Kerajaan Islam pertama di tanah Jawa tidak lahir dari kedamaian.
Ia lahir dari darah saudara yang saling bunuh demi tahta, dari pedagang Tionghoa yang diam-diam mengubah wajah kekuasaan, dan dari ambisi seorang raja muda yang ingin disebut setara sultan Turki.
“Research Gap” ternyata easy bgt tinggal cari "Jurnal minimal 10" misal Artikel Nasional or Scopus terus dipetain dah pake “Matrix Perbandingan Literature”
sini sini simak tipsnya..
biasain Jangan AI yaa biar kagak brainroot pikiran luuu dah bayar UKT juga luuu
penelitian ini justru menunjukkan hal yang menarik dari fenomena Soung Horeg, diksi-diksinya nya juga nyentrik.
>Sound horeg diteliti sebagai alat sekaligus arena perebutan kuasa di pedesaan Jawa, bukan sekadar hiburan.
>Melalui etnografi, pesta bising ini dilihat sebagai jeda simbolik bagi petani kecil agar bisa keluar dari posisi subordinat dalam struktur kekuasaan desa.
>Petani kecil merasakan kembali kuasa ketika berperan sebagai panitia, operator, atau pemain festival (bisa mengatur, memerintah, dan menentukan aturan).
>Pemulihan kuasa itu bersifat ambivalen: alih-alih membebaskan, praktik ini justru mereproduksi hierarki yang sama (siapa pegang mikrofon, kuasai listrik, atau atur panggung)
>Ada paradoks mendasar: festival yang dianggap pelarian dari tekanan struktural justru menampilkan watak kekuasaan yang bising, memabukkan, dan licin.
>Dentuman sound horeg berfungsi sebagai sabotase halus terhadap dunia yang lama membisukan mereka, tapi “perlawanan”-nya berhenti di euforia tanpa arah perubahan sosial atau kesadaran kelas.
>Pada akhirnya, sound horeg menjadi katup pelepas frustrasi yang menyalurkan luka struktural ke ranah hiburan, sambil tetap mempertahankan dan mereproduksi kuasa yang penuh bualan dan kebisingan.
menarik, catatan reflektif dari Mintif adalah ketika orang kecil diberikan kekuasaan, dengan struktur sosial yang sudah terbentuk juga rawan akan penyalahgunaan wewenang, meskipun sudah dimaklumi oleh warga setempat.
Sedang membaca suatu jurnal perjalanan milik pegawai kolonial Belanda. Ia bercerita tentang perjalanannya menyusuri Jawa Tengah pada 1850-an.
Pernahkah si penulis terpikir, bahwa ceritanya itu akan dibaca (dan sungguh dinikmati) oleh seseorang 170 tahun kemudian?
Literatur..🌻
Bahasa Indonesia jgn dikira mudah.
Justru level soalnya kadang setara jenjang SD akhir.
Di ujian-ujian, teks level itu yg sering dipakai.
Klw guru kalian bs kerjakan pun, itu bukan sesuatu yg wouh. Apalagi ada pilihan ganda.
Coba, apa gagasan utama teks level mahir?
10 Oktober 1945
Kemungkinan merupakan kali pertama prinsip-prinsip Pancasila dipublikasikan di pers Spanyol🇪🇸
1. Creencia en Dios / Ketuhanan
2. Nacionalismo / Kebangsaan
3. Universalismo / Kemanusiaan
4. Democracia / Democrasi
5. Seguridad Social / Keadilan Sosial
Sejarah genetik nenek moyang penutur Oceanic di kepulauan Bismarck bisa direkonstruksi dari data arkeogenetik individu² kuno yang hidup 3000-500 tahun lalu di berbagai lokasi di pesisir Papua Nugini dan Kep. Bismarck.
