Cari bahan sendiri
Tulis naskah sendiri
Take sendiri
Edit sendiri
Dilihat sendiri pula,
Astaga...
#maganghukum#AnakAsuhanNegara
https://t.co/0XQSeKdNRf
Di Indonesia, orang tua sering mati-matian nabung buat ninggalin warisan tanah, rumah, atau kos-kosan. Tapi, ada satu warisan antargenerasi (generational wealth) yang paling diremehkan: exposure (paparan dunia luar). Ngajak anak merantau, nyobain makanan daerah yang aneh di lidahnya, ngobrol sama orang beda suku/agama, atau sekadar lihat cara hidup orang di beda kota ⬇️
Anaknya 9 bulan, posisinya blum bisa duduk sendiri. Ibunya mulai khawatir.
Neneknya bilang: "Biasa. Anak zaman dulu juga gitu. Sabar aja."
Tetangganya bilang: "Anak saya dulu juga telat. Sekarang udah normal kok."
Bidannya bilang: "Tiap anak beda, Bu. Jangan dibanding-bandingin."
Temannya bilang: "Loh, anak temen gue malah baru jalan umur 2 tahun. Santai."
Semua menenangkan.
Semua bermaksud baik.
Ga ada yang bermaksud meremehkan.
Jadi ibunya nunggu.
Menunggu.
Dan menunggu.
Nikita Willy: Cara besyukur paling mudah itu gimana teh? walaupun ketika misalnya menurut kita hidupnya tuh lagi sangat-sangat kacau gitu tuh, gimana caranya biar tetap bisa bersyukur?
Fahra Qoonita: Cara paling tepat untuk bersyukur adalah menjalankan kehidupan kita saat ini dengan ketaatan, apapun itu.
Ketika comparing kita jadi ngerasa eh kayanya gue gagal, kayanya gue tertinggal, kayanya gue udah berkerja keras tapi ngga bisa mencapai ini dan itu.
Tapi Allah tuh ngingetin kita, nih buat kita ya kalau kesel itu suka comparing di Quran Surat An-Najm Ayat 39, 40 sampai 41.
Kata Allah nanti manusia hanya akan mendapatkan apa yang dia usahakan, dan apa yang dia usahakan akan dikembalikan kepada dia.
Nikita Willy: "Sejauh mana batasan keterlibatan mertua dalam rumah tangga anaknya?"
Bu Rani: "Saya kalau mau ke rumah anak saya, saya WA mantu saya dulu."
Mungkin dia lagi capek. Mungkin kulkasnya kosong. Mungkin dia lagi ingin sendiri.
"Anak kita siap menerima kita kapan saja. Tapi menantu kita belum tentu."
Setuju ya bu ibu 🤔
Bu Rani bilang banyak orang tua sebenarnya tidak membenci menantunya.
Mereka hanya tidak siap menerima satu kenyataan:
"Anak kita sudah ada yang punya."
Karena sejak menikah, anak yang selama ini hanya menjadi bagian dari keluarga kita, kini juga menjadi bagian dari keluarga orang lain.
Dan tidak semua orang tua siap dengan perubahan itu.
Menurut Bu Rani, banyak konflik mertua dan menantu bukan karena ada yang jahat.
Tapi karena ekspektasi.
Mertua berharap menantunya punya pandangan hidup, kebiasaan, bahkan nilai yang sama dengan keluarganya.
Padahal menantu dibesarkan oleh orang tua yang berbeda.
"Kalau kita sebagai orang tua sudah memberikan restu kepada anak kita untuk menikah, biarkan mereka menjalani hidup dengan nilai-nilainya sendiri." — Bu Rani
Menurutnya, nilai yang diajarkan orang tua kepada anak belum tentu cocok untuk pasangan hidup anaknya. Karena itu, orang tua perlu siap menerima bahwa anaknya mungkin akan memiliki cara hidup yang berbeda setelah menikah.
cc:threadhallolalalah
Ada istilah yang gw baru denger waktu itu: "TOFI."
Thin Outside, Fat Inside.
Orang yang kelihatan kurus di luar, tapi punya lemak visceral tinggi di dalam, di sekitar organ vital.
Lemak visceral ini yang memicu insulin resistance, bukan lemak yang kelihatan dari luar.
Dan minuman manis adalah salah satu penyebab utama lemak visceral naik diam-diam.
Temen gw badannya kurus, tennis padel hampir tiap hari, nge gym juga.
Umur 29 tahun.
Bulan lalu dia divonis diabetes tipe 2.
Gw kaget. Dia lebih kaget.
Dokternya bilang satu kalimat yang bikin semua orang di ruangan itu terdiam.
Saudara kandung gw seorang psikolog yg sehari-hari kerjaannya dengerin dan beresin isi kepala orang lain yg berantakan. Pas kita lg kumpul kemarin, dia buka obrolan.
Dia bilang, "lo tau nggak paradoks paling lucu dari profesi gw?"
Dia cerita, pernah nanganin pasien yg semuanya punya pola masalah yang sama. Mereka gak ada yang bener2 sakit secara fisik, tapi badannya rontok karena pikirannya selalu merantau ke masa lalu atau masa depan.
Siksaan batin yg dijelasin saudara gw ini namanya Mental Time Travel.
Kondisi dimana otak kita terlalu canggih sampe bisa loncat ke masa lalu buat nyeselin hal yg udah lewat, atau loncat ke masa depan buat nyemasin hal yg belum tentu terjadi.
Efeknya? Lo kehilangan masa kini. Lo lagi makan makanan enak tapi nggak ngerasain rasanya, lo lagi jalan sama anak-istri tapi pikiran lo lagi sibuk mikirin cicilan 5 taun ke depan, atau sibuk nyeselin blunder kerjaan minggu lalu.
Dia cerita, banyak pasiennya yg kalau malem sebelum tidur, otaknya kayak muter kaset rusak. Mereka selalu terjebak di zona "Regret & What if"
"Kenapa ya dulu gw gak ambil kesempatan itu?"
"Gimana kalau nanti umur 40 gw mendadak di PHK dan gak punya tabungan?"
Siksaan batinnya adalah masa lalu udah jadi abu, masa depan masih jadi kabut, tapi lo ngorbanin satu2nya hal nyata yg lo punya sekarang, yaitu detik ini. Lo dapet capeknya, tapi gk dapet solusinya.
Gw tanya ke dia, "Kenapa otak kita secara psikologis bisa se terjebak itu?"
Dia jelasin kalau secara evolusi, otak manusia itu emg didesain buat bertahan hidup dg cara mengantisipasi bahaya (masa depan) dan belajar dari kesalahan (masa lalu).
Tapi di jaman sekarang, insting itu malah jadi bumerang. Tiap hari kita liat pencapaian orang lain di medsos yg bikin kita cemas ama masa depan kita sendiri.
Kita dipaksa buat selalu berlari ngejar target, sampe lupa caranya berhenti sebentar buat napas.
Ada satu istilah psikologi yg ngena banget buat kondisi ini:
"The Illusion of Control"
Kita mikir dg merenungkan masa lalu berulang kali, kita bisa mengubah rasa bersalah kita. Atau dengan mencemaskan masa depan, kita bisa mengendalikan hasil akhirnya.
Padahal itu semua cuma ilusi. Satu2nya momen dimana lo punya kekuatan penuh buat bertindak dan mengubah sesuatu itu cuma ada di masa kini.
Gimana cara kita buat lepas dari penjara waktu ini?
Saudara gw kasih terapi simpel yg biasa dia kasih ke pasiennya:
Grounding Technique (5-4-3-2-1)
Pas pikiran lo mulai melayang entah ke taun berapa, paksa mata dan tubuh lo buat fokus ama sekitar.
Sebutin 5 benda yg lo liat sekarang, 4 hal yg bisa lo sentuh, 3 suara yg lo denger, 2 bau yang lo cium, dan 1 rasa di lidah lo.
Cara ini bakal menyeret paksa kesadaran emosional lo kembali ke realita tempat lo berdiri.
Langkah kedua adalah bergaul sama kenyataan, bukan asumsi.
Kurangi bikin skenario terburuk didalam kepala. Kalau emg ada hal yg perlu disiapin buat masa depan, tulis di kertas jadi action plan yg nyata, after itu tutup bukunya.
Belajarlah buat menikmati hal-hal kecil yang gratis.
Dinginnya air pas lo wudhu atau cuci muka, angetnya obrolan ama pasangan sebelum tidur, atau rasa pahit manisnya kopi yg lagi lo seruput.
Pesan dari saudara gw ini:
Masa lalu itu udh selesai tugasnya, dan masa depan itu bukan urusan lo sekarang.
Satu2nya tanggung jawab lo adalah menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya.
Jgn biarin hidup lo lewat begitu aja cuma karena lo terlalu sibuk jadi penjelajah waktu di dalam kepala lo sendiri. Rebut kembali kendali pikiran lo mulai hari ini.
tulisan by ryn pedia
cc: istory selebriti (facebook)
Dalam Neuroscience dan psikologi kognitif, metacognition dikenal sebagai kemampuan seseorang untuk mengamati, mengevaluasi, dan mengoreksi cara berpikirnya sendiri.
Menariknya, Islam sejak awal telah memperkenalkan pendekatan ini melalui konsep QS. al-Qiyamah 75: 2, yaitu jiwa yang menghisab, mengkritik, dan memperbaiki dirinya secara sadar.
Karena itu, Rasulullah Saw menyebut orang cerdas sebagai orang yang mampu “menghisab dirinya”. #elkais
Lo gak mau keliatan lemah di depan pasangan.
Lo gak mau bilang "saya gak ngerti" di meeting.
Lo gak mau cerita masalah lo ke siapa pun karena takut di-judge.
Seorang peneliti dari University of Houston ngabisin 6 tahun riset soal ini. Wawancara ribuan orang.
Dan kesimpulannya bikin dia sendiri kena mental dan masuk therapy.