"Yunus didn't find PEACE in his escape." ini lumayan kena sih jujur :3
buat kamu yang sedang lari dari tanggung jawab mu. mungkin artikel ini bisa sedikit membantu? artikel ini membahas tentang kisah nabi Yunus AS dan mengaitkannya dengan pelajaran hidup di masa sekarang.
benar juga setelah tertelan ikan beliau tidak mulai dengan meminta "Ya Allah, keluarkan aku." beliau memulai dari mengakui kesalahan, memuji Allah, dan menyerahkan dirinya kepada-Nya.
bahkan amalan doanya selalu aku amalkan sambil bersujud setelah selesai sholat.
lailahailallah anta subhanakan ini kuntum minaddolimin.
Kenalin aku lifehack alpukat "disiksa" tusuk gigi.
Benar dan terbukti secara sains ya, Kak. Buat kalian yang kebelet makan alpukat mentah, melukai kulit buahnya bikin dia "stres" dan langsung ngegas produksi gas etilen (hormon pematang). Jadi, cara ini emang valid bikin buah lekas mateng.
TAPI, ada efek sampingnya doong. Alpukat yang matengnya "dipaksa" lewat luka tusuk ini seringkali teksturnya jadi kurang creamy (agak kesat/ngapas) dan matengnya nggak rata. Plus, lubang tusukan itu jadi pintu masuk bakteri, makanya rawan busuk duluan dan warnanya jadi nggak cantik.
Kalau mau hasil best quality, mending pakai cara peram alami. Di foto Kak Fitri itu kan alpukatnya ditaruh di kantong plastik, nah itu langkah yang udah bener buat menjebak gas etilen alaminya biar nggak menguap.
Biar matengnya makin cepet tanpa perlu disiksa tusuk gigi, kalian cukup tambahin satu buah pisang matang ke dalam plastiknya. Kenapa tiba-tiba bawa pisang? Karena pisang matang itu ibarat "pabrik" gas etilen alami yang bakal ngebantu alpukat mateng lebih ngebut.
Dengan diperam tertutup bareng pisang, profil rasa legit dan tekstur buttery (mentega) dari alpukat bakal keluar 100% paripurna.
Daripada dipake buat ngambil keputusan, mending nyuruh AI lo minimal buat otomatisasi kerjaan2 remeh temeh tapi makan waktu banyak lo dah.
Biar load pikiran lo ngurang dari hal yang gak terlalu penting. Jadi, energinya bisa dipake buat mikirin hal2 yang lebih penting. Jangan kebalik.
Waktu, habis ngerjain kerjaan remeh akhirnya karena otak kelelahan, hal2 yang sifatnya harus berpikir kritis dan aktivitas pengambilan keputusan malah diserahkan ke AI.
rasa sedih sebelum haid itu adalah rasa sedih yang paling tergajelas yang cuma di milikin sama cewe, serba dramatis, berasa ga disayang sedunia, dikit dikit nangis apa aja ditangisin njr 😫🙏🏻
guyss i wantt to share recommend indonesian substack articles ive read
itung itung bisa ngisi waktu luang kalian so i recommend to you guys buat baca ini
Seedance 2.5
Prompt:
Main subject: young Indonesian woman, early 20s, natural everyday appearance, faded mustard-yellow oversized cotton t-shirt, brown high-waisted linen wrap skirt reaching just below the knee, simple brown leather slide sandals, thin gold stud earrings, dark wavy hair in a messy low bun with loose wispy strands framing her face. Realistic warm brown skin texture, minimal natural makeup, warm and approachable demeanor. Maintain consistent identity, clothing, hairstyle, and appearance throughout the entire video.
Location: Authentic Indonesian residential neighborhood (gang) during a calm late morning. Narrow paved alleys, low-rise houses with open front terraces, terracotta roof tiles, potted frangipani and bougainvillea, laundry on bamboo drying racks, parked motorbikes along plastered walls, overhead utility wires, banana and coconut trees casting dappled moving shadows, quiet tropical residential atmosphere. No modern stores, billboards, cafés, or crowds.
Visual Style: Ultra-realistic documentary realism. Genuine candid behavior. Natural body language. Unscripted slice-of-life feeling. Strong environmental authenticity. Rich real-world details and believable human motion.
Camera Style: Early-2000s consumer DV camcorder aesthetic. Friend casually recording everyday moments. Heavy handheld shake, imperfect framing, frequent autofocus hunting, lens breathing, exposure pumping when moving between harsh tropical sun and deep alley shade, occasional motion blur, subtle rolling shutter, mild digital compression artifacts, warm faded colors, soft contrast, slight sensor noise. No stabilization. No cinematic camera moves. No modern color grading.
00:00–00:02
Outside a small house entrance with an open terrace. She sits on the low terrace step adjusting her loose hair bun with both hands raised. A light warm breeze moves loose strands of hair. She smiles naturally while the camera struggles to lock focus.
00:02–00:05
The camera follows her into a narrow alley lined with potted plants and plastered walls. She notices a neighborhood cat resting on a warm concrete ledge, crouches down, and gently pets it. Framing drifts off-center as the operator tries to keep up. Morning sunlight flickers through banana leaves overhead.
00:05–00:08
Small front terrace with a glass of sweet iced tea on a wooden stool. She sits relaxed on a plastic chair watching the quiet gang, casually brushing hair behind her ear. A motorbike passes slowly in the distant background. Handheld side angle with natural camera drift.
00:08–00:10
She turns toward the camera with a warm, genuine smile, gives a gentle nod of acknowledgement, then turns to walk down the tree-lined alley holding her iced tea. Recording cuts abruptly to black mid-motion as if the camcorder was switched off.
Audio: Hyper-detailed environmental ASMR binaural audio — crisp micro-sounds captured up close with high sensitivity. Crisp rustle of cotton fabric and linen as she moves, deep rhythmic cat purring vibrating close to the microphone, ice cubes gently clinking against the glass condensation, soft scuff of leather sandals on textured concrete pavement, dry banana leaves brushing together in the warm breeze, rhythmic faint sound of a sapu lidi broom sweeping fallen leaves nearby, water dripping into a terracotta gentong, distant gentle crowing rooster, faint muffled low-frequency hum of a passing motorbike down the alley. Pure natural foley textures, zero music, zero studio effects, zero narration, zero speech.
Goal: Authentic Indonesian neighborhood life captured like a forgotten home video from the early 2000s — candid, imperfect, realistic, warm, and deeply believable, with immersive environmental ASMR soundscape.