Secara general, ketika nenek moyang Ami (salah satu kelompok etnolinguistik di Taiwan) mendarat di Taiwan, nenek moyang penutur Oceanic terpisah dan terus melanjutkan perjalanan menuju Pasifik. Dan ketika sebagian dari mereka memutuskan belok ke arah Kep. Mariana, sebagian yang lain terus melanjutkan perjalanan menyusuri pesisir utara PNG hingga sampai ke Kep. Bismarck.
Hanya model tersebut yang sesuai dengan data² arkeogenetik yang dianalisis oleh Kathrin Nägele et al. (2025)
Detail dari persebaran nenek moyang penutur Austronesia ke segala penjuru Kep. Asia Tenggara dan Pasifik mungkin akan saya drop hanya untuk Subscribers. So, don't miss it!
Peter Carey, yang menyampaikan materi “State Corruption and Its Containment: What Can Present-Day Indonesia Learn from 18th Century England.” Dalam pemaparannya, ia menelusuri praktik korupsi masa Gubernur Jenderal Daendels dengan membandingkannya dengan Inggris abad ke-18.
Carey menjelaskan bahwa Daendels memang dikenal sebagai figur revolusioner yang memperkenalkan sistem administrasi baru, seperti pemberian seragam bagi aparat lokal dan pengaturan status sosial.
Namun, kebijakan tersebut justru membuka ruang korupsi di level birokrasi, memperkaya elite kolonial dan memiskinkan rakyat. Ia menyoroti proyek pembangunan Jalan Raya Pos yang monumental tetapi penuh penderitaan. Rakyat dipaksa bekerja tanpa imbalan, meninggalkan lahan pertanian, dan banyak yang menderita sakit hingga meninggal.
Daendels juga memanfaatkan posisinya untuk memperkaya keluarga melalui perusahaan pribadi yang dikenal sebagai Daendels Company. Dari pengalaman itu, Carey menekankan bahwa reformasi antikorupsi hanya berhasil jika ada political will yang kuat, karena moralitas semata tidak cukup untuk membendung praktik penyalahgunaan kekuasaan
sumber: https://t.co/Xi5L5mAqub
Makanya, ada pernyataan menarik soal debat beginian.
Bacalah Tere Liye untuk periode sasi awal literaturmu. Tapi, bila kamu selama bertahun-tahun berasa di tingkat itu, berarti ada yang keliru dalam kognitifmu.
Bukan bodoh, rendah, atau apa.
Ilmu Sosial di Indonesia Ditaburi Konsep dan Pemikiran Barat karya Arief Budiman menanggapi Harsja Bachtiar soal konsep Barat, kapitalisme & manusia serakah; baginya, ilmu mesti diuji pada kenyataan dan tumbuh dari bentrokan pendapat, tanpa rasa sungkan.
https://t.co/yHyBWJmofh
Senin 7 Januari 1974 Presiden Soeharto menyampaikan RAPBN dalam Sidang Paripurna DPR. Ini adalah RAPBN pertama untuk Repelita II (1974-1979). Anggaran Berimbang yang dinamis, demikian prinsip anggaran saat itu.
Di bagian kiri ada berita harga BBM naik Rp 5,-, gaji guru naik 8 kali dan pegawai/ABRI naik 6 kali. Ditulis pula para anggota parlemen kerap bertepuk tangan mengapresiasi isi pidato Presiden.
Izin menambahkan
Kalau teman-teman ingin lebih memahami kenapa keluarga dari aktris Korsel tsb diserang, bisa membaca buku ini.
Ahli malaria J. Kevin Baird dan ahli genomik Sangkot Marzuki meriset kejahatan medis pencemaran vaksin tetanus Rōmusha. Vaksin ini menjadi tidak aman, diduga karena direkayasa oleh Jepang. Namun kejahatannya dituduhkan kepada ilmuwan kita Achmad Mohtar yang saat itu memimpin Lembaga Eijkman.
Meski tuduhannya tidak jelas, Achmad Mohtar tetap dihukum mati agar para staf peneliti lain tidak menjadi korban dalam penyelidikan.
