ㅤ
ㅤㅤㅤA literate portrayal of PRUDENCE WILHELMINA MARTIN—an original character scripted by Joan claiming the face of Penelope Eckart from "Villains are Destinied to Die". No financial profit gained. May show a mixture of serious and crack.
ㅤ https://t.co/kiNIfYMpev
@d_eracine - Wajahmu berada tepat di belakangnya di mana ia bahkan dapat merasakan deru napasmu. Tetapi, tentu saja, dalam kekhasan Prudence Wilhelmina Martin, ia memilih untuk tidak menanggapi; hanya menunggu engkau selesai dengan bantuanmu.
@d_eracine Sengaja, pikirmu? Dasar. Memangnya kaupikir ia akan sempat menggodamu sebelum sebuah acara penting seperti hari ini?
“Aku baru menjemputnya dari butik kemarin,” jawabnya, “sebab ada bagian yang harus dijahit sedikit agar lebih pas.”
Tentu saja Prudence mendengarnya. -
@d_eracine Ini bukan pertama kalinya kau melihatnya dalam balutan gaun. Mengapa masih bereaksi seperti itu, sih?
“Lebih baik kaubantu aku,” ia memutar badannya dan menunjukkan bagian punggung. Gaun itu bukan beritsleting, melainkan kancing belakang. Nampak manik yang paling -
@d_eracine Ditatapnya mata Shin. Pria ini serius. Hadeh.
Prudence menarik napas lalu mengembuskannya lagi. Lalu, ditutupnya matanya, tanda membiarkanmu melakukan maumu.
Seperti lazimnya Prudence Martin kepada Shin Haiba. Tahun berlalu dan ia masih menemukan kesulitan dalam berterus terang, tetapi pria ini menumbuhkan dalam ia rasa percaya untuk menjadi tulus.
“Selamat ulang tahun,” cium didaratkan di pipi @d_eracine. “Mau hadiah apa?”
@d_eracine - kata materialistis—ia tak akan meminta apapun semacam yang ia berikan itu, lebih-lebih sejumlah lima buah. Artinya, lima buah ini adalah hal-hal remeh, yang kurang-lebihnya Prudence sudah bisa tebak apa dan apa.
Mungkin.
“Yaitu?”
@d_eracine Pada Hari Kasih Sayang lalu, Shin Haiba memberinya cincin yang kini bertengger di jari manis. Tanda cinta dan ketulusan yang tak pernah disangka-sangkanya bukan dongeng belaka. Pada saat yang bersamaan, Shin Haiba juga merupakan sosok sederhana yang jauh dari -
@d_eracine Bukankah justru aneh kalau selama ini bersama dan ia masih belum bisa menebak barang sedikit pun? Mata hijau mengenali gurat di bibirmu dan ia menghela napas—mencoba pasrah.
“Aku bilang, yang tidak membuatku malu.”
@d_eracine Mungkin sebaiknya ia mengingat bahwa menawarkan pria itu sesuatu bukanlah ide yang bagus. Tentu saja ia akan meminta hal aneh.
Tubuh dimiringkan, tangan menyangga kepala di sisi untuk menggantikan bantal.
“Pilihlah yang menurutmu tidak akan membuatku malu.”
- menanti di hubungan ini belum tentu pedih ...
“... Kamu memang benar-benar bodoh.”
Tapi tangannya yang lain mengusap cincin itu, yang bertengger sempurna, seolah-olah memang ditakdirkan untuk berada di jarinya. @d_eracine
- kepala. Bahkan ketika cinta itu tidak kembali. Bahkan ketika yang dijanji hanyalah pedih.
Anehnya, ada kehangatan yang menyeruak di dada Prudence. Seolah-olah sesuatu yang beku meleleh di dalam sana; seolah-olah sekali lagi, ia diingatkan bahwa mungkin, yang -
@d_eracine - tingkat tinggi?
Prudence menatap Shin setelah terdiam untuk waktu yang cukup lama, ekspresi terkejut di wajah telah meluntur dan sedikit lebih tenang.
"Aku bukan kekasihmu. Ingat itu, kan?"
@d_eracine ...
Prudence Martin memang tidak pernah bisa membaca Shin Haiba. Pria itu selalu berhasil membuatnya terkejut di saat yang tidak disangka-sangka. Hadiah ulang tahun, baiklah, tentu saja. Tapi sebuah cincin ...? Perhiasan yang menggambarkan kesetiaan dan komitmen -