Apakah yg kena dampak rupiah melemah terhadap dollar hanya yang jalan2 ke luar negeri?
Kayanya ini kudu diluruskan dulu yo.
Karena pengusaha2 juga kena dampak.
Otomatis kalo pengusaha kena dampak, mreka akan naikin harga jual di lapangan secara perlahan.
Yang kena? Yg beli.
Update negara kecintaan kita hari ini:
- Rupiah melemah di 17.063 per 1 USD
- IHSG anjlok di 6.971
- Tabungan pemerintah di BI tersisa 120T
Sementara itu,
BGN beli 25.000 sepeda listrik senilai 49 juta per motor, atau 1,22 T in total..
Gak paham lagi gue
Trump : Kita perlu $2 miliar sehari untuk membuka kembali Selat Hormuz...
Senator AS : Tapi Selat Hormuz udah terbuka sebelum perang...? jadi apa tujuan dari seluruh perang...?
Anda udah menciptakan sebuah krisis global yang sebelumnya gak ada... 🔥🔥🔥
Microplastics are already inside us and they are affecting our health. Professor Ragusa explains where the real problem lies and why it's not just about plastic. Are you ready to find out what each of us needs to do to solve this problem?
For more details, follow the link.
Berita datang beruntun. Badai, banjir, erupsi, hingga satwa liar yang kehilangan habitatnya. Ketika bencana datang bertubi, mudah bagi kita untuk merasa cemas dan gamang. Namun, justru di saat seperti inilah kita perlu kembali menguatkan semangat saling bantu, warga jaga warga.
Telah nyata kerusakan di darat dan di laut karena ulah tangan manusia. (QS 30:41)
Catatan reflektif tentang bencana…
Rangkaian badai, tanah longsor, banjir bandang, gunung meletus, hingga satwa yang kelaparan belakangan ini jangan hanya kita pandang sebagai musibah alam, tetapi wajib dipandang sebagai cermin diri.
Badai, hujan lebat, gunung meletus, adalah peristiwa alam yang telah berlangsung jutaan tahun. Namun, kita memperparah dan mengubahnya menjadi bencana ketika kita memperlakukan alam tanpa etika. Tata ruang dilanggar, hutan ditebang habis, pesisir dicemari, habitat satwa dihancurkan.
Ingat kan di masa kampanye lalu kita pernah sama-sama membahas tentang pentingnya tobat ekologis, yaitu mengakui dosa kolektif kita pada bumi, lalu mengubah cara kita hidup dan cara negara mengelola kuasa?
Kita perlu mengakui bahwa kerusakan ini adalah hasil pilihan kolektif, mulai dari kebijakan yang lemah, mengabaikan analisis risiko, pengawasan yang longgar, serta ketidakpedulian ketika aturan dilanggar demi keuntungan jangka pendek yang hanya dinikmati sebagian orang.
Hari ini kita harus jujur bahwa kita terpaksa hidup berdampingan dengan bencana. Terlalu sulit untuk mencegah semuanya. Iklim sudah berubah, bentang alam sudah banyak dilukai. Namun, kita masih bisa mengurangi risikonya, sembari terus berusaha memperbaiki kerusakan alam.
Caranya, dengan tata kelola yang transparan, penegakan hukum yang tegas, gaya hidup yang lebih ramah bumi, keberanian berkata “tidak” pada proyek yang merusak, serta mendidik dan membiasakan mitigasi bencana secara serius bagi seluruh masyarakat.
Ini mungkin unpopular opinion: bumi tidak peduli pada kita, dan bumi tidak butuh kita peduli padanya. Bumi akan terus berputar, dengan atau tanpa manusia. Yang sedang terancam punah bukanlah planetnya, tapi keberlangsungan hidup kita sendiri. Maka kitalah yang butuh peduli pada bumi.
Tobat ekologis, sebuah pengingat dari Paus Fransiskus, adalah upaya yang harus kita jalankan untuk mengembalikan batas. Batas serakah, batas abai, batas melanggar aturan. Demi bumi yang lebih layak dihuni untuk anak dan cucu kita semua. •••
@NanaUserMM@Blue_skyzen@IndoPopBase Yg ga seberapa cuma bikin tai itu seenggaknya punya manfaat buat badan lu ya bang. Nenangin stress+nyehatin juga banyak caranya bwangg
@worksfess Yu nder bisaa kita sabar dikit lagi.
kemarin juga aku gitu, ketemu temen SMA udh excited ngobrol seru karna udah lama ga ketemu, eh baru mau buka obrolan dia malah pamer penghasil dan pencapaian dia yg udah banyak ngasih pinjem uang ke orang. Kesel sih, tapi yaudahlah
Aku ngajarin dan ngasih pemahaman ke murid-murid tentang pentingnya jaga hutan, pentingnya mencegah deforestasi dan pentingnya berpikir kritis akan dampak deforestasi itu sendiri, ehh presidennya malah...
Ah gataulah, cape bgt punya pemimpin ga paham "deforestasi"