Ini mungkin agak panjang, tapi kelihatannya relevan sama urusan kibul-mengibul ini.
Tahun 2020, saya pernah diundang ke acara pelepasan kepala cabang Bank BRI Katamso yang naik jabatan dan pindah wilayah. Saya diundang karena ndilalah, Pak Kacab ini suka baca buku saya, jadi saya diundang sama anak buahnya buat semacam ngasih kejutan gitu lah.
Saya cuma diminta hadir dan baca puisi bareng Brian vokalisnya Jikustik (Pak Kacab ini juga suka Jikustik).
Acara selesai pukul setengah dua belas malam. Begitu acara selesai, saya langsung pulang naik Gocar.
“Ini ramai-ramai ada acara apa, Mas?” tanya sopir Gocar yang mengantar saya.
“Oh, ini acara BRI, Mas.” Jawab saya dengan nada datar.
“Seminar, Mas?”
“Bukan. Pelepasan bos yang dapat promosi jabatan dan dipindah ke Palembang.” Saya memang agak capek, jadi saya agak kurang bersemangat untuk berbincang-bincang. Sedari awal, saya sudah meniatkan diri untuk tidur di mobil sepanjang perjalanan.
“Jadi Mas ini karyawan BRI?” tanya si sopir.
Sungguh pertanyaan yang agak menjengkelkan. Sudahlah menjengkelkan, aneh pula. Mosok saya yang tampangnya dekil dan sangat tidak Perbankan-able kayak gini dianggap karyawan BRI.
Saya bingung bagaimana cara menjelaskan kepada Mas sopir dengan jawaban yang singkat. Saya bingung bagaimana menjelaskan kepadanya bahwa saya bukan karyawan BRI, saya hanyalah penulis, dan kebetulan petinggi yang mendapat promosi jabatan itu suka baca tulisan-tulisan saya, trus sebagai bentuk kejutan, anak buahnya meminta saya untuk ikut mengisi acara, konsep acaranya musik dan seni, di sana saya disuruh baca puisi.
Ah, rasa-rasanya kok rumit sekali.
Dengan pertimbangan agar saya tidak perlu menjelaskan sesuatu yang berbelit-belit, saya akhirnya memutuskan untuk berdusta.
“Ya, Mas, saya karyawan BRI,” jawab saya.
Saya berharap, dengan jawaban itu, Mas sopir puas dan mengakhiri basa-basinya. Jujur, saya sangat suka basa-basi. Juga sangat suka mengobrol dengan sopir. Tapi tidak malam itu. Tubuh saya capek sekali.
Tapi dasar nasib, terkadang, ia suka memberikan kejutan pada kita.
“Alhamdulilllaaaaaah…” kata si sopir tampak sangat bahagia. Saya melirik, tampangnya begitu bersemangat begitu tahu bahwa penumpang yang duduk di sebelahnya adalah seorang karyawan BRI.
Saya mulai merasa ada sesuatu yang tidak enak. Dan benar saja. Kalimat pertama yang keluar dari mulut Mas Sopir adalah kalimat yang laksana peluru bagi saya.
“Kebetulan sekali, Mas. Saya pengin nanya-nanya soal proses pengajuan KUR (Kredit Usaha Rakyat).”
Modiaaaaaaar.
Tujuan saya mengaku sebagai karyawan BRI saya niatkan agar saya percakapan selesai. Tapi ternyata saya salah, pengakuan tersebut malah membuat saya pada percakapan yang semakin panjang.
Tidak mungkin saya bilang “Tadi itu saya bohong, Mas. Saya sebenarnya bukan karyawan BRI, saya hanyalah penulis, dan kebetulan petinggi yang mendapat promosi jabatan itu suka baca tulisan-tulisan saya, trus sebagai bentuk kejutan, anak buahnya meminta saya untuk ikut mengisi acara, konsep acaranya musik dan seni, di sana saya disuruh baca puisi...”
Tapi kan saya tengsin kalau begitu. Lagipula, saya tak tega jika harus menebas harapan Mas sopir yang entah kenapa tampangnya mendadak menjadi sangat cerah dan bersemangat sekali itu.
Ah, brengsek betul.
Pada akhirnya, saya kemudian melayani pertanyaan-pertanyaan Mas Sopir. Tentu saja saya menjawab dengan jawaban-jawaban normatif dan banyak ngibulnya. Sesekali sambil curi googling.
Percakapan soal KUR tersebut kemudian menjadi sangat panjang, sebab Mas Sopir bukan hanya bertanya soal KUR, namun juga tips-tips agar lolos BI checking, sampai tips-tips berhubungan dengan leasing.
Perjalanan malam itu benar-benar membuat saya belajar. Betapa memilih sebuah pilihan agar terhindar dari sesuatu yang tidak kita inginkan justru bisa memuluskan jalan kita pada sesuatu yang tidak kita inginkan tersebut.
Kelihatannya memang inilah risiko menjadi orang Jawa yang punya budaya tidak enakan dan kerap susah buat thas-thes.
Hae modyar aku, hae modyar aku...
🚨 BREAKING:
Imam of the Kaaba made this dua for
marriage at the end of Tarawih prayer!
O Allah, do not leave any single person
without granting him/her a spouse.
Repost this and say AMEEEEEEEEEEEN.
Tidak ada pekerjaan yg mudah, tapi menjadi pengangguran pun tidak enak.
Menikah itu rumit, tapi melajang pun tidak selamanya menyenangkan.
Merantau itu berat, tapi diam di rumah pun juga tidak mudah.
Belajar itu melelahkan, tapi kegagalan pun sama sekali tidak indah.
Mempertahankan hubungan itu sulit, tapi memutuskannya pun bukan berarti lega.
Bahkan proses memantaskan diri menjadi lebih baik itu jalannya terjal, namun diam stagnan di tempat pun bukan pilihan yang tepat.
Pada akhirnya, setiap jalan itu melelahkan. Namun, jiwa cerdas yang sesungguhnya adalah keberanianmu untuk memilih lelah yang memang pantas diperjuangkan.
Sejak menjadi dosen, saya memutuskan untuk tidak mengikuti (follow) satu pun rekan kerja maupun mahasiswa di media sosial, dan hanya fllw akun yang sesuai dengan minat pribadi, seperti sepak bola, berita ekonomi, dan akun-akun hiburan seperti setkab, KSP, dan sesneg.
Kenapa saya melakukan itu?
Karna saya menilai,
ada efek dua sisi, baik itu korelasi dan kausalitas, antara dunia maya dan nyata. Akibatnya sering memicu kompetisi tidak sehat dan tidak perlu, alias kita jadi gampang fomo.
Saat kita mengikuti orang yang dikenal secara personal, muncul dorongan psikologis untuk membandingkan hidup. ngeras gitu kan?
Misalnya,
saat melihat mereka berlibur, muncul rasa "harus" ke sana hanya karena ada kedekatan sosial.
Kita merasa mampu dan wajib meniru, padahal secara objektif itu bukan sebuah kebutuhan. Pernah ngerasain ini kan?
padahal teman kita ini, bukan sdg promosi, tp y kita jadi pgen aja gt.
Rasa FOMO ini, sering banget muncul bukan dari kebutuhan nyata, melainkan dari stimulus asing di lini masa, yang nongol terus menerus di timeline.
dg membatasi lingkaran sosial di sosmed, saya menjaga ketenangan pikiran dari distraksi yang tidak perlu.
jadi bisa fokus war beasiswa S3 dan ngetroll pemerintah.