Piala Dunia telah berakhir bagiku. Pembatalan gol kedua Mesir ke gawang Argentina adalah puncak segala kecurangan event FIFA ini setelah sebelumnya dengan mudah diintervensi oleh Trump untuk pembatalan kartu kuning bagi seorang pemain AS. Sebuah rekaman yang menunjukkan gerakan tubuh Gianni Infantino, Presiden FIFA’ yang menyayangkan gol Mesir adalah bukti nyata organisasi ini tak pernah berpihak kepada negara yang dianggap bukan investasi bagi FIFA. Saya menjagokan Argentina kembali bertemu Perancis atau Maroko di final kelak. Tapi, kini, takkan ada lagi kegirangan bagiku meski Argentina juara kelak atau Messi meraih sepatu emas WC 2026 ini. @FIFAWorldCup@FIFANTINO
Gila, bahkan Rio Ferdinand ikut gerah liat performa wasit tadi malam👀
Rio Ferdinand bilang gini:
“Sepak bola butuh keadilan, bukan aturan yang berbeda untuk tim yang berbeda.
Sudah bertahun-tahun gue duduk di sini dan nonton sepak bola, baik sebagai pemain maupun pundit, dan yang paling bikin supporter kesal adalah inkonsistensi.
Kalau Argentina jatuh kena challenge, peluit kayaknya langsung bunyi. Wasit cepat spot foul, cepat stop play, dan cepat protect mereka. Tapi kalau Mesir yang kena insiden serupa, tiba-tiba game dibiarkan lanjut dan semua disuruh move on.
Itu masalah yang diperdebatkan orang-orang malam ini. Bukan hasil pertandingannya sendiri, tapi kurangnya konsistensi dalam pengambilan keputusan.
Terus lo lihat proses menuju gol kemenangan Enzo Fernández. Mesir teriak-teriak minta foul, pemainnya kerumuni wasit, dan jutaan orang yang nonton kira VAR bakal cek dengan proper. Tapi malah kayak semua orang di ruang VAR lagi tidur.
Buat apa sih VAR kalau bukan untuk nge-review momen-momen krusial di pertandingan penting?
Kalau insiden itu terjadi terhadap Argentina di ujung lapangan yang lain, apakah lo bakal percaya itu nggak bakal dicek? Gue agak susah buat percaya.
Kita udah lihat insiden yang jauh lebih ringan dicek sepanjang turnamen ini.
Itu asal muasal frustrasinya. Fans cuma mau standar yang sama diterapkan ke setiap tim.
Dan mari kita bicara soal sisi disiplin permainan. Argentina kayaknya bisa lolos dari banyak hal. Ada challenge yang biasanya bakal bawa kartu kuning, tapi wasit kayak ragu buat ambil kartu dari kantong.
Kayaknya official wasit takut ambil keputusan yang mungkin bikin Argentina kesal.
Kalau lo lihat beberapa pertandingan Argentina di turnamen ini, ada beberapa momen di mana lawan-lawan mereka ngerasa dirugikan. Satu insiden bisa didebat, dua insiden bisa didebat, tapi akhirnya orang mulai notice ada polanya.
Sepak bola tidak bisa mentolerir persepsi seperti itu. Integritas permainan bergantung pada keyakinan para pendukung bahwa setiap negara diperlakukan setara.
Apakah lo Argentina, Mesir, Brasil, Prancis atau siapa saja, hukum permainan seharusnya nggak berubah tergantung badge di baju lo.
Wasit malam itu punya tanggung jawab buat fair, balanced, dan brave. Tapi malah ninggalin jutaan orang nanya-nanya kenapa beberapa keputusan dikasih begitu gampang buat satu sisi sementara insiden serupa yang melibatkan sisi lain diabaikan.
Sepak bola pantas dapat yang lebih baik dari itu. Pemain pantas dapat yang lebih baik. Dan fans jelas pantas dapat yang lebih baik.”
Yang bikin gue setuju adalah bagian “fans cuma mau standar yang sama”. Itu inti masalahnya.
Lo setuju nggak sama Rio soal wasitnya? Atau menurut lo ini cuma persepsi dia aja?
