ngehindar dan nyalahin keadaan.
“Dunia ini cukup untuk kita semua”
Aku tiba-tiba ingat kata Psikologku (iya, Psikolog juga ke Psikolog), begini katanya:
“Nell, kita semua itu punya peran masing-masing. Tidak semua orang harus ‘bersinar’ dengan intensitas yang sama.
Ada Psikolog yang terkenal, kayak xx tapi ada juga yang nggak, kayak saya.
Tapi kalau orang yang biasa-biasa aja kayak saya gak ada terus yang ngelayanin kamu konsul siapa?
Dunia ini cukup untuk kita semua.”
Pas dengar itu, aku merasa…lega. Separuh rasa cemasku mereda di tengah-tengah perkuliahan yang bikin aku merasa gak percaya diri dengan kemampuanku.
Aku membandingkan diriku dengan teman-teman lain yang menurutku hebat-hebat sekali. Ditambah standarku memang tinggi. Aku takut tidak jadi “apa-apa”, tidak dapat tempat.
Pelan-pelan aku mulai menata diriku lagi. Semuanya tidak harus sempurna. Aku hanya perlu tetap jalan.
Toh, secara objektif “biasa-biasa”nya aku sebenarnya buat orang lain itu bagus, tidak ada masalah.
Sampai sekarang, aku masih perlu mengingatkan diriku secara berkala,
“Setiap orang punya sinar yang berbeda, seperti bintang. Ada yang terlihat terang dan besar, ada juga yang kecil. Namun, keduanya sama-sama cantik dan penting.”
Hari ini pun aku mengingat kembali, aku mungkin tidak jadi musisi andal seperti Mozart tapi musikku cukup untuk anak-anak. Mungkin juga untuk sobat twitterku.
Dunia ini cukup untuk kita semua. Aku harap, kita yang lagi merasa tergesa-gesa bisa mengingat ini 💛
Mulai skrng coba ubah kebiasaan supaya nggak melulu nyariin hp
- Lihat matahari sebelum lihat screen
- Kalo overthinking coba journaling
- Kalo stress pergi jalan kaki (go walk)
- Kalo burnout baca buku
- Kalo capek istirahat; tidur
- Kalo sedih coba olahraga
- Kalo marah coba dengerin musik
Ada yg mau nambahin?
At this point I would put it up high with Modern Family and The Office, though I might have a professional bias lol. But seriously it's just too FUNNY :))
banyak orang gak sadar: when you live in survival mode, your choices aren’t really choices, they’re instinct.
anak-anak buat mereka bukan soal “nambah beban”. it’s about having a reason to stay alive tomorrow. tentang ditemani, ditolong, dan diberi harapan di dunia yang udah terlalu pelit kasih peluang.
kita yang hidup lebih enak gampang ngomong, “kok gak KB aja?” padahal mereka gak hidup di dunia yang sama kayak kita. mereka gak punya safety net. mereka cuma punya satu sama lain.
dan buat yang baca itu terus langsung bilang, “jadi lo setuju orang miskin punya anak banyak?” you really missed the whole damn point.
understanding ≠ endorsing.
empathy ≠ excuse.
ini bukan glorifikasi kemiskinan, ini ajakan buat berhenti nge-judge dan mulai ngebenerin sistemnya.
lo terlalu sibuk ngehitung jumlah anaknya, sampe lupa nanya: “kenapa satu-satunya harapan mereka harus anak, bukan negara?”
pak anies ngajak mikir, bukan ngajak breeding race. so please, kalau belum siap baca dengan hati, ya jangan baca cuma buat cari bahan nyinyir.
let’s fix the system, not shame the survivors. karena di ujung hari, mereka cuma lagi berusaha hidup, sama kayak kita semua.
Mari tidak lupa bahwa divalidasi belum tentu baik. Ada saatnya kita butuh orang yang menantang proses berpikir kita.
Mari juga tidak lupa, curhat pada AI punya masalah etik yang menantang. Bagaimana jika yang mengakses adalah orang yang sakit yang tidak sadar ia sakit?
Ppl who hate geumyoung will never understand the frustration and the guilt that eats u from inside seeing your parents sacrifice so much for you, the fear of letting them down and not living up to their expectations, she's so real and so loved by me