๐จ JUST IN: Ingat muka mahasiswa ini? Namanya Abdi, Mahasiswa UBK yg sempat bertemu Wapres Gibran di Istana.
Turns out, BEM mereka menerima uang suap dari uang Rakyat sebesar 300 juta.
IYA 300JUTAAA, DAN ABDI INI DAPET SEKIAN PERSENNYA. DUNIA UDAH GILAAA
#IndonesiaGelap
TERNYATA PERWAKILAN BEM UBK KEMARIN, YANG NEMUIN GIBRAN DI BAYAR POLISI GUIS, SEKALI LAGI DI BAYAR POLISI ANJG๐ญ
DAN BEBERAPA MAHASISWA MENUNTUT DIA UNTUK DI 'DO'
idealisme terlalu murah.....
Rakyat protes baik-baik, ga ada yg dengerin. Kritik lewat kesenian (lagu, lukisan, buku, musik) dinilai subversif lantas dibungkam. Protes pake demo, dibilang anarkis dan ditangkap kayak kriminal.
Lantas mesti gimana cara ngasih tau pejabat kalo kebijakan mereka tuh ga bijak.
๐ฅ๐ฎ๐ธ๐๐ฎ๐ ๐๐ถ๐ฝ๐ฎ๐ธ๐๐ฎ ๐ง๐ฒ๐น๐ฎ๐ป ๐ฅ๐๐บ๐๐ ๐๐ฒ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ๐๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐๐ฎ๐ป, ๐๐ถ๐บ๐ฎ ๐ง๐ฎ๐ต๐๐ป ๐ฉ๐ฒ๐ฟ๐๐๐ ๐ฆ๐ฒ๐๐บ๐๐ฟ ๐๐ถ๐ฑ๐๐ฝ.
Ada sebuah keajaiban hitung-hitungan di negeri ini yg tidak akan pernah bisa dijawab oleh guru matematika mana pun, bahkan oleh mereka yg telah mengabdi puluhan tahun hingga rambutnya memutih dimakan kapur tulis.
Rumusnya sederhana namun menyayat hati, โLima tahun duduk equivalent seumur hidup kenyang.โ
Teori formulasi yg ditemukan oleh sekumpulan manusia terpilih yg menyebut diri mereka โWakil Rakyatโ itu bahkan tak mampu dipecahkan otak sejenius Albert Einstein sekalipun.
Masa kerja mereka singkat, hanya satu periode jari tangan, 5 tahun. Yang disebut kerja itu pun adalah duduk di ruang berpendingin udara yg sejuk, di atas kursi empuk yg harganya mungkin setara gaji setahun 10 orang buruh pabrik. Di sanalah mereka duduk rapat, atau terkadang juga terlelap.
Tugas mereka mulia di atas kertas, namun ajaib di rekening. Hanya dengan modal lima tahun โbersuaraโ(atau diam), negara dengan sukarela mengikatkan diri untuk menanggung hajat mereka sampai liang lahat.
Seolah-olah keringat lima tahun mereka adalah elixir suci yg nilainya tak terhingga. Pensiun seumur hidup untuk kerja seumur jagung. Sebuah warisan feodal yg dibungkus rapi dengan pita demokrasi.
Di sisi lain, lihatlah ke bangunan sekolah yg atapnya bocor itu.
Di sana ada seorang guru honorer. Gajinya sering dirapel tiga bulan sekali, nominalnya pun seringkali lebih kecil dari struk satu kali makan siang sang "Wakil Rakyat" tadi.
Ia tidak duduk lima tahun, tapi berdiri dua puluh hingga tiga puluh tahun. Kakinya bengkak menahan lelah, suaranya serak mendidik anak-anak bangsa agar tidak bodoh, agar kelak bisa memilih wakil yg benar.
Apakah ia mendapat pensiunโฆ?
Jangankan pensiun, bermimpi untuk diangkat menjadi pegawai tetap saja seringkali dilarang. Komplain sedikit soal MBG saja bisa dipecat.
Ketika masa baktinya habis dan tubuhnya renta, negara memberinya ucapan terima kasih berupa selembar piagam kertas, lalu membiarkannya mati perlahan dalam kemiskinan.
Tidak ada tunjangan hari tua, tidak ada jaminan kesehatan VIP. Pengabdian mencerdaskan kehidupan bangsa puluhan tahun ternyata harganya jauh lebih murah dibandingkan keahlian mengangkat jari tangan (yg lebih sering dipakai buat ngupil dari pada kunjungan ke dapil) dalam sidang paripurna.
Sungguh sebuah komedi tragis. Kita dicekoki dan dipaksa menelan mentah-mentah โUndang-Undangโ yg isinya membuat kaya raya si pembuatnya, membiayai hari tua mereka yg bekerja hanya sekejap, sementara kita membiarkan pahlawan yg membangun fondasi negara ini mengais remah-remah di masa senjanya.
Hati nurani macam apa yg dipakai untuk mengetuk palu aturan itu..?Bagaimana mungkin kalian bisa menikmati uang pensiun itu dengan tenang, sementara guru yg dulu mengajari kalian mengeja kata โKEADILANโ itu kini sedang bingung mencari uang untuk makan..?
Di negeri ini, โPengabdianโ rupanya diukur bukan dari seberapa besar jasamu pada bangsa dan negara, melainkan seberapa dekat pantat busuk mu dengan kursi kekuasaan.
Bajingan kalian semuaโฆ!!!
Keluarganya dibakar hidup2 hanya krn ayahnya membongkar bisnis judi oknum militer
Hingga kini pelaku masih bebas dan digaji negara
Kini dia menjadi saksi mengenai perbedaan perlakuan hukum antara pelaku sipil dengan pelaku dari unsur militer
Bagi saya, @pandji terlihat terjebak dalam ambisi menjadi "suara moral" yang justru membatasi jangkauannya, berbeda dengan Raditya Dika yang jauh lebih cerdas dalam menjaga relevansi dengan tetap tidk nyenggol politik dan fokus pada keresahan yang manusiawi.
Sementara Radit berhasil membangun imperium yang stabil dan bisa diterima semua kalangan karena konsistensinya menjadi sosok yang relatable, Pandji justru sering kali terasa melelahkan karena terlalu vokal menyenggol isu politik sana sini, yang memecah belah audiensnya sendiri.
saya melihat Pandji kehilangan daya tarik massal dan kredibilitas hiburan karena terlalu sibuk menggurui, membuktikan bahwa strategi netralitas Radit jauh lebih efektif untuk tetap berada di puncak tanpa harus memelihara musuh atau kontroversi yang tidak perlu.
.
.
materi diatas, adalah contoh yang bisa dpakai buzzer untuk serang mas pandji. bandingkan saja dg Raditya dika, biar apa?
biar antar komika dan fans komika war sendiri.
ini lebih efisien, karna seolah2 buzzer mewakili suara komika lain/ minimal mewakili suara fans komika yg tdk suka bahas politik.
*Komandan Preman sedang memberikan Instruksi ke anggota Pam Polri / Brimob.*
Hancur harga diri ....
Brimob ndengarkan arahan preman *dah terbalik2 negara*