Level tertinggi seorang pelatih adalah saat berhasil mengubah tim/negara yang tadinya biasa aja menjadi luar biasa. Ini yang sekarang kita lihat lewat Kensuke Takahashi, lalu Hector Souto di futsal Indonesia.
Kisahnya mirip-mirip sama Park Joo-bong, pria Korea Selatan yang berhasil mengubah total bulu tangkis Jepang.
***
Untuk yang sudah lama ngikutin bulu tangkis, nama besar PJB sudah lama melekat. Semasa aktif bermain, ia telah mempersembahkan hampir semuanya untuk Korea Selatan. Mulai dari gelar juara dunia hingga emas Olimpiade.
Tapi sebagai pelatih, Park Joo-bong lebih banyak menggunakan sihirnya di negara lain. Mulanya di Inggris, berlanjut ke Malaysia, hingga kemudian Jepang memanggilnya pada 2004.
Selama bertahun-tahun, Jepang bukanlah kekuatan utama bulu tangkis dunia sehingga agak sulit menemukan apa motivasi Park Joo-bong sebenarnya. Yang jelas, sejak dirinya berada di sana, Jepang telah berubah sepenuhnya.
Kita tak akan membahas bagaimana detail taktik yang Park Joo-bong bawa, juga bukan tentang cara ia membuat pemain Jepang versatile sehingga bisa bermain di banyak sektor. Bukan pula soal usaha kerasnya membawa Jeremy Gan dan dua pelatih Malaysia lainnya ke Jepang.
Yang akan kita bahas adalah hal yang paling mendasar: Bagaimana PJB mengubah mindset bulu tangkis Jepang.
Saat pertama kali tiba, Park Joo-bong berhadapan dengan fakta bahwa mindset para pemain masih sangat korporat. Mereka bermain demi gaji, memenuhi kewajiban perusahaan, dan menjaga nama divisi olahraga masing-masing.
Bulu tangkis Jepang memang bertumpu pada sistem korporat. Para pemain berstatus karyawan penuh, membela perusahaan dalam kompetisi domestik, dan menjadikan turnamen nasional sebagai panggung utama. Ambisi internasional nyaris bukan prioritas.
Alhasil, banyak pemain hanya berkutat di kompetisi dalam negeri dengan panji perusahaan masing-masing. Ketimbang atlet profesional, mereka lebih sering dipandang atau memandang diri sendiri sebagai pegawai yang kebetulan bermain bulu tangkis.
Nama-nama besar seperti NTT East dam Sanyo adalah beberapa korporat yang mempekerjakan mereka, menyediakan gaji, fasilitas, dan jaminan masa depan. Sistem ini aman dan stabil, tapi juga menciptakan zona nyaman.
Park Joo-bong tidak membongkar sistem itu. Ia memanfaatkannya. Korporat tetap menjadi tulang punggung bulu tangkis Jepang, tetapi cara pemain memandang olahraga ini yang ia ubah.
Oleh Park Joo-bong, para pemain Jepang diyakinkan bahwa mereka punya kesempatan membela negara di level lebih tinggi, bersaing dengan para pemain kelas dunia, bahkan memenangi berbagai kejuaraan internasional.
Bagi perusahaan, ini adalah situasi yang tetap menguntungkan meski fokus pemain mereka berubah. Jika para pemain mampu berprestasi di tingkat internasional, yang dibikin bangga bukan hanya negara, tetapi juga mereka sendiri, perusahaan.
Lantas, sejak saat itu kamp pelatihan nasional adalah hal yang sangat lazim di bulu tangkis Jepang. Dan di sinilah sihir Park Joo-bong mulai bekerja.
Mizuki Fuji, salah satu pelopor medali pertama Jepang di Olimpiade London, pernah menceritakan kerja keras PJB dalam mengubah cara pandang pemain Jepang lewat sebuah wawancara.
“Sebelum ia datang, Jepang cenderung menghindari kompetisi level atas. Saya pun ikut turnamen dengan tujuan untuk mendapatkan poin dari evel 300 ke bawah karena pemain unggulan banyak yang tidak berpartisipasi."
"Pelatih lantas berkata, 'saya tidak tahu kemampuan kamu kecuali kamu bermain melawan pemain teratas. Tidak masalah kamu kalah, jadi pergilah ke turnamen dan hadapi lawan yang kuat.'"
Jepang adalah negara yang orang-orangnya terkenal disiplin. Dan dengan berubahnya mindset mereka soal bulu tangkis, mereka akan berusaha sekeras mungkin, sedisiplin mungkin, untuk menjadi yang terdepan.
Apa yang sempat kita lihat di bulu tangkis Jepang selama kurun 2014-2020an awal adalah buktinya.
Ini contoh kalah dan harapan kita patah tapi kita tidak kecewa.
Karena kita tahu persis proses futsal ini dimulai dan dikawal terus oleh orang yang sama. Hasil maksimal walau tanpa juara dengan senang hati kita terima.
Hal yang hilang di Timnas Sepakbola kemarin. Proses dimulai oleh satu pelatih yang taruh fondasi, tapi diakhiri dengan mengenaskan oleh pelatih yang entah dipilih karena apa—atau karena faktor narsistik ketua federasinya saja.
Timnas Futsal, terima kasih 🇮🇩