WA dari temen. Siang. Jam 12.
"Bro, ponakan lo sering mual di mobil gak?"
"Iya parah. Tiap perjalanan muntah."
"Coba buka Settings iPhone lo."
"Hah? Emang kenapa?"
"Accessibility → Motion → Vehicle Motion Cues."
"Aktifin."
"Ini ngapain?"
"Udah aktifin aja. Besok perjalanan gak muntah."
Aku aktifin.
Besoknya, ponakkanu gak muntah pertama kalinya.
Terlalu lama hidup susah sampe makan sate 10 tusuk sendiri kerasa aneh, tiap makan di resto kerasa boros, traveling tiap 3-6 bln sekali kerasa foya2. Ini efek hidup miskin dari kecil, pas udah kerja ngerasa gak bisa manage uang. Padahal gw cuma hidup LAYAK.
Just heard this today
"Bahkan kamu tau? Di dalam surat Al-Ikhlas tidak ada kata ‘ikhlas’. Karena proses mengikhlaskan itu sangat halus, sampai suatu hari kamu sadar, kamu sudah lupa, dan rasanya tidak sakit lagi."
diantara banyaknya rezeki yang aku terima, semoga aku tidak kehilangan gaya hidupku yang sederhana, cara aku memandang manusia, dan rasa syukurku pada hal-hal yang sederhana.
Anak-anak tidak pernah membenci rumah. Mereka hanya mulai menyadari ada luka di sana. Mereka mulai menemukan obat di tempat lain. Mereka mulai paham bahwa ada dunia lain yang tidak menyakiti mereka meski semuanya orang asing.
aku yang masih sering "patah", aku yang sebenarnya masih terluka sana sini, aku yang entah kapan bisa sepenuhnya "sembuh" aku yang tidak tau masih boleh mengharap "bahagia" itu atau tidak, aku hanya ingin menghabiskan sisa waktuku dengan sekuat tenaga
aku sering berharap bisa hidup sampai tua bersamanya, aku sering berharap bisa hidup tenang bersamnya, merasa cukup, merasa aman, tapi disaat paling terpuruk seperti ini aku sering bertanya, bisakah kita menua bersama jika terus seperti ini?
apakah aku harus diam saja? apakah aku harus berhenti peduli dengan caraku yang salah? apakah dia lebih senang jika aku membiarkannya melakukan apapun sesukanya?
mengapa aku seringkali gagal menemukan ketenangan padanya saat aku merasa benar-benar membutuhkanny?
lagi-lagi aku yang harus menenangkan diriku sendiri
caraku memang salah, dan memang bukan agar bisa selalu di maklumi, aku juga tidak meminta dimaklumi
jika dia memang mampu, aku hanya ingin di "didik" dengan lemah lembut, aku yang penuh luka hingga seperti ini juga tidak mau selamanya seperti ini.
jika caraku yang salah justru membuatku dibalas dengan reaksi yang sama salahnya, lalu untuk apa?
Balas dendam terbaik adalah
Gak ada.
Ampuni, lepaskan,
sembuhin diri, perbaiki diri
Belajar dari masa lalu, masa depanmu
terlalu berharga untuk dikorbankan