@bardanslm Itu namanya safe space mas. Di luar rumah energi abis dipake buat mikir taktis dan strategis. Begitu pulang, otak otomatis shutdown karena tau rumah adalah tempat paling aman buat jadi "planga-plongo" tanpa takut dihakimi dan dinilai ga perform hehe.
saya sangat relate👆
Kemarin pas di Singapura, dapet driver taksi online yang asyik diajak ngobrol. Pas cerita-cerita, gw kaget banget karena ternyata dia lulusan NUS (National University of Singapore). Salah satu kampus top 10 dunia. Dia ngaku lagi struggle nyari kerja kantoran. Gw sama sekali gak berniat merendahkan profesi driver. Nyari uang halal itu terhormat. Cuma jujur, sempat heran kok bisa lulusan kampus sekelas NUS yang reputasi globalnya luar biasa, berujung narik taksi online demi bertahan hidup?
Fenomena ini namanya Underemployment (bekerja di bawah kualifikasi/pendidikan). Di Singapura yang super kompetitif, hal ini nyata terjadi karena beberapa faktor struktural yang rumit. Singapura itu hub global. Lulusan lokal gak cuma saingan sama temen seangkatannya, tapi juga sama talenta terbaik dari seluruh dunia (US, Eropa, India, China) yang mau masuk ke sana.
Standar korporasi di sana sangat tinggi. Banyak fresh grads terjebak lingkaran setan. Perusahaan nyari yang punya pengalaman spesifik, tapi gimana mau dapet pengalaman kalau gak dikasih kesempatan kerja? Ditambah lagi, gelombang PHK massal di sektor tech & finance bikin pasar makin jenuh. Singapura salah satu kota termahal di dunia. Ditambah beban cicilan utang kuliah.
Lulusan baru gak punya kemewahan buat menganggur berbulan-bulan cuma demi gengsi nunggu kerjaan impian. Akhirnya, gig economy (seperti Grab/Gojek/Tada) jadi penyelamat. Kenapa? Karena fleksibel. Mereka dapet pendapatan instan buat bayar tagihan hari ini, sambil tetep punya waktu luang buat dateng ke interview kerja kalau dapet panggilan. Di era sekarang, ijazah dari kampus top dunia sekalipun bukan lagi jaminan karir instan yang mulus.
cc : meezusaka
Lewat di tl langsung bikin diem bentar. Merinding beneran denger doanya
“Jika bapak mengkhianati rakyat, maka saya orang pertama yang bersaksi di hadapan Allah SWT dan meminta melipat gandakan siksaan Bapak di Neraka”
UAH Kepada Prabowo.
Ngeri bgt, urusan amanah rakyat emang taruhannya langsung akhirat. Jangankan jd pemimpin, jd rakyat yg denger kalimat ini aja langsung deg-degan bgt 😭
Guys, gua punya tante sebut aja Tante Anita yang nikah di umur 32 tahun dan sampai sekarang masih jadi bahan obrolan di arisan keluarga.
Bukan karena ada yang salah dengan hidupnya.
Tapi justru karena tidak ada yang salah sama sekali dan itu yang bikin beberapa anggota keluarga tidak bisa berhenti kasih komentar yang tidak diminta.
Waktu teman-teman seangkatannya sudah ramai kondangan dan upload foto hamil di Instagram, Tante Anita lagi solo trip keliling Lombok dan Labuan Bajo sendirian dengan carrier 40 liter dan itinerary yang dia susun sendiri.
Waktu sepupu-sepupunya sibuk hunting furnitur rumah baru, dia lagi negosiasi salary untuk posisi yang dia impikan sejak awal karir.
Waktu orang-orang sekitarnya mulai panik dengan usia dan tekanan sosial yang makin kencang, dia lagi menikmati weekend di warung kopi favoritnya di Bandung dengan buku dan es kopi susu tanpa harus izin atau laporan ke siapapun.
Dan dia melakukan semua itu bukan karena tidak ada yang mau.
Bukan karena tidak mampu lebih awal.
Tapi karena dia sadar betul satu hal yang banyak orang baru menyadarinya setelah sudah terlanjur bahwa waktu untuk benar-benar menjadi diri sendiri itu punya batas dan tidak bisa diputar ulang.
Gua pernah nanya langsung ke Tante Anita suatu malam waktu kami lagi ngobrol santai di teras rumah neneknya.
Tante dulu tidak takut dibilang telat nikah?
atau jadi perawan tua gitu ??
Dia senyum.
Minum tehnya dulu.
Baru jawab.
Telat dari jadwal siapa coba hahahahah??
Dan gua diam cukup lama karena gua sendiri tidak bisa jawab.
Jadwal itu dibuat oleh siapa sebenernya?
Orang tua?
Tetangga?
Algoritma Instagram yang terus-terusan rekomendasikan konten wedding dan baby shower setiap kali gua buka aplikasi tengah malam?
Tante Anita sekarang sudah menikah.
Dengan seseorang yang dia bilang worth untuk mengubah seluruh ritme hidup yang sudah dia bangun pelan-pelan selama bertahun-tahun.
Dan yang paling menarik adalah dia tidak menyesal sedikit pun menunggu selama itu.
Justru sebaliknya.
Dia bilang justru karena dia pernah hidup sepenuhnya sebagai individu yang mandiri dan utuh punya penghasilan sendiri, punya circle sendiri, punya goals dan rutinitas dan cara menikmati hidup yang benar-benar miliknya sendiri dia masuk ke pernikahan tanpa membawa kekosongan yang butuh diisi oleh orang lain.
Dia tidak menikah karena takut kesepian.
Tidak menikah karena tekanan keluarga yang sudah tidak bisa ditahan lagi.
Tidak menikah karena merasa waktunya hampir habis.
Dia menikah karena dia ketemu seseorang yang hidupnya genuinely lebih baik kalau orang itu ada di dalamnya.
Tapi Tante Anita juga sangat jujur soal satu hal yang jarang dibicarakan orang dengan terbuka.
Setelah menikah semuanya berubah.
Bukan buruk.
Tapi berbeda secara fundamental.
Mau pergi ke mana harus dikomunikasikan.
Mau ambil keputusan besar harus dipertimbangkan berdua.
Mau spontan harus mempertimbangkan kondisi dan perasaan orang lain yang haknya sama besarnya dengan hak kamu.
Kebebasan yang dulu seratus persen miliknya sendiri sekarang punya dimensi baru yang namanya tanggung jawab bersama.
Dan itu bukan keluhan.
Itu kenyataan yang dia terima dengan sadar dan dengan siap karena dia masuk ke sana bukan dalam kondisi kosong yang butuh diisi tapi dalam kondisi penuh yang siap untuk dibagi.
Tante Anita tidak menunda pernikahan karena takut atau karena tidak ada pilihan.
Dia menunda karena dia tahu ada hal-hal yang hanya bisa dilakukan dengan sepenuh hati waktu kamu masih sendiri.
Dan waktu itu tidak bisa dikembalikan oleh siapapun begitu sudah berlalu.
Jalan jauh sendirian keliling Indonesia.
Kerja keras untuk sesuatu yang murni kamu mau tanpa harus mempertimbangkan impact-nya ke orang lain.
Buat keputusan yang sepenuhnya milik kamu sendiri.
Salah dan belajar dan jatuh atas nama diri sendiri saja tanpa ada yang ikut menanggung konsekuensinya.
Bukan karena hidup berkeluarga tidak indah.
Tapi karena ada fase dalam hidup yang kalau dilewatkan terburu-buru tidak bisa diganti dengan apapun setelahnya.
Dan menikmati fase itu sepenuhnya sebelum melangkah ke fase berikutnya bukan sesuatu yang perlu dimintakan maaf kepada siapapun.
Menurutku, ada 3 masalah yang cukup umum dihadapi banyak cowok:
- baru mulai dapet kerjaan dan mulai nikmati gajinya sendiri, udh didorong2 utk nikah dan ngehidupin anak orang.
- atauu, suka sama seseorang, tp hidupnya masih belum mapan, dan khawatir cewek yang disukainya keburu nikah sm orang lain.
- atauu, udah punya duit cukup, malah diincer sama sodara atau dapet pacar yang super demanding.
Guys kata Tom Lembong di podcast Malaka dan ini salah satu yang paling jujur yang gw dengar dari mantan pejabat Indonesia soal kondisi sekarang.
Dia bilang kebijakan luar negeri Indonesia sekarang paling berantakan sejak 1965.
Bukan sejak 1998. B
ukan sejak reformasi. Tapi sejak 1965.
Dan dia kasih contoh konkret yang bikin gw tidak bisa bantah.
Beberapa minggu lalu Indonesia bergabung ke Board of Peace yang diketuai Amerika dan Israel.
Seminggu setelah itu Amerika dan Israel menyerang Iran.
Sekarang Indonesia ngemis ke Iran minta kapal tanker kita boleh lewat Hormuz.
Dan Iran dalam kondisi marah besar habis diserang mau simpati ke kita?
Itu konsekuensi langsung dari kebijakan luar negeri yang tidak berprinsip.
Soal energi ini yang paling bikin gw ngeri.
Stok BBM dan LPG nasional kita hanya ekuivalen dengan 20 sampai 25 hari konsumsi.
Itu saja.
Kalau Hormuz tidak buka dalam 25 hari puluhan kota di Indonesia bisa kehabisan bensin dan gas.
Ibu ibu tidak bisa masak.
Logistik lumpuh.
Bukan skenario jauh.
Itu risiko yang menurut Tom Lembong sangat nyata dan sangat dekat.
Bandingkan dengan Jepang yang stoknya 250 hari. China yang stoknya 1,3 miliar barel.
Mereka sudah siap dari jauh jauh hari.
Kita masih 20 hari dan tidak ada rencana darurat yang jelas.
Dan ini yang paling menyakitkan dari semua yang dia bilang.
Tahun lalu harga minyak dunia lagi murah.
Surplus 2 juta barel per hari.
Itu saat yang sempurna untuk borong dan nambah cadangan nasional.
Tapi tidak dilakukan.
Uangnya dialihkan ke program program lain yang multiplier effect-nya kecil yang kita sudah tau semua itu yaps EMBEGE
Soal tarif Trump Indonesia panik duluan. Buru buru negosiasi. Dapat kesepakatan tarif 19%. Eh satu hari kemudian Mahkamah Agung Amerika batalkan tarif itu karena ilegal. Negara yang tidak panik sekarang cukup bayar 10%. Kita yang paling semangat negosiasi malah kena 19%.
Tom Lembong bilang ini pelajaran lama yang terus diulang. Kalau kita tinggalkan prinsip demi keuntungan jangka pendek hasilnya selalu buruk. Selalu.
Dan kata dia satu satunya hal yang bisa dilakukan masyarakat sekarang hemat. Kencangkan ikat pinggang. Nabung. Dan mulai pikirin alternatif kalau LPG benar benar langka.
Karena pemerintah sendiri belum punya solusinya.
🚨🇦🇺 The Sydney attacker: Naveed Akram a Druze Syrian who served in the Israeli military.
▪️ Identity confirmed by Australian authorities
▪️ He is not Muslim
▪️ Previously deployed in Gaza
Despite the media spin, the truth is out.
Will it be silenced or exposed?
‼️🇮🇱 Smartphones worldwide were silently infected with Israeli malware via malicious ads
Simply viewing their ads was enough to get infected.
Surveillance company Intellexa gained full access to cameras, microphones, chat apps, emails, GPS locations, photos, files, and browsing activity.
Well this is awkward for those still denying the Mossad, 9/11 connection.
The supposed 9/11 highjacker Ziad Ali-jarrah is the nephew of a known Mossad agent, Ali Al-Jarrah. Ziad’s other uncle Yousef was also an agent.
And that mystery passport that survived 9/11, it supposedly belongs to Ziad. Amazing how passports can withstand bombs, thermite and jet fuel following a controlled demo.
In fact Ali Jarrah said he was recruited in 1983, a year after Israel began a major invasion of Lebanon, by Israeli officers who had imprisoned him, according to investigators. He was offered regular payments in exchange for information about Palestinian militants and Syrian troop movements, they said.
And that United Airlines Flight 93 that Ziad supposedly commandeered, it apparently crashed into a Pennsylvania field after it was hit by a missile fired from a US Air Force plane.
When asked about this, Mark Regev, a spokesman for then disgraced Israeli pm Ehud Olmert, declined to discuss Mr. Jarrah's situation, saying, "It is not our practice to publicly talk about any such allegations in this case or in any case." Not even a denial!
Babylon has no face, only shadows. No throne, only systems. The moment you question who sits at the top… you realize the real power is hidden in plain sight.. ✌🏼
I didn’t erase Singapore’s history, your PM did.
And Lee Kuan Yew spent decades warning Singaporeans not to forget the Japanese occupation, precisely because he knew how convenient forgetting would be for politicians.
If quoting your own national history offends you, maybe the problem isn’t my words.
Maybe it’s that they remind you of what your leaders have chosen to forget.
Japanese say that Chinese are impolite towards Japanese diplomats. Let's take a look at how Japan treated Chinese diplomat.
In 1928, there was no war between China and Japan. The KMT government, now in Taiwan, was attempting to unify China, while the Japanese supported some other China warlords to prevent the KMT from unifying China. The person in the right photo was named Cai GongShi, he was ordered by Chiang Kai shek to go to Jinan for diplomatic negotiations with the Japanese. The Japanese brutally killed him by cutting his nose, ears, and eyes, as well as his 16 followers.
Now Japanese diplomat have at least returned to Japan in their entirety.
Destruction of Saint George Statue by Israeli Forces Sparks Outcry Over Treatment of Christian Heritage
The "only democracy in the Middle East" just bulldozed a Christian saint. This is what happens when religious fanatics get a state and an army: every faith becomes their enemy.
I actually know this because I looked at buying a factory in Karawang some time ago.
1) Everyone in Indonesia is a little bit guilty. You basically can’t do business without it. So…
2) The factory made a product sold to consumers. The product price was 100 ribu per unit.
NEW: Far-Right individuals paid up to £70,000 to go and kill innocent Muslims during the Bosnian Genocide
Prosecutors in Milan have opened an investigation into Italian tourists who are accused of paying £70,000 to join ‘human safaris’, shooting and killing innocent Bosnian Muslims in the 1990s .
Prosecutors allege these ‘tourists’, many of whom had ties to far-right circles, paid the Bosnian Serb army for weekend trips to besieged Sarajevo, where they shot from rooftops at the city below.
They paid an additional fee to kill children with the sniper rifles, according to the court filing.
Between 1992 and 1996, more than 11,000 people were killed in Sarajevo by shelling and sniper fire in the longest siege of a capital city in the history of modern warfare.