rese kmrn ga ada demo blgnya "KOK MAHASISWA GA TURUN KE JALAN", pas diinfoin ada gerakan "MAHASEWA, ORMEK", pas udh udh jadi inisiator "KOK PAKE JAKUN GA NGEWAKILIN RAKYAT" gendheng blas males gwejh
Menolak narasi/pemikiran LGBT itu TIDAK SAMA dengan menindas/mempersekusi LGBT.
Dokter Tirta ini masih yang pertama. Lu kalo campurin keduanya, bakal repot. Logika lu jadi berantakan.
Sama dengan halnya menolak penormalan merokok itu tidak sama dengan menindas/persekusi para perokok.
Menolak narasi LGBT itu BOLEH dan menjadi hak warga negara.
Mempersekusi LGBT itu baru TIDAK BOLEH karena ada unsur pidana dan membawa bahaya bagi keselamatan orang.
Nah, kaum lu suka nyampur-nyampurin keduanya. Ditentang narasinya dengan "stay normal" langsung ke-trigger, langsung cancel, langsung nge-block. Langsung ngerasa itu serangan ke identitas, jati diri, sehingga menolak narasi LGBT = menolak orangnya juga, alhasil dianggap jadi bagian dari diskriminasi. Padahal di kehidupan sosial masyarakat ga sesederhana itu realitanya!
Kalo ngaku progresif, harusnya budayakan dialog, bangun argumen yang kuat. Kebiasaan buruk penganut ideologi LGBT ini terlalu kuat budaya nge-block/dni nya pada orang yg sekadar berbeda pandangan, sehingga yg muncul kebenciannya aja, bukan dialog.
gw benci bgt dah sm orang yg ga ngambil hasil SNBT nya, that’s someone else’s dream lho….harusnya dengan lu masukin pil 2,3,4 ya lu ambil anjir, kan lu input secara SADAR, artinya lu emang MAU disitu, in this economy ga semua org sanggup bayar buat mandiri