Saya nangis denger ini 😭😭😭
Juga yang mulia, saya adalah seorang anak dari pedagang sayur.
Orang tua saya membiayai saya S2, dan saya pun ketika saya sudah S2 menjadi dosen, sangat ingin menyisihkan gaji saya untuk orang tua saya.
Jujur yang mulia, saya tidak sempat memberikan gaji pertama saya untuk orang tua saya yang seorang penjual sayur.
Karena gaji saya hanya segitu adanya tadi.
YANG LAGI RAME
☕️1 kopi TUKU = 1 kg telur
🥤1 gelas Chagee = 2 aqua galon
🥓1 Chikuro = 2 liter minyak goreng
🍪1 Dubai Chewy Cookie = 1 kg ayam
Bukan soal boros, tapi ini soal mindset🤔🤔
Ada yg bela kan belum sama tunjangan bisa 2 digit tapi kenapa tetap ga sesuai sama aturan pemerintah yang bilang gaji pokok minimal 75% (tolong infokan kalo saya salah).
Keknya Prabowo nyetuck di tahun 90 an gak sih? Secara tiap pidato isinya cuma “SODARA-SODARA, INDONESIA BESAR, HEII ANTEK-ANTEK ASINGG, MERDEKAAA!!!!” Ini tuh beneran khas banget sama orang jaman Soekarno, belum lagi KOPERASI DESA MERAH PUTIH katro banget anjerr pake nama KOPERASI😭😭😭
Kalau mau tau gak adilnya gaji dosen
Jadi gini, gaji dosen itu: Gaji Pokok + A + B + C + D + ...
Jangan tanya ke dosen yang sedang pegang jabatan atau di tengah karir. Mereka mah A, B, C, D-nya banyak.
Masalahnya: A, B, C, D-nya ini:
1) Gak didapat dengan mudah
2) Bisa hilang
3) Gak aksesibel ke semua orang
Tanya ke 2 kelompok: dosen muda dan dosen yang mau pensiun.
***
Tanya ke dosen muda. Yang baru masuk. Yang dapetnya Gaji Pokok doang. A, B, C, D, ... -nya belum ada.
Yang baru nikah, baru punya anak, baru bayar anak sekolah. Yang baru masih punya master, belum punya doktor.
Mereka masih harus nyiapin biaya lahiran, ngerawat anak, uang masuk TK, bayar sekolah SD.
Masih harus nyiapin uang buat tugas belajar buat dapet S3. Beasiswa cari sendiri. TOEFL dan TPA bayar sendiri.
Tunjangan belum ada. Jabatan fungsional pertama ngurusnya bisa tahunan. Kalau dapet tunjangan Asisten Ahli masih 375 ribu.
Sertifikasi dosen belum bisa. Harus Asisten Ahli dulu. Itu pun harus 2 tahun setelah memenuhi BKD. Masih harus bayar training Pekerti/AA pake duit pribadi dulu.
Insentif publikasi? Duit publikasi dari mana? Risetnya dibayarin siapa? Waktunya kapan kalau buat bertahan hidup aja susah.
Proposal riset? Minimal harus udah Lektor biasanya. Biar bisa riset harus lektor. Biar bisa lektor harus riset.
Jabatan di kampus? Mesti berpolitik, ngemeng sana, ngemeng sini.
Semua A, B, C, D itu belum ada.
Pertanyaannya: apakah boleh dosen muda yang menerima gaji pokok doang ini digaji di bawah UMR secara legal?
***
Kelompok kedua: dosen yang sudah sangat senior.
Di mana A, B, C, D - ... nya sudah tidak kepegang lagi.
Jabatan sudah kena regenerasi ke yang lebih muda. Hilang tunjangan jabatan struktural.
Kondisi kesehatan sudah jauh menurun. Mesti pasang cincin jantung, mesti rutin cuci darah, mesti dirawat di rumah sakit. Keluar biaya banyak.
Banyak dosen senior yang sampai minta donasi ke koleganya, untuk perawatan.
Mau publikasi juga udah gak kuat. Ilmu yang dipelajari udah gak lagi update. Mau belajar lagi udah gak sehat. Insentif publikasi udah gak masuk lagi.
Mau proyekan juga kondisi udah gak memungkinkan. Bolak-balik Jakarta ke kota kampusnya udah gak kuat lagi. Kalau dipaksain memperburuk kondisi kesehatan.
Tabungan udah dipakai buat hidup, nyekolahin anak, nguliahin anak, yang jumlahnya lebih dari satu. Tiap anak biaya sekolah makin naik, UKT terus naik.
Tinggal gaji pokok doang, paling sama sertifikasi. Dengan UMR yang terus naik, paling juga udah di bawah UMR setahun dua tahun lagi.
Pertanyaannya: apakah boleh dosen senior menerima gaji pokok + sertifikasi doang ini digaji di bawah UMR secara legal?
Berderai air mata dosen, guru, guru ngaji dan tenaga kependidikan yang diabaikan hak-haknya. Meski mereka memanggul beban cita-cita kemerdekaan, mencerdaskan kehidupan bangsa.
IBU CENUK SAYEKTI DOSEN UNAIR BERSAKSI SAMBIL TERISAK DI MK:
Jadi dosen tahun 2010, saat itu gajinya 1,2 juta per bulan.
Dapat gelar Doktor tahun 2016. Serdos tahun 2020.
Tahun 2022 pindah ke Unair, gaji pokok saya 2,6 juta.
Belasan tahun jadi dosen.
Gaji pokoknya masih segitu.
Ini kejadian gak cuma di Unair. Kejadian di seluruh Indonesia.
Lulus S3 dari Australia dan jadi dosen dengan gaji pokok hanya 2,6 juta rupiah.
Para menteri rangkap jabatan.
TNI dobel job.
Polisi juga dobel job.
Tenaga pendidik terpinggirkan.
Jadi dokter: diintimidasi, depresi, dibayar hanya cukup sesuap nasi
Jadi ajudan presiden: bisa keliling dunia, ikut acara resmi kementerian dimana-mana, hidup sejahtera
Jadi sudah tahu negara ini berpihak kemana bukan?
Udah coba rekap semaleman. Dari 57 Wamen yang ada di Kabinet, 37 diantaranya merangkap jabatan sebagai Komisaris BUMN.
Persentase nya nyentuh angka 64.9%. Ini bukan lagi pencilan atau anomali, ini angka yang besar, bahkan bisa dikatakan MAYORITAS. Dan ini baru Wamen, belum petinggi dan pejabat lembaga atau badan setingkat menteri.
Awalnya mau bedah nama satu-satu, tapi dari angka itu seharusnya sudah menjelaskan, tidak perlu dibedah, kalian coba cari contoh 10 Wamen, seharusnya 6-7 diantaranya merangkap Komisaris BUMN.
Maaf ya teman-teman, jujur panik bahas hal ini, apalagi ada riwayat akun kena suspend, followers belum besar, tiba-tiba dapet impresi tinggi, jadi masih belum berani. Mungkin pertimbangannya bakal tulis artikel aja nanti untuk detail lengkapnya.
Btw ada nama "lucu" lagi di jajaran Komisaris BUMN, bukan akademisi, bahkan riwayat pendidikannya pun saya tidak nemu, mungkin bakal spill tipis kayak sebelumnya.
Jadi dr ini profesi apa abdi negara sih?
Sekolah bayar sendiri, giliran lulus kerja diatur-atur, sampai ada SKP pengabdian, memang ada profesi yg waktu di luar kerjanya diatur gitu?
Ini pemerintah malah membahas gaji dr di swasta. Apa gunanya? Ada warga yg mengeluh?
Being WNI is weird coz wdym gue digodain bule di Canggu and instead of flirting normally they ended up saying things like,
“I can give you European passport”
😔iyaiya ak tau paspor ak lemah😔😔