jadi gini....
stok telur di desa sukamaju, untuk sebulan biasanya 20.000 butir.
telur ini, biasanya dibeli oleh warga, warung makan, warung sembako, dan tukang kueh.
lalu MBG datang, SPPG borong tuh 10.000 ribu butir. utk stok SpPG selama 1 bulan.
sisa 10.000 telur inilah, dibagi ke warga, warung makan, warung sembako, dan tukang kueh.
mau restok dr desa sebelah ga bisa, desa sebelah juga kondisinya sama.
mau minta ke peternak, ga bisa.
ayamnya udah mentok, produksi telurnya.
jadilah harga naik,
permintaan tinggi, barangnyo sedikit.
semua rugi.
Bapak, tolong jangan berbohong. Saya sudah kehilangan satu-satunya orang tempat saya bisa pulang. Tanah saya hancur, rumah saya porak-poranda. Bapak tau? Untuk sekedar memberi kabar kita harus bayar di polsek. Bapak tau? Satu-satunya yg memberi kami akses hanya kantor kecamatan.
Saya harus akui, jantung saya berdetak kencang, ingatan saya kembali menyergap tajam saat melihat berita bencana di Sumatera pekan ini.
Dulu, hampir dua dekade lalu, saya ada di sana. Bukan sebagai pengacara, melainkan penerbang sipil yang dipanggil negara, berdesakan di lambung pesawat tua. Ya, pesawat TNI AU uzur.
Kami terbang gila-gilaan, hampir tidak kenal pagi, siang, atau malam. Seringkali, kami sudah harus take off dari Halim sebelum subuh. Tujuannya: Banda Aceh.
Kami bawa Hercules C-130 yang sudah sepuh itu. Pesawat itu, Bapak-Ibu sekalian, adalah potret jujur bangsa ini: tua, berisik, kurang terawat, tapi untungnya sangat andal dan pekerja keras.
Di dalam perutnya yang gelap, kami duduk di jaring samping. Telinga berdengung raungan Allison T56.
Jika Anda mau tau, bau di dalam kabin itu adalah campuran unik: solar, minyak mesin yang bocor halus, keringat relawan yang tidak mandi tiga hari, dan aroma timpahan mi instan basi.
Intensitasnya? Luar biasa. Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) mendadak menjadi terminal paling sibuk di dunia. Ada Hercules TNI, ada C-17 Amerika, ada Ilyushin dari Rusia, semua berebut slot. Air Traffic Controller (ATC) kita seperti pesulap. Semua ingin cepat, semua jadi pahlawan tanpa berharap bintang.
Ironinya adalah pada sistem logistik kita.
Di satu sisi, kita punya Hercules TNI yang bertempur mati-matian, mengangkut puluhan ton barang. Di sisi lain, muncul pahlawan yang datang dari sektor yang paling tidak kita duga: Maskapai Sipil.
Ya, maskapai-maskapai besar seperti Lion Air dan Batavia Air ikut menyumbangkan free lift dari Jakarta. Mereka menggunakan pesawat komersial, kursi dilepas, diisi karung beras. Mereka bergerak karena kemanusiaan, mendahului banyak surat izin dan nota dinas yang mungkin masih diketik di kantor-kantor pusat.
Dan pahlawan sejati di udara adalah Susi Air. @susipudjiastuti Saat pesawat-pesawat besar TNI dan asing fokus ke Banda Aceh, Meulaboh dan Simeulue masih jadi titik buta. Landasan hancur, Susi dengan dua pesawat kecil Cessna Caravan-nya mengangkut obat-obatan dan susu bayi. Susi dan crew pilot asingnya terbang nekat, masuk ke landasan perintis. Mereka adalah antitesis dari birokrasi yang kaku. Contoh nyata bagaimana rule of law itu sejenak harus tunduk pada rule of need. Kebutuhan lebih dulu, baru administrasi.
Saya ingat, interaksi kami dengan crew Susi itu terasa sangat kontras. Di dekat Hercules yang penuh serdadu, mereka berdiri di samping Caravan kecil, mengenakan kaos, mengangkut sendiri kardus-kardus tanpa forklift mewah. Salah satu pilot asingnya pernah menyindir, "Saya pikir tugas saya hanya lobster, ternyata saya juga delivery harapan kemanusiaan." Tawa kami pecah. Tawa terdengar pahit tapi kejujurannya nyata hanya berharap pahala.
Saat ini, kita kembali menghadapi bencana di Sumatera. Apa yang berubah? Infrastruktur mungkin lebih baik. Teknologi komunikasi pasti lebih canggih. Namun, saya khawatir, jiwa gotong royong yang non-bureaucratic itu justru semakin menipis. yang jelas saya tidak dipanggil lagi menerbangkan pesawat, mungkin pilotnya sudah banyak. Mungkin juga karena memang tak ada landasan yang bisa didaratin fix wing. Mungkin juga kita makin terbiasa menunggu instruksi pusat, menunggu dana cair, menunggu SOP selesai dicetak.
Padahal, semangat yang dibutuhkan saat bencana adalah semangat Susi Air: bergerak cepat, tidak bertanya izin, dan langsung menuju titik yang paling terluka. Semangat yang harusnya diwarisi oleh setiap aparatur sipil dan militer.
Sudah saatnya kita belajar dari Hercules tua dan Cessna kecil.
Aset terbaik bangsa ini bukanlah pesawat baru atau regulasi yang tebal, melainkan keberanian mengambil risiko dan keikhlasan untuk bergerak tanpa menunggu tepuk tangan.
Jika tidak, setiap bencana hanya akan jadi pengulangan tragedi birokrasi yang mematikan.
#ethadisaputra #majalahforumkeadilan #tsunamiaceh #operasikemanusiaan #hercules #susiair #dahlaniskan #hukumdanlogistik #militersipil #bencanaindonesia
Sebarkan supaya rakyat Jawa melek..
bahwa area terdampak langsung banjir Sumatera ini tuh setara dengan seluruh Jawa+seluruh Bali digabungkan
semasif itu arealnya
#StatusBencanaNasional adalah WAJIB
#SumateraJugaIndonesia
Aceh itu 86x lebih luas dari DKI Jakarta.
kalau kita ukur dari daerah terdampak, Bireuen 1.797 km², Pidie 3.184 km², Sumut 72.461 km² , Sumbar 42.120 km².
Bireuen = 4.8x luas Jakarta
Pidie = 2.7x luas Jakarta
Sumut = 110x luas Jakarta
Sumbar = 63.6x luas Jakarta
Saat Aceh dan Sumatera "Tenggelam", Percakapan Publik Mengungkap Sesuatu yang Lebih Gelap dari Sekadar Banjir
Banjir mungkin datang dari langit, tapi kemarahan publik datang dari bawah. Dari lumpur, dari jalan-jalan terputus, dari warga yang berteriak minta tolong sementara negara sibuk berdebat soal status bencana nasional. Dan di balik semua itu, satu pertanyaan menggantung di udara. Apakah Aceh dan Sumatera sedang kebanjiran air, atau sedang kebanjiran ketidakadilan?
Bencana Besar yang Membuka Luka Politik Lama
Laporan Drone Emprit menunjukkan betapa besar skala bencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Antara 25–29 November 2025 saja, percakapan publik mencapai 102.599 mentions dengan 382 juta interaksi, mayoritas dari X/Twitter dan TikTok. Di lapangan, kerusakan sangat masif. Jembatan putus, jalan nasional lumpuh, puluhan kecamatan terisolasi, dan korban jiwa melonjak hingga 303 orang pada 29 November.
Tetapi data ini mengungkap sesuatu yang lebih besar dari bencana. Kemarahan terhadap persepsi ketidakadilan politik.
Di media sosial, sentimen negatif mencapai 35–46%, didorong oleh narasi:
- Penolakan pemerintah menetapkan status bencana nasional
- Isu Jawa-sentrisme dalam penanganan bencana
- Tuduhan bahwa izin tambang & sawit adalah akar kerusakan ekologis
- Persepsi bahwa Sumatera diabaikan karena bukan Jawa
Tagar seperti #SaveOrangUtanTapanuli dan kritik terhadap deforestasi masif semakin mempertegas bagaimana publik melihat bencana ini bukan lagi sebagai musibah alam, tetapi kejahatan ekologis.
Dua Realitas: Apa yang Dilihat Media, dan Apa yang Dialami Warga
Menariknya, laporan menunjukkan jurang persepsi antara pemberitaan media online dan narasi publik di medsos.
Media mainstream menonjolkan hal-hal positif: helikopter TNI, evakuasi udara, kunjungan presiden, dan bantuan puluhan ton logistik. Sebanyak 60% pemberitaan bernada positif.
Media sosial menampilkan realitas yang lebih gelap: warga terjebak, akses komunikasi hilang, solar habis, listrik padam berhari-hari, dan banyak yang tidak tersentuh bantuan karena terisolasi.
Peta percakapan X menunjukkan empat kluster besar:
1. Narasi Pemerintah: update cuaca, instruksi evakuasi, dan evaluasi tata kelola hutan.
2. Narasi Publik Positif: doa & donasi.
3. Narasi Media: penyebab banjir (Siklon Senyar & deforestasi).
4. Narasi Aktivis & Publik Kritis: tuduhan bencana ekologis & kritik politik.
Di sinilah terlihat Indonesia hidup dalam dua realitas informasi. Yang satu melihat negara bekerja, yang satu melihat warga berjuang sendiri.
Banjir atau Bencana Ekologis? Publik Mengarahkan Tudingan
Walau BMKG menyebut Siklon Tropis Senyar sebagai pemicu hujan ekstrem, publik menolak menjadikan cuaca sebagai kambing hitam. Data percakapan menunjukkan narasi ekologis sangat dominan.
Beberapa tokoh menegaskan hal ini, misalnya:
- WALHI menyebut banjir sebagai “bencana ekologis akibat campur tangan manusia”.
- Komisi VIII DPR menunjukkan keberadaan kayu gelondongan mengindikasikan perambahan hutan di hulu sungai.
- Tagar seperti #SaveOrangUtanTapanuli memperkuat desakan publik untuk audit izin tambang dan sawit.
Ratusan ribu warga membagikan video satelit, drone, dan foto deforestasi, menunjukkan perubahan tutupan lahan secara drastis di daerah-daerah terdampak.
Di panggung opini publik, bencana ini bukan lagi “banjir karena hujan”, tetapi “banjir karena kebijakan”.
Solidaritas Warga
Di tengah isolasi dan terputusnya akses, publik bergerak sendiri.
Gelombang solidaritas terlihat jelas:
- Donasi publik meningkat tajam
- Warganet membuat peta lokasi warga terjebak
- Organisasi masyarakat, PMI, MDMC, dan lembaga keagamaan bergerak lebih cepat di beberapa titik dibanding bantuan pemerintah daerah
Laporan menunjukkan tagar #PrayForSumatera bukan hanya doa, tetapi alat mobilisasi kolektif untuk bantuan darurat. Ini menunjukkan apa yang disebut laporan sebagai “solidaritas organik”. Saat warga mengambil alih peran yang seharusnya dikerjakan pemerintah dalam kondisi darurat.
Ketika Mesin Negara Dikerahkan
Di tengah kritik keras soal lambatnya respons di darat, negara sebenarnya sudah mengerahkan kekuatan udara secara masif untuk menjangkau wilayah yang lumpuh total. Menurut laporan, akses darat ke Sibolga dan beberapa daerah di Tapanuli sempat tidak bisa ditembus karena jalan nasional terbelah dan jembatan putus. Satu-satunya cara masuk adalah lewat udara.
Presiden Prabowo memerintahkan mobilisasi TNI–Polri–BNPB untuk percepatan evakuasi dan distribusi logistik, termasuk:
- Helikopter SAR untuk evakuasi dan airdrop bantuan
- Pesawat angkut untuk mengirim logistik dalam jumlah besar
- Bantuan pangan seperti 32,7 ton beras dan 6.300 ton minyak goreng dikirim via udara oleh pemerintah pusat
- Operasi cuaca untuk mengurangi curah hujan ekstrem di wilayah terdampak
Data ini tercatat sebagai salah satu faktor yang menciptakan sentimen positif di media online, yaitu 60% pemberitaan memuji respons cepat dan koordinasi negara dalam pengerahan bantuan udara.
Bahkan di media sosial yang cenderung kritis, visualisasi helikopter dan aparat menyelamatkan warga mampu mendorong peningkatan sentimen positif, khususnya di platform berbasis video seperti YouTube dan TikTok.
Bencana Ini Mengungkap Lebih dari Sekadar Kerusakan Fisik
Data dalam laporan menunjukkan bahwa bencana di Sumatera adalah:
1. Krisis ekologis yang lama ditumpuk, baru meledak sekarang.
Deforestasi, tata ruang yang lemah, dan izin lahan dilepaskan seperti bom waktu.
2. Krisis kepercayaan terhadap pemerintah pusat.
Penolakan menetapkan status bencana nasional menjadi simbol “ketimpangan respons negara”.
3. Krisis infrastruktur vital.
Ketakutan terbesar publik bukan airnya, tapi terjebak tanpa listrik, komunikasi, atau logistik.
4. Krisis komunikasi pemerintah.
Media memberikan narasi positif, tetapi publik melihat kenyataan berbeda.
Dan pada akhirnya, laporan ini menunjukkan: banjir membanjiri Aceh dan Sumatera, tetapi ketidakadilan membanjiri percakapan publik.
nah orang ga paham PLG/PKG..
PLG itu Pusat Latihan Gajah / Pusat Konservasi Gajah. Jadi pada masanya dalam rangka kontrol dan mitigasi interaksi negatif manusia dan gajah liar, gajah2 liar ditangkap dan dilatih untuk menghalau gajah liar supaya tidak membahayakan manusia. Tempat perawatannya namanya PKG
DI KABUPATEN ACEH TAMIANG BANYAK MAYAT BERSERAKAN TAPI TIDAK DILIPUT. MEREKA KEKURANGAN BANTUAN. MEREKA KEKURANGAN MAKANAN, MINUMAN, DAN BBM.
MEREKA TIDAK DAPAT SPOTLIGHT PADAHAL KONDISI MEREKA JUGA SAMA PARAHNYA.
Sekitar 10 thn lalu aku posting orangutan yg kurus di kebun sawit. Aku dituduh dibayar Eropa buat kampanye gelap sawit.
Giliran udah banjir 3 provinsi gini baru pada sadar yg dikhawatirin orang lingkungan tuh bukan orangutan ama gajah doang, tapi juga keselamatan orang banyak.
NARASINYA KENAPA GITU???
mereka turun gunung bukan cari mangsa, berarti di gunung habitatnya ikutan rusak kena longsor/banjir jg. lebih2 parah lagi bisa aja keluarga mereka ketimbun longsor gaada yamg tahu. bisa2nya pake narasi begini pas bencana 🤦🤦🤦
#intinyadeh Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo dpt ancaman pembunuhan.
"Kepala Balai Cabut Laporanmu atau Kepalamu Kami Cabut"
Kantor dirusak, motor petugas dibakar.
Luas kawasan TNTN yg 83rb ha, sisa 12,5rb ha yg masih hutan. Sisanya pemukiman, kebun sawit ilegal.
(1/2)