Tadi sore saya ngobrol dg Richardo Hausmann Guru besar ekonomi di Harvard Kennedy School. Hausmann dikenal dg complexity index nya.
Kami mendiskusikan growth strategy di emerging economies. Hausmann selalu mencerahkan. Alih alih berdebat soal sektor mana yg memberikan value added tinggi vs rendah, manufaktur vs services, Hausmann menyampaikan yg penting bukan debate memilih sektor yg memberikan value added tinggi (downstreaming vs commodities) tapi bagaimana membangun capabilities. Dia cerita bagaimana Jepang mulai dg textile, yg akhirnya mesin utk membuat textile menghasilkan toyota. Kisah negara-negara Nordik menunjukkan bahwa teknologi tinggi sering lahir dari proses yang panjang dan tampak sederhana. Finland dan Sweden mula-mula bertumpu pada hutan, kayu, pulp, dan kertas. Tetapi dari industri itulah tumbuh kemampuan engineering, manufaktur, kimia, dan riset. Perusahaan seperti Nokia bahkan berawal dari industri pulp sebelum akhirnya menjadi raksasa telekomunikasi dunia. Intinya apakah mampu meningkatkan capabilities. Kapabilitas utk mampu mengubah industri berbasis sumber daya alam menjadi pijakan untuk membangun kemampuan teknologi yang lebih kompleks. Saya setuju dichotomy antara manufacturing dg services tidak sepenuhnya akurat, krn sektor manufaktur yg produktifitasnya tinggi justru yg service intensive, istilahnya servicification. Belajar banyak dari Hausmann.
@RaintRico@LambeSahamjja Jk bapak melihat Gojek bukan suatu usaha.
Sangat pasti, bapak bisa membuka usaha yg merekrut lebih dari 19 juta lapangan pekerjaan.
@RaintRico@LambeSahamjja Cb cr testimoni ttg ojol, byk yg alami perubahan ekonomi .
Gojek itu perusahaan loh, wlpn mgkn tidak sempurna, tp bermanfaat.
Cth simpel, skr orang pemalas hanya baring di kasur, pesan makan onlen, tunggu, menu makanan dan minuman sdh di depan pintu rumah.
@Ber_richess@Hidupsebagai62 Abis baku hantam, Buna dipenjara, anak-anak sapa yg urus?
Ex-suami, lah ngurus diri sendiri tidak mampu.
Rugi amat Buna.
Lbh baik buang saja sampah ke tong, Buna.