Gurita kepentingan di balik Makan Bergizi Gratis (MBG) akhirnya dibongkar ICW. Dari sampel 102 yayasan mitra, ditemukan afiliasi ngeri-ngeri sedap:
• 28 yayasan terafiliasi Parpol
• 18 Pebisnis Swasta
• 12 Birokrasi
• 9 Relawan Pilpres
Sisanya terhubung ke militer & eks koruptor. Ini program gizi atau bancakan politik?
Video : kompas tv
@cruelrush Is this even real?
If real this gonna be chaos.
I thought this should be private wedding not concert.
This popfartcrave is gonna posting anyting.
Kalau PLN bermasalah.. benahi manajemennya..
Kalau negara devisit.. pangkas pemborosan elitnya..
Jangan jadikan rakyat kecil korban kebijakan gagal..
Listrik adalah kebutuhan dasar bukan alat untuk disiplin sosial…💪🙌
Bener banget ini…🫶🏻
giliran forum milik penguasa diganggu rakyat, fafifu soal demokrasi. kemarin² ke mana aja saat rakyat bikin diskusi, lapak baca, nobar film tapi dibubarin (bahkan direpresi).
Peran Nusron Wahid di "Pesta Babi".
Tanpa dialog dan konsultasi dengan pemilik ulayat. Menganggap Papua tanah kosong dan mengira semua tanah milik negara. Salah satu ciri kolonial.
https://t.co/o8sZo5kGKq
Kontestasi terbuka adalah inti demokrasi
Kita bedah acara ini,
Penyelenggaranya Total Politik yg kita sama-sama mafhum sudah menjadi corong rezim.
Temanya normatif, isi pembicaraan di forumnya puja puji rezim.
Pembicaranya Budiman, Nusron dan Sudaryono.
Dua aktivis satu kader Prabowo.
Lokasi di GIK, sentra kegiatan mahasiswa UGM, di waktu lagi panas kritik dari gerakan mahasiswa, selang sehari saja dari aksi Gejayan.
Sudah jelas dari awal tujuannya adalah ‘menantang’ di base lawan.
Jadi jangan bawa-bawa narasi kenapa gak dialog di forum yg staged gitu. Ini namanya deliberative window dressing atau manipulasi dialog.
Tujuannya dari awal memang bukan buat dialog. Tapi buat framing UGM ditaklukkan.
“kami mau melapor ke polisi, polisi punya dapur sppg, kami mau melapor ke TNI, TNI punya dapur sppg, kami mau melapor ke DPR, DPR pun punya dapur sppg. jadi ini jalan terakhir kami untuk mengadu, kepada konstitusilah kami berharap”
—ucap seorang guru, pendidik anak bangsa. ironi.
Tadi siang, di Mahkamah Konstitusi, Mas Iman @zanatul_91 bilang,
"Majelis Hakim Yang Mulia, upaya yang kami lakukan secara konstitusional ini adalah upaya yang paling mendasar, jika boleh menyebut, UPAYA TERAKHIR.
Karena akses untuk mengevaluasi agar anggaran kesejahteraan guru dalam anggaran pendidikan tidak diambil oleh MBG, tidak ada salurannya. Jujur saja. Kami mau melapor ke Polisi, Polisi punya dapur SPPG. Kami mau melapor ke Tentara Nasional Indonesia, tentara punya dapur SPPG. Kami mau mau melapor ke DPR RI, anggota DPR banyak yang punya dapur SPPG.
Jadi memang ini jalan terakhir untuk kami mengadu. Kepada siapa lagi? Kepada konstitusilah kami berharap. (Itu pun) kalo (MK) ngga punya dapur ya."
Sebelum menutup paparannya, Mas Iman bilang,
"Sekali lagi, Majelis Hakim. Kami para guru di sini hadir untuk memberikan peringatan dan kesaksian. Bahwa kita sudah sampai pada masa kebodohan merajalela. Ketika MBG dibela, keracunan dianggap biasa, mempertontonkan keserakahan, dan membiarkan negeri ini dalam malapetaka.
Saya bersaksi, siapapun yang merampok anggaran pendidikan, di dunia DIPENJARA. Di akhirat dia masuk NERAKA."
Ini adalah bukan hanya keluhan, curhat, dan keresahan Mas Iman Zanatul Haeri, seorang Guru Sejarah di Jakarta. Tapi ini juga keresahan saya, Achmad Anwar Sanusi, seorang guru di Pandeglang, Banten. Juga keresahan guru-guru lain di Jawa, di Sumatera, di Kalimantan, di Sulawesi, hingga Papua. Keresahan seluruh guru di pelosok Indonesia terkait MBG ini.
Terima kasih, Mas Iman. Salam hormat!
@tanyakanrl Ntv saluran tv darimana dah? Survey titipan ya?
Ya nggahlah, ngapain belain rezim. Kita aja gak dinggap, cuma diperas lewat pajak utk menutupi utang.