Sebelum Ada Alun-alun Mataram, Majapahit Diduga Sudah Mengenal Konsep Ruang Pusat Kota
Kalau melihat kota-kota tua di Jawa, kita akan menemukan pola yang hampir selalu sama. Sebuah lapangan luas berbentuk persegi berada di depan pusat pemerintahan. Di dekatnya berdiri tempat ibadah, pasar, dan kawasan penting lainnya.
Banyak orang menganggap pola ini berasal dari Kesultanan Mataram Islam. Namun, sejumlah bukti sejarah menunjukkan bahwa konsep ruang pusat seperti ini kemungkinan sudah dikenal jauh lebih awal, bahkan pada masa Kerajaan Majapahit.
Salah satu sumber terpenting adalah Nagarakretagama karya Mpu Prapañca (1365 M). Dalam pupuh 8–12, Prapañca menggambarkan tata letak ibu kota Majapahit secara cukup rinci. Ia menjelaskan adanya kompleks keraton yang dikelilingi tembok, gerbang-gerbang besar, balai pertemuan, bangunan keagamaan, permukiman pejabat, hingga kawasan para bangsawan.
Deskripsi tersebut kemudian dipadukan dengan hasil penelitian arkeologi di Trowulan, yang diyakini sebagai bekas ibu kota Majapahit. Berdasarkan penelitian arkeolog seperti Maclaine Pont, Stutterheim, hingga Hasan Djafar, direkonstruksi bahwa di depan kompleks keraton terdapat sebuah lapangan luas yang dikenal sebagai Watangan atau yang dalam rekonstruksi populer sering disebut Lapangan Bubat.
Lapangan ini bukan sekadar ruang kosong. Dalam berbagai kajian, kawasan tersebut diduga menjadi tempat penyelenggaraan upacara kerajaan, latihan militer, penyambutan tamu kerajaan, hingga berbagai aktivitas kenegaraan. Artinya, sejak abad ke-14 sudah terdapat konsep ruang terbuka yang menjadi orientasi pusat pemerintahan.
Menariknya, pola tersebut terus muncul pada masa kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Keraton tetap dibangun berdampingan dengan lapangan luas yang kemudian dikenal sebagai alun-alun, disertai masjid agung dan pasar sebagai bagian dari pusat kota.
Karena itu, sangat mungkin alun-alun bukanlah konsep yang benar-benar baru, melainkan perkembangan dari tradisi tata ruang Jawa yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Jadi ketika kita berdiri di Alun-alun Yogyakarta, Surakarta, Cirebon, atau kota-kota tua lainnya, mungkin yang kita lihat bukan sekadar lapangan. Bisa jadi itu adalah warisan cara berpikir tentang tata kota yang akarnya telah tumbuh sejak masa Majapahit.
Selama sekolah kita dibohongi. Ini bukanlah wajah Gajahmada.
Wajah Gajahmada ini direka untuk kebutuhan Propaganda.
Dan wajah ini puluhan tahun ada di buku sejarah anak-anak Indonesia.
Gini ceritanya….
pemerintah dan founding fathers seperti Moh. Yamin di era 1940-an sengaja menciptakan visual itu karena bangsa yang baru merdeka butuh simbol konkret,
simbol untuk mempersatukan jutaan orang yang baru saja lepas dari kolonialisme. . . ini tugas besar.
anak-anak sosiologi dan komunikasi budaya pasti paham persoalan ini
mirip kasus Himmel di anime frieren. yang di kultuskan oleh naratornya.
tanpa wajah heroik di buku sekolah, patung,
dan propaganda,
Sumpah Palapa cuma jadi cerita abstrak yang tak mampu menanamkan rasa bangga dan identitas bersama.
menurut keyakinan saya,
justru langkah mereka yang cerdas dan visioner, sementara kritik hari ini yang menuduh “dibohongi” justru mengabaikan fakta bahwa setiap bangsa besar di dunia,
dari Amerika sampai Jepang,
pernah melakukan hal serupa demi membangun mentalitas kolektif yang kuat.
so what gitu loh. . .