Di hari Arafah nanti, jangan cuma sibuk meminta pasangan yang saleh atau salehah.
Masukkan juga doa-doa kecil yang diam-diam paling dibutuhkan hati:
— minta hati yang tenang
— minta dipertemukan dengan lingkungan yang baik
— minta rezeki yang cukup dan berkah
— minta dijauhkan dari hubungan yang melelahkan
— minta kesehatan untuk diri sendiri dan orang tua
— minta dikuatkan saat hidup tidak berjalan sesuai harapan
— dan minta agar tetap bisa bersyukur meski belum memiliki semuanya.
Kenapa pemimpin negara boleh lansia, tapi kerja corporate 30an dianggap ngga produktif?
Dan kenapa ngelamar kerja harus pake SKCK? sedangkan banyak pejabat negara aja mantan napi
Guys, Timothy Ronald baru ngomong sesuatu yang dia sendiri mengaku lumayan takut buat ngomongnya.
Dan setelah gue dengerin gue ngerti kenapa.
Permainan di pasar modal Indonesia itu tidak adil untuk retail.
Bukan clickbait.
Itu kata-katanya langsung.
Dan dia kasih konteks yang bikin gue diem lama.
Siapa sebenernya Bandar itu?
Ini yang paling mengejutkan dari semua yang dia ceritain.
Bandar terbesar dari suatu saham di Indonesia bukan hedge fund asing.
Bukan institusi gede.
Bukan siapapun yang lo kira.
Bandar terbesar itu adalah owner emitennya sendiri.
Logikanya simpel.
Siapa yang paling tahu kapan corporate action bakal terjadi?
Kapan ada right issue?
Kapan ada berita bagus yang belum keluar ke publik?
Ya ownernya sendiri.
Dan di Indonesia karena regulasi insider trading praktis hampir nggak pernah ditegakkan seperti di Amerika mereka bisa manfaatin itu.
Beli saham pakai nama orang lain, KTP orang lain, akun sekuritas orang lain.
Nomini setahun paling Rp1 juta.
Murah banget buat main miliaran.
Cara kerja Bandar ini yang harus lo pahami.
Timothy breakdown dua tipe bandar.
Tipe pertama Bandar Ngampok.
Naikin harga setinggi-tingginya, buang semua barang ke retail di puncak, selesai.
Sahamnya tinggal puing.
Tipe kedua Bandar Pintar.
Ini yang lebih berbahaya karena keliatan normal.
Cara mainnya begini dia beli di harga 700, naikin ke 2.600, jual semua.
Profit gede.
Saham turun ke 1.000.
Tapi dia nggak pergi.
Dia masuk lagi di 1.000 pakai profit yang tadi.
Terus dia pupuk pelan-pelan beli sedikit di 1.000, retail ikut masuk, dia beli lagi di 1.300, retail ikut lagi, di 1.400 dia beli lagi.
Dia nggak perlu modal gede buat naikin dari 1.000 ke 3.000. Retail yang ikut-ikutan itu yang jadi bahan bakarnya.
Dan siklus ini berulang terus akumulasi, distribusi, akumulasi, distribusi.
Selama emitennya mau maintain, permainan ini bisa jalan bertahun-tahun.
Soal pompom lo selama ini salah kaprah.
Banyak yang kira pompom artinya influencer suruh beli, harga naik, dia ikut untung.
Salah.
Pompom yang sesungguhnya adalah bandar udah beli dulu di harga bawah, udah naikin harganya sendiri, baru suruh retail beli di harga yang udah tinggi itu.
Retail jadi exit liquidity tempat bandar buang barangnya.
di luar sana, ada cewe yang cuman mau menikah dengan cowo yang gaji minimal 20-30 juta..
Padahal kalau dipikir secara rasional.. jumlah orang yang punya gaji segini dan masuk kriteria ga sebanyak itu, trus ada kriteria lain lho:
1. agama?
2. umur lebih tua dan beda berapa?
3. tinggal di kota sama?
4. sifatnya harus cocok?
5. fisiknya harus oke?
dan kalaupun ketemu, apakah si cowo mau dengan si cewe ini? belum lagi perjuangan menuju nikah nanti ada pertimbangan lainnya:
1. Keluarga pasangan orangnya gimana?
2. Tinggal sama mertua atau sendiri?
3. Gaji per bulan untuk istri berapa?
4. Pake ART sama suster ga nanti?
5. Harus masak atau ojol aja boleh?
Terlalu banyak bener2.. jadi harus prioritas pilih yang mana yang wajib terpenuhi, sisanya tutup mata deh..