Gue baru aja selesai nonton podcast Bruno Fernandes bareng The Diary of a CEO yg di-upload siang tadi.
Kesimpulannya? Bruno gak layak dijadiin pemain bola panutan.
Gak layak kalo cuma diliat dari sisi itu aja. Ini orang beneran role model as human being in general. Ultra-positive person & such outstanding athlete. Curanggg.
Entah lah, gue ga pernah sebegininya sm pemain Manchester United. Not even Rooney, RvP, Cristiano. Gak ada yg kharisma & aura leader dia bener-bener nyengat banget. Out of the roof.
Satu jam setengah dengerin dia cerita soal masa kecilnya, karier dia as pemain bola sejauh ini, keluarga, dan spell di United.
Ternyata yg bikin Bruno bisa jadi gelandang terbaik di dunia & super kreatif kayak skrg turut ngelibatin standar tinggi yg diterapin bapaknya dulu.
Bisa aja dia bikin hattrick di akademi, tapi pas pulang blm tentu pulangnya dipuji, justru dapet kritik soal room of improvement yg bisa dibenerin lagi.
Tau apa? Itu juga yg dia lakukan as captain di United. Semua pemain, entah lebih senior atau lebih jago, bakalan dia tuntut buat upgrade terus.
Bahkan dia bilang: “Gue ngomong ke temen-temen setim. Hari di mana gue berhenti ngomong sama lo, di mana gue berhenti neriakin lo, itu artinya gue udah ga percaya sama lo lagi. Di mata gue, lo udah ga bisa improve lagi.” Subject 49 & Jancho mungkin paham.
Podcast yg layak buat didengerin United fans. Selain bikin lo makin bersyukur punya pemain kayak Bruno, di gue bikin makin semangat nabung biar bisa nonton dia live di Old Trafford. Please banget 😭
Kalo lagu “The Man I Need” punya Olivia Dean itu ada wujudnya, ya itu lah Bruno.
Nonton!
Januari 2020. MU lagi dalam kondisi yang susah dideskripsikan.
Lini tengah diisi Fred, McTominay, Matic, Andreas Pereira. Pogba. Dari nama-nama tadi, praktis hanya Pogba yang di level world-class. Matic sudah habis, McTominay terlau inkonsisten, Fred juga, Pereira apalagi. Kreatifitas tim hampir nol. Solskjaer butuh sesuatu, dan dia memutuskan untuk mendatangkan seorang gelandang dari Liga Portugal.
Reaksi publik? Skeptis. Wajar.
Datang dari Sporting CP, liga yang bukan benchmark kualitas Eropa. Badannya krempeng, bukan tipikal gelandang Premier League yang kekar dan bisa survive di intensitas liga Inggris. Belum pernah sekalipun proven di level ini.
Tapi dari menit pertama dia injak lapangan Old Trafford, ia langsung kasi instant impact ke dalam tim. Ia langsung keliatan beda mulai dari cara dia membaca permainan, cara dia bikin orang lain terlihat lebih baik, cara dia selalu ada di momen yang paling penting.
Enam musim berlalu. Manajer silih berganti. Tim naik turun, hancur, rebuild, hancur lagi. Sementara Bruno tetap ada. Week in, week out.
Dan musim ini, di tengah MU yang masih dalam transisi, dia diam-diam nulis namanya di buku sejarah Premier League.
21 assist dalam satu musim. Henry cetak 20 di 2002/03, setahun sebelum Arsenal Invincibles. De Bruyne cetak 20 di 2019/20 dengan mesin City yang hampir sempurna di belakangnya.
Bruno melakukannya dengan absen di 3 laga, dan dengan tim yang masih cari bentuk terbaik mereka. Dari gelandang Liga Portugal yang diragukan, jadi pemegang rekor assist terbanyak dalam satu musim sepanjang sejarah Premier League.
Enam tahun. Tujuh manajer. Satu nama yang selalu ada di tengah semua kekacauan itu. Bruno Miguel Borges Fernandes! 👏👑
#utdfocusid #mufc
Buat yang MALAS MEMBACA tapi BUKAN PARJO PARCOK. Saya bantu translasi article the Economist biar ga IKUTAN DUNGU teriak antek asing dan "semua akan hilang ketika IHSG bullish":
"Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, pernah menyaksikan negaranya hancur sebelumnya. Itu terjadi pada tahun 1998, saat krisis keuangan Asia. Kala itu, runtuhnya ekonomi memicu protes massa dan tumbangnya bapak mertua Pak Prabowo, Suharto, seorang diktator yang terkenal korup. Peristiwa itu juga melemparkan Pak Prabowo, yang sempat berharap bisa menggantikan Suharto, ke dalam pengasingan politik. Butuh waktu seperempat abad baginya untuk merangkak kembali, hingga akhirnya berhasil meraih kursi nomor satu pada tahun 2024.
Jadi, Anda mungkin berpikir dia akan sangat berhati-hati terhadap krisis fiskal lainnya: Anda salah.
Pemimpin negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia ini telah memusatkan kekuasaan dan mengelilingi dirinya dengan sekelompok penjilat. Dia mendepak menteri keuangan yang dihormati dan menggantinya dengan Purbaya Yudhi Sadewa, yang pernah menyebut IMF "bodoh" dan mengatakan kepada The Economist pada bulan April bahwa presiden tidak perlu khawatir tentang "perkembangan ekonomi global [atau] harga minyak dunia". Para pelaku bisnis di Indonesia takut untuk bersuara, mungkin karena Pak Prabowo adalah mantan jenderal antikritik dengan rekam jejak hak asasi manusia yang dipertanyakan, atau mungkin karena belakangan ini dia kerap mengintimidasi bisnis-bisnis besar.
Pak Prabowo tampaknya mengisolasi diri dari kenyataan. Jadi, dia mungkin tidak akan mendengarkan nasihat yang masuk akal. Namun, inilah beberapa masukan untuknya. Proyek-proyek kesayangannya tidak terjangkau. Sebelum perang Iran, menghabiskan proyeksi 10% dari anggaran hanya untuk dua proyek saja—makan siang gratis di sekolah dan jaringan 80.000 koperasi desa—hanya sekadar pemborosan. Sekarang, krisis energi telah menghapus semua ruang untuk melakukan kesalahan. Pak Prabowo harus mengubah arah atau menghadapi risiko krisis.
Dia harus memotong pengeluaran untuk proyek-proyek kesayangannya, atau memangkas subsidi bahan bakar fosil Indonesia yang sangat besar, atau melanggar undang-undang yang membatasi defisit anggaran sebesar 3% dari PDB. Setiap pilihan memiliki risiko. Memangkas proyek mubazirnya akan membuatnya tampak lemah. Membiarkan harga energi naik akan mengundang kerusuhan. Jadi, Pak Prabowo mungkin akan mengambil jalan ketiga: membiarkan defisit menembus batas hukumnya.
Itu akan menjadi sebuah kesalahan. Memang benar, batas 3% adalah angka sewenang-wenang yang disalin-tempel dari Perjanjian Maastricht Eropa. Namun sejak krisis 1998, angka itu telah menjadi sinyal bahwa pemerintah Indonesia serius menjaga disiplin fiskal. Sekarang para investor mulai cemas. Pembayaran bunga sebagai bagian dari pendapatan pemerintah melonjak tajam. Lembaga pemeringkat kredit sedang bersiap untuk menurunkan peringkat. Di bawah kepemimpinan Pak Prabowo, modal asing senilai $6 miliar telah keluar dan rupiah telah melemah sebesar 11% terhadap dolar ke rekor terendah. Menjebol batas anggaran akan mendorong biaya pinjaman menjadi lebih tinggi.
Bahkan saat dia membuat ekonomi menjadi lebih genting, Pak Prabowo juga mengikis demokrasi Indonesia. Oposisi legislatif hampir sepenuhnya dilumpuhkan, dan proposal untuk mengakhiri pemilihan langsung gubernur provinsi bukan merupakan pertanda baik. Masyarakat sipil diintimidasi. Ruang untuk berbeda pendapat sangat sedikit, dan jika ada, minim pergulatan kreatif antar-gagasan yang saling bersaing. Terlalu banyak hal yang bergantung pada naluri seorang mantan tentara tunggal yang mendapat saran buruk.
Dia perlu mendengar kebenaran yang pahit. Ya, bahan bakar murah memang populer. Namun hal itu mendorong konsumsi di tengah situasi kelangkaan. Ya, orang-orang menyukai makan siang gratis di sekolah. Namun memberikannya kepada semua orang adalah pemborosan. Lebih bijaksana untuk fokus pada ibu hamil dan balita dari keluarga miskin, yang membutuhkan nutrisi lebih baik guna mencegah stunting (tengkes). Ya, petani Indonesia kerap diperas oleh tengkulak saat membeli pupuk. Namun ada cara yang lebih murah untuk mengatasi hal ini ketimbang membangun 80.000 koperasi desa, yang kemungkinan besar justru rentan korupsi. Dan ya, batas defisit 3% bisa saja dinaikkan suatu hari nanti. Namun pertama-tama, Pak Prabowo harus meyakinkan pasar bahwa keuangan Indonesia berada di tangan yang aman.
Persimpangan jalan baru
Indonesia telah membuat kemajuan besar dalam seperempat abad terakhir. Di bawah serangkaian pemerintahan yang cukup pragmatis, pendapatan per kapita telah meningkat lebih dari dua kali lapor dan demokrasi mulai berakar. Pak Prabowo bukanlah penguasa kleptokratis seperti mendiang bapak mertuanya, tetapi dia sedang mengikis kemajuan yang telah dicapai negaranya sejak masa-masa kelam dulu.
Presiden harus berhenti mencoba membungkam oposisi di legislatif, media, dan masyarakat sipil. Perbedaan pendapat yang tidak menemukan saluran dalam politik akan tumpah ke jalanan, seperti yang terjadi dalam kerusuhan tahun lalu. Bersikeras bahwa oposisi harus "sopan" adalah resep yang suatu hari nanti justru bisa mengubahnya menjadi kekerasan.
Masih ada harapan. Pak Prabowo peduli dengan warisan kepemimpinannya. Jadi, dia perlu menyadari bahwa negara kepulauan yang sangat besar, luas, dan multi-etnis seperti Indonesia tidak bisa begitu saja diberi perintah layaknya sebuah unit tentara. Indonesia membutuhkan seorang panglima tertinggi yang mendengarkan banyak suara, bukan yang mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang hanya bisa berkata "ya""
Amar Haikal’s ‘ANAK MACAN’ (‘MY PLASTIC MOTHER’) has won the Best International Short Film (Competition) at the 35th Flickerfest International Short Film Festival in Australia.
Setelah sekian lama akhirnya kita sampai di momen di mana bisa nonton Linda Linda Linda secara legal di streaming platform 🥹
Terimakasih, sukses dan jaya terus wahai @KlikFilm 👍