#ARGEGY
Menganulir Gol Mesir ke Gawang Argentina adalah Keputusan yang Salah
Sebuah analisis dari pakar perwasitan dan mantan wasit Premier League, Graham Scott via The Athletic.
✅Keputusan menganulir gol Mesir adl keputusan yang salah. Benturan Marwan Attia terhadap Lisandro Martinez dlm proses terjadinya gol Ziko pada menit ke-67 merupakan kontak fisik yang wajar dan seharusnya dinilai seperti itu, alih-alih dianggap sbg sebuah pelanggaran.
✅Insiden itu juga terjadi hampir 100 yard (sekitar 91 meter) dari gawang, dan Argentina punya setiap kesempatan untuk merapatkan barisan dan bertahan, tidak heran jika Mesir merasa dirugikan karena gol tersebut akhirnya dianulir setelah peninjauan VAR.
✅Jika kita melihat insiden tersebut, memang ada sedikit kontak, baik kaki-ke-kaki maupun tarikan baju sekilas, tetapi tidak ada pelanggaran yang cukup berat di sini hingga layak membuat VAR mengintervensi untuk membatalkan gol. (GAMBAR 1)
✅Bagi Scott, ini adalah intervensi yg sangat mencengangkan dan bentuk penyalahgunaan wewenang yang masif dari tugas VAR. Seharusnya, VAR hanya mengoreksi kesalahan yang jelas dan nyata (clear and obvious errors).
✅VAR secara rutin memeriksa fase serangan sebelum terjadinya setiap gol dan dalam kasus ini, peninjauan akan ditarik mundur hingga momen perebutan bola (turnover of possession).
✅Agar sebuah gol dapat dibatalkan, harus ada pelanggaran yang jelas, dan hal itu tidak ada di sini. Sebagai aturan umum yang praktis, semakin lama waktu dan semakin jauh jarak antara sebuah benturan dengan terjadinya gol, maka dugaan pelanggaran tersebut harus semakin serius.
Namun, tidak ada pelanggaran yang berarti di sini, dan tidak ada hal yang mendekati ambang batas bagi VAR untuk ikut campur.
✅Dengan logika yang sama, klaim penalti Mesir atas dugaan pelanggaran terhadap Mohamed Salah sesaat sebelum gol kemenangan Argentina, sudah tepat untuk diabaikan. Ada sedikit kontak kecil pada sepatunya, tetapi tidak cukup kuat untuk membuat Salah terjatuh. Itu bukan sebuah pelanggaran.
Sejumlah esai panjang Tan Malaka yang belum pernah diterbitkan akan hadir via Metis Publisher. Zen RS akan membubuhkan konteks sejarah pada setiap esai dan menuliskan epilog. Nantikan!
He is one of us🔴
Rio Fahmi adalah contoh nyata bahwa anak Indonesia bisa mewujudkan mimpi bermain untuk tim impian masa kecilnya.
Tumbuh besar sebagai the Jakmania, hidup membawanya pada takdir membela tim kebanggaan.
Mungkin tidak pernah terbayang bagi Soeri dan Alie bahwa perkumpulan sepakbola yang mereka dirikan kelak tumbuh menjadi salah satu klub berpengaruh di percaturan sepakbola Indonesia.
Paulinho started the ruckus with that late challenge on Allano. This is the guy who injured Ole Romeny. Efek tekel tersebut adalah keributan massal di antara kedua bench klub.
Laga “Copa Sudamericana” Arema FC vs Persija menjadi milik tamu.
Pekan lalu, Eksel memberikan asis.
Lalu bagaimana pekan ini? BRACE!
🇮🇩 Eksel Joseph Runtukahu catatkan dwigol hanya dalam waktu 5 menit di awal babak kedua.
PROVE THEM, NYONG!
Reports from Bavet City say a group of Indonesian nationals attempted to leave a compound connected to online operations but were stopped. Several individuals were reportedly injured during the incident.
@ainunnajib One is about a performance for public relations; the other is about grief, spiritual support, and internal accountability. They are not comparable metrics.