Indonesia's Biggest Lost:
📡 Radio Malabar (1923 - 1942)
2400 kW power
2 Km antenna
12,000 Km transmission
World's first Intercontinental Telephony system
Even the monument no longer exist (demolished in 1970 for Mesjid Istiqomah)
Cara membedakan aksi demo bayaran atau murni gerakan rakyat di Indonesia itu gampang banget.
Kalau demonya dijaga aparat, bahkan dibiarkan bebas berarti berpotensi demo settingan penguasa.
Kalau demonya dihalangi mati-matian sama aparat, bahkan disuruh bubar, itulah demo yang sesungguhnya demi kepentingan rakyat.
Perhatikan sekuensinya :
Budiman sebut nama Tiyo.
👇
Sirine Toa dibunyikan (sinyal).
👇
1 org baju putih lngsung berdiri dng toa.
👇
Naik panggung, lngsung teriak² orasi.
👇
Puluhan mahasiswa merangsek masuk.
•Sirine dari toa adalah sinyal ativasi, & itu bukan reaksi spontan audiens.
•Org di dlm ruangan sudah pegang toa, sudah siap, & tunggu trigger kata kunci yaitu Tiyo, utk disambut dng bunyi sirine sbg sinyal koordinasi.
Dari peristiwa tsb teridentifikasi 2 kelompok aktor yg beda karakter:
1. Kelompok A » Mahasiswa organik, yg duduk tertib sejak awal, punya pertanyaan substantif.
2. Kelompok B » pemicu terorganisir, yg masuk bergerak setelah sinyal sirine bunyi, bawa² toa, teriak² slogan, rebut mikrofon, lempar air.
Itu profil aksi terkoordinasi, bukan ledakan emosi secara tiba².
”Genuine anger is the most useful resource for any operation. It requires no fabrication, only direction”.
Pernah denger ?
PLAYBOY: Soal gerakan pemuda, Anda sempat bergabung dengan PRD (Partai Rakyat Demokratik). Sementara, gerakan pemuda sekarang terlihat melempem. PRD sendiri tidak terlihat arah organisasinya?
PRAM: Itu pimpinannya. Ketua organisasi itu, harus hidup, tumbuh, berkembang bersama partainya. Ini ketuanya (Budiman Soedjatmiko) lari, masuk ke PDI. Dia mesti mimpin partainya, ini malah sekolah ke Inggris. Sekolah itu kan jalan untuk jadi pegawai. Untuk mimpin partai nggak perlu sekolah. Bangkit, jatuh, bangun, berkembang bersama partainya. Yang benar itu.