"i want to ask, how do you color/render so beautifully? im really fascinated by your art.....!!" -> thank you! i still have much to improve. i cant really explain my colouring/rendering briefly so i made this for u instead. hope it’s still understandable..
https://t.co/LlB926uEBm
Ada satu anomali yg cukup meresahkan kalau kita ngomongin diskursus anime, yaitu kenapa obrolan soal shounen selalu bising, sementara shoujo kesannya dianaktirikan? Jawabannya sering kali disederhanakan jadi "ya karena audiens shounen lebih masif dan aktif." Padahal, kalau kita mau bedah dikit di struktur sejarahnya, ada bias kultural yg bikin fenomena ini lebih kompleks dari jawaban tadi.
Sebenarnya, ada elemen psikologis, resolusi trauma yg kelam, sampai world-building politik yg lahir murni dari manga shoujo. Tapi masalahnya, identitas genre ini sering kali kena kooptasi.
Begini polanya: budaya pop yg bias patriarki secara sistemik melabeli shoujo sebagai genre picisan yg isinya cuma romansa dangkal, cowok tsundere dan cewek menye-menye. Label ini terus direproduksi sampai nempel di kepala audiens.
Nah, ketika muncul karya dari demografi shoujo yg narasi psikologisnya gelap dan mendobrak batasan—sebut saja Fruits Basket (2019) dengan trauma antargenerasinya, Akatsuki no Yona yg world-building politiknya luar biasa epik, atau Natsume Yuujinchou yg filosofis banget—industri dan audiens "mainstream" akan kebingungan meresponsnya.
Bukannya mengakui bahwa shoujo memang punya kapasitas intelektual yg liar, mereka malah memakai taktik penghapusan identitas. Karya-karya tersebut langsung dilabeli sebagai sesuatu yg "melampaui genrenya". Kita mustinya sering denger komentar semacam, "Fruits Basket ini dark banget, psikologisnya udah selevel seinen," atau "Yona ini ceritanya epik banget, lebih mirip shounen!"
Ini adalah bentuk perampasan kredit historis. Label shoujo diperlakukan layaknya kasta yg memalukan. Seolah-olah, kalau sebuah karya itu brilian dan punya kedalaman cerita, ia otomatis "naik kelas" dan gak pantas lagi menyandang gelar shoujo. Padahal, justru lewat eksplorasi female gaze dan ruang emosional yg kompleks di demografi itulah narasi-narasi tajam tersebut bisa lahir. Akibatnya, diskursus shoujo di ruang publik selalu terlihat kerdil. Bukan karena mereka gak punya masterpiece, tapi karena setiap kali inovasi itu muncul, statusnya diam-diam dirampas oleh wacana maskulin untuk dinormalisasi sebagai standar shounen atau seinen.
Dominasi diskursus shounen bukan cuma menang di ranah kapitalisasi komoditas, tapi juga lahir dari proyek amnesia massal. Kita diajari buat ngeremehin shoujo, sambil diam-diam merampas banyak inovasi narasi dari genre tersebut. Selama komunitas penikmat anime masih menganggap shounen sebagai titik nol dari semua kewarasan naratif, diskursus pop culture kita bakal terus pincang.
Several people requested an animation the muscles of the neck, so here you go! If you have more requests for anatomical animations, let me know in the comments.
Sambil ngabuburit, karena ini rame & gw pernah liput konsernya Isyana, mau cerita dikit soal Isyana yang shifting dari musik Pop R&B ke metal/progresif rock, dan soal simbol-simbol yang erat dengan genre musik keras ini.
-thread-