Nikita Willy: "Sejauh mana batasan keterlibatan mertua dalam rumah tangga anaknya?"
Bu Rani: "Saya kalau mau ke rumah anak saya, saya WA mantu saya dulu."
Mungkin dia lagi capek. Mungkin kulkasnya kosong. Mungkin dia lagi ingin sendiri.
"Anak kita siap menerima kita kapan saja. Tapi menantu kita belum tentu."
Setuju ya bu ibu 🤔
Bu Rani bilang banyak orang tua sebenarnya tidak membenci menantunya.
Mereka hanya tidak siap menerima satu kenyataan:
"Anak kita sudah ada yang punya."
Karena sejak menikah, anak yang selama ini hanya menjadi bagian dari keluarga kita, kini juga menjadi bagian dari keluarga orang lain.
Dan tidak semua orang tua siap dengan perubahan itu.
Menurut Bu Rani, banyak konflik mertua dan menantu bukan karena ada yang jahat.
Tapi karena ekspektasi.
Mertua berharap menantunya punya pandangan hidup, kebiasaan, bahkan nilai yang sama dengan keluarganya.
Padahal menantu dibesarkan oleh orang tua yang berbeda.
"Kalau kita sebagai orang tua sudah memberikan restu kepada anak kita untuk menikah, biarkan mereka menjalani hidup dengan nilai-nilainya sendiri." — Bu Rani
Menurutnya, nilai yang diajarkan orang tua kepada anak belum tentu cocok untuk pasangan hidup anaknya. Karena itu, orang tua perlu siap menerima bahwa anaknya mungkin akan memiliki cara hidup yang berbeda setelah menikah.
cc:threadhallolalalah
A bird has never paid rent to live in the sky. A tree has never paid to stand in a forest. The sun has never been charged for rising. The river has never paid to flow.
Yet humans spend their whole lives trying to earn permission to exist on earth
“Rakyat kita bermimpi untuk hidup layak.”
Orang mah mimpi tuh keliling dunia, sekolah tinggi sampai S3 atau jadi profesor, punya penghasilan 3 digit perbulan… untuk hidup layak DOANG kok harus BERMIMPI tuh berarti negaranya gagal wok
Also, if you know the amount of courage it takes for victims to speak up knowing fully well they’d have to relive every moment due to scrutiny, the social stigma involved and the probability of them not getting justice?
I have no option but to be victim centered
ketika guru-guru dinaikkan gajinya hingga 300% tapi cuma beberapa detik🥹
“karena itu pemerintah saya telah menaikkan gaji-gaji guru. ada yang sampai hampir 300% naiknya penghasilan guru-guru. EEEEE HAKIM-HAKIM KITA.”
This might seem insignificant to some but this is how men often disrupt women's fun, take pleasure in their discomfort and then gaslight them by labelling their reactions as crazy, dramatic or “too emotional”
Babies get raped. Elderly women get raped. Women dressed modestly get raped. Women in hijabs get raped. Nuns get raped. Women in jeans, tracksuits, pajamas, school uniforms, and work uniforms get raped. There is no outfit that prevents rape and no outfit that invites it.
If you are more comfortable analyzing a woman’s clothing than condemning a rapist, you are part of the problem.
It’s always funny how men have to invent the most unrealistic scenario imaginable just to justify mistreating women. Firefighters are literally emergency workers paid to save lives, but in their fantasy world, a woman having boundaries somehow cancels their professionalism.
"Men aren't allowed to cry."
Neither are women. We're also not allowed to cry. When we cry, we're denied leadership positions. We're told we're too emotional. We're too sensitive.
We're not logical. We're not even allowed to cry when we're abused and graped. We're being "dramatic." We're not allowed to cry about the suffering happening around the world because if we cry that means we're weak.