Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara Siti Hafsa diduga melakukan intimidasi kepada korban dugaan pemerkosaan berinisial P (18).
Korban merupakan pekerja rumah tangga (PRT) di rumah pribadi Bupati Konawe Selatan, Irham Kalenggo. P jadi korban dugaan perkosaan yang dilakukan Candra (32) keponakan istri Irham Kalenggo, Nurlita Jaya.
Tindakan bejat pelaku dilakukan di rumah pribadi bupati Irham Kalenggo di Jl Brigjen M Yoenoes, Kelurahan Lepo-lepo, Kecamatan Baruga, Kota Kendari, pada Selasa (12/5/2026) malam.
Usai insiden, korban melaporkan kejadian itu ke Polresta Kendari.
Siti Hafsa ternyata menyusul korban.
Ia menemui P dan menawarkan agar berdamai dengan menikahi keponakan Kadis Kesehatan Konsel itu. "Dia datangi korban di polres, dia bilang, dek kenapa kamu tidak menikah saja dengan ini pelaku," ungkap kuasa hukum korban, Fadri Laulewulu kepada kendarihariini, saat dikonfirmasi, pada Senin (18/5/2026). Fadri bilang, korban menolak keras tawaran itu.
Sebab, disamping karena akan menjadi masalah baru, pelaku juga telah memiliki istri dan satu anak. "Jelas korban tidak mau," tegas Fadri.
Selain tawaran menikah, kepada korban, Siti Hafsa juga mengiming-imingi uang senilai Rp 25 juta untuk modal kuliah dan seekor sapi jika mau berdamai dengan pelaku. "Ambil mi uang peohala Rp 25 juta sebagai biaya kuliah mu. Dan ko ingat, kalau kasus ini berlanjut, namanya Bupati Konsel akan rusak, akan tercoreng," kata Fadri meniru pernyataan Kadis PPPA kepada korban.
Menurut Fadri, tindakan Kadis PPPA Konsel di luar kewenangannya. Pasalnya, lokasi kejadian berada di Kota Kendari. Ditambah lagi, kasus ini tak berkaitan dengan urusan kedinasan. "DP3 ini seharusnya melindungi dan berpihak kepada korban.
Bukan malah terkesan membela pelaku dan menyudutkan korban dengan pilihan damai.
Kadis ini sangat tidak kompeten dengan jabatannya," kesal Fadri.
Kadis PPPA Konsel, Siti Hafsa tak merespons pesan Whatsapp jurnalis kendarihariini saat dihubungi sejak Minggu (17/5/2026).
It is with great sadness that I have to report that Ahmed Hariri, a beloved journalist, paramedic and friend was killed today while carrying out his humanitarian duty attempting to rescue the injured from an Israeli airstrike. He was killed in a barbaric triple-tap attack in Deir Qanoun.
Ahmed was a a gentle soul, and natural helper and brilliant photographer who poignantly documented the lives and deaths of his fellow paramedics.
Ahmed was loved and his memory will be a blessing to all of us who knew him.
In this carousel of photos youโll see the last text message to the local journalist group chat reporting to us the news from Deir Qanoun before he himself became the news.
Israel systematically target and kills medical professionals and journalists. These are acts of genocide.
Kadang gue ga paham sama orang yg was wes wos bilang perusahaan ridehailing itu eksploitatif sama drivernya, tapiโฆ.
kalau naik Gojek selalu pilih yg Goride Hemat dan ga pernah kasih tip ๐ฐ
pokoknya layanan harus semurah-murahnya tapi driver harus sejahtera
hapeku br nyala kedetect di itc roxy ya Allahhhh ๐ญ๐ญ๐ญ๐ญ aku lg minta tolong tmn2ku tp kl ada yg bs bantu lg di deket lokasi guys boleh kabarin ya๐ญ aku masih di ice basd
Twitter pls do your magic!!
Info orang hilang sudah 2x24 jam posisi terakhir pulang kerja dari daerah mall taman palem jalur pulang KRL ke Citayam hari senin tgl 4 Mei 2026 tidak ada kabar dan belum pulang.
Jika ada yang melihat tolong hubungi
WA 085714026308 (dava)