@Stakof Nadi cenblu ini apaan sih, “dus-nodusih”, dari sekian panjangnya pemaparan Tempo bahwa itu paket istana, kalau itu kamu anggap kebetulan dan bisa menyanggahnya gak bakal nulis kek gitu @mnadielmadani7 malah jawab apalpal 😂
@3CareIndonesia@triindonesia Tempat saya sudah setahun lebih mengalami sinyal buruk, sepertinya tidak ada evaluasi dadi pihak Tri Indonesia. Kalian itu sudah jualan paket internet yang mahal, jangan sampai kualitasnya malah buruk!
@3CareIndonesia Min di tempatku udah setahun lebih sinyalnya buruk banget, padahal provider lain bagus-bagus. Kayaknya semenjak gabung Indoset jadi jelek
Ingin jadi siswa lagi, tapi dengan kemampuan yang sekarang dan diampu oleh mustahiq seperti diriku sendiri yang dapat memahami problem-problem yang menghambat kemampuanku dulu.
Padahal jika—misal—berjumpa dengan lulusan luar negeri karena banyak yang dirasa gagal, apa lulusan pesantren tidak banyak?. Padahal jika melihat tradisi kiyai-kiyai dahulu, banyak dari mereka yang belajar di luar negeri. Berbeda pendapat adalah hal yang wajar kan? Tapi entah lah
Saya nggak tau, kenapa banyak orang pesantren yang mengecap lulusan luar negeri—konteksnya Univ-univ seperti Al-Azhar atau kampus keagamaan yang lain—seakan-akan kurang baik.
Entah, apa karena sering berjumpa dengan lulusan dari luar negeri yang kurang memberi sumbangsih di masyarakat, apa karena berjumpa dengan lulusan yang kurang mumpuni, atau apakah punya sentimen pribadi? Saya tidak tahu. Yang jelas, saya berbeda pendapat dengan mereka.
Entah seperti apa hasilnya, pokok usaha dulu. Tapi yang jelas seorang hamba tetap berharap yang terbaik dari apa yang diusahakan.
وأفوض أمري إلى الله، إن الله بصير بالعباد