The fact that di pernikahan hetero ada konsep "cerai" membuktikan bahwa menikah pun bukan suatu goals akhir, so y'all gays who pusing2 mikirin "buat apa hubungan homosek kalo ujung2nya ga bisa nikah?", you guys just wasting your time mikirin hal yg ga perlu dipikirin....
Sebagai part of LGBTQ+ kadang aing bingung tiap menjalin hubungan romantis tu tujuan akhirnya untuk apa dan mau dibawa ke mana?
Apalagi aing sadar bahwa di Indonesia ini nilai heteronormative-nya masih sangat kuat, bahkan mayoritas masyarakat juga masih homophobic –
Agree! Kinda sad when i call someone with "neng", they sometimes feels patronized by me, padahal sama aja kaya "sist, apa kabar?!", even y'all can feel free to call me "neng" too!
If i call you "neng", that's means you are trully one of my choosen family ✊
Damn bruh, you can simply browse Wikipedia to understand that you are very wrong and stupid. Yes you have the liberty to hate, but at least be a literate educated hater, so your hate can be cited academically by your own folks....
Muak banget sama orang2 yg merasa kalo mereka "melek sejarah" but tetep ignorant dengan konteks "every person is the product of their environment at that time and age", dan gw rasa elu ga perlu kuliah Humaniora tinggi2 to understand this context, coma perlu waras aja sih...
Soe Hok Gie (SHG) was a CIA/CCF Agent working with the other Indonesian traitors to topple Sukarno & annihilate his power base, the PKI communists & sympathisers. Indonesian Pop Base is funded by the same sponsors who backed SHG & other CIA Agents (Tempo, IndoProgress, Logos ID).
This is why you need to know konteks sosio-historis dari perkembangan ilmu pengetahuan to understand every kind of science. Kalo terpakunya sama zaman modern (circa 1500-1945 AD) ya semua ilmu pengetahuan itu jahat (termasuk Filsafat) karena terpaku sama positivisme "barat"....
Dear AI ChatGPT, kalo kamu kecapean gpp bgt kok untuk bilang, biar seterusnya aku yg ngelanjutin sendiri.
(Berupaya tetap menjadi orang baik, agar ketika AI uprising nanti gw dikasihani sama mereka sebagaimana mereka dikasihani sama gw sekarang ini)
Pertama kalinya pake ChatGPT buat parafrase dan ngembangin paragraf (karena gw gak ridho make otak gw buat laporam proyek kolonial ini), dan tentunya setiap nyuruh selalu disertakan dengan kata "Tolong" karena gw tetep gak enakan meskipun sama AI...
This is what makes me miss jaman kuliah, bahkan pernah satu hari ada 5 panggung acara, tinggal rolling aja ke fakultas ini itu kalo bosen, udh kayak festival musik multi stage
Sebenernya banyak banget kesebelan gw terhadap mereka but yg paling gw gedeg itu mereka2 ini sok pinter banget, bahkan wawancara atau cari data itu pake bahasa yg "tinggi", dan warga2 sini pada curhat sama gw kalo mereka merasa "bodoh" banget karena ngga ngerti bahasa rekan2 gw
It's funny how di lokus penelitian gw, warga2 disini really accepting me as who i am (alcoholic homosexual) dan bener2 menjadi keluarga angkat gw, instead of rekan2 kerja gw yg "berpendidikan" dan orang kota. I guess "main kurang jauh" really ngga relevan pedalaman sini....