Kita berhutang pada Affan Kurniawan, 135 korban tragedi Kanjuruhan, orang2 yang mengalami kekerasan dan kriminalisasi korp coklat
Hutang itu seharusnya bisa dibayar dengan merevolusi institusi Polri sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya
Tapi apa yg dilakukan negara?
Menurutku line
"Hidup yang berarti bukan sekadar tak mati~
Mati yang berarti~ Mesti yang terakhir kali~"-nya Fstvlst harus diulang 33x sih,,,pelit amat cuma 2x???
Lucu juga nih negara agamis milih pemimpin harus muslim razia warung pas puasa, dikit-dikit ngeributin perkara agama tp giliran punya presiden minum alkohol gatau sholat jumat di mana, gatau bacaannya ngajinya tp diem-diem bae
I honestly dont get why some people are hating on this... kalau ada orang yang mau ngobrol sama aku berjamjam without any distraction aku mah seneng ya :// romance is dead omg
"This isnt sweet" mungkin kamu terbiasa melihat act of love sebatas bentuk benda doang??
Narasumber bukan entitas yang statis. Mereka bisa berubah. Bisa menarik pernyataan. Bisa menyangkal juga. Dan perubahan itu tidak selalu berarti bahwa mereka sejak awal berbohong.
Ada banyak kemungkinan, bisa jadi
mengalami tekanan, mendapat ancaman hukum, mengalami intimidasi fisik atau digital, atau mungkin ada tawaran lain.
Karena itu, dalam jurnalisme atau dalam hal ini film dokumenter, perubahan sikap narasumber tidak otomatis dibaca sebagai bukti bahwa laporan sebelumnya salah, dan Papua baik-baik saja. Tetapi juga tidak boleh diabaikan begitu saja. Justru di situlah pentingnya verifikasi berlapis dan prinsip informed consent.
Narasumber adalah manusia yang berada dalam relasi kuasa. Semoga Mama Yasinta sehat selalu.