Ijin untuk nulis agak panjang tentang hal di luar sepakbola.
Hal yg menurut gue lebih esensial, sangat esensial tepatnya, dan layak dibagikan, dalam semangat utk impact not impress seperti yg disampaikan om @zoelfick
Bismillah
Gue udah cukup tua, dan dah ngelewatin bnyk hal, ga enak, enak, enak banget. Dan dlm perjalanan sampe umur gue sekarang, pernah tiba di sebuah persimpangan. Dimana akhirnya gue memilih satu arah, logika.
Karna beragam pergaulan, informasi, pengetahuan yg gue dapet, sekian puluh tahun gue mengedepankan logika. Tanpa benar benar meninggalkan Tuhan.
Masih selalu berterimakasih, atau mengadu ke Tuhan untuk segala nikmat, rejeki, karunia, dan juga kesedihan, cobaan.
Yang gue tinggal adalah, ibadah.
Lalu beberapa purnama lalu, gue terlibat diskusi dengan seorang sahabat, yang barengan belajar ttg hidup dari aspek spiritual secara umum.
Karna background kami telco, akhirnya kami tiba di sebuah diskusi tentang ibadah - dalam hal ini sholat, dan demi memahami esensi Sholat ini, kami gunakan analogi dari dunia telco.
Dan sepertinya bagi pengguna sosmed seperti kita ini, akan relate dengan analogi ini.
Kami menganalogikan ibadah sebagai signalling, di dunia cellular - adalah sesuatu yang diperlukan gadget kita supaya bisa terus ngobrol dengan "central network" nya operator, via tower BTS, wifi router, hotspot dsb.
Pengibaratan dalam diskusi tadi, akhirnya berujung pada kesimpulan kurleb begini
Kalo kita ga ibadah, artinya ga ada signalling tadi. Jadi gimana central nya provider, tau ada client yg butuh dilayani?
Bagaimana Tuhan akan mengenali kita? Bagaimana Tuhan tau, kita sedang butuh apa?
Wong kita nya aja ga connect, ga ada signal yg keterima di pusat.
Tapi pak, kan Tuhan Maha Tau.
Bener Tuhan Maha Tau, bagaimana jika gantian Tuhan nanya ke kita.
Tapi lo dulu dah bikin perjanjian ama gue sebelum lu gue kirim ke dunia.
(QS : Al A'raf 172)
Maka jika dalam perjanjian itu sudah bersaksi bahwa Alloh adalah Tuhan kita, artinya kita harus menjalankan apa yang diperintahkan.
QS Adz-Dzariyat : 56
Manusia dan jin diciptakan untuk ibadah kepada Alloh.
Jadi kalo perintah ga dilakukan (bagian dari kesaksian kita kepadaNya) mosok kita minta sesuatu mulu dari Dia ?
Tuhan ga butuh ibadah kita.
Kita yang butuh ibadah, supaya itu tadi, tetap nyambung dan dikenali, ada kita (client) yang sewaktu waktu butuh akses X, IG atau Youtube (ibaratkan, minta kesehatan, kesejahteraan, pengampunan)
Tapi pak, ibadah kan ga cuma sholat?
Bener, tapi Sholat adalah ibadah yg paling intimate, antara kita dan Tuhan saja. Satu satunya yg ga bisa disambi ngerjain yang lain. Ya kan?
Ngopi di cafe, seringkali buru" minta akses wi-fi. Masuk parkiran di basement, blank spot ga ada sinyal aja panik karena ga bisa sosmed-an. Butuh selalu connect
Lha kok gak connect ke PUSAT nya segala PUSAT tenang tenang aja.
Disclaimer : gue bukan orang suci alim, masih cetek. Cuma ingin berbagi, pengalaman perjalanan hidup, sedang diarahkan ke track yg semestinya, oleh Tuhan
Semoga bermanfaat.
Mohon koreksi gus @hayder_imron@hasyimmah pak @MuhammadiyinGL
Rating semua World Cup yg udah pernah gue ikuti seumur hidup:
2010 Afsel (9/10)
GOATED, terlalu ikonik di hampir segala aspek, mulai dari kombo soundtrack-nya (Wavin Flag & Waka-Waka), vuvuzela, Zakumi, jabulani, koleksi stiker Panini & Ciko balls. Ini bahkan blm ngomongin match-matchnya.
Oiya satu lagi, tim Jagoan gue (Belanda) juga jadi runner-up, walau nangis pas kalah di final. Huft lah
2014 Brasil (6/10)
Paling inget di sini Belanda buanyaaaak bgt iconic moments. Bisa bantai Spanyol 5-1 di opening, meme Bruno Martins Indi, legendary sub Tim Krul buat adu penalti, kejebolan voli Tim Cahill, ah, nostalgia.
Sebetulnya ini tuh bukan World Cup yg jelek, cuma entah kenapa kayak ga dapet aja vibe-nya. Jadi OK aja.
2018 Rusia (7/10)
Dibanding yg edisi Brasil, gue malah lebih suka & lebih dapet vibe-nya World Cup ini, padahal setengah hati juga ngikutinnya karena faktor Belanda ga lolos. Waktu itu dr awal mutusin dukung Swedia for fun XD
Hattrick Cristiano ke gawang Spanyol, the legend of Max Meza, peak-nya golden generation Belgia, Mbappe masterclass, dll. Seruuu ini.
2022 Qatar (7/10)
Kalo yg ini agak mixed feeling. Pertama karna mainnya tu di tengah musim, jadi agak janggal sm vibe-nya. Kedua ngeliat Belanda kalah lawan Argentina. Di satu sisi ttp dukung Belanda, tapi di satu sisi juga mau liat Messi sang main character juara. Bittersweet by Najla.
Dikasih partai final yg absolute cinema, bikin gue jadi oh ok deh, World Cup ini ternyata gak sejanggal itu.
-
Tahun ini mirip kayak 2022. Hati ttp Belanda, tapi ngejagoin Portugal buat juara. Jadi kalo di antara 2 tim ini salah satu bisa menang ya happy pokoknya 🇳🇱🇵🇹
How about you? Gimana kalo versi dirimu?
100 juta euro untuk Morgan Rogers: Eksplorator yang Belum Diterjemahkan oleh Dunia
Kenapa value Morgan Rogers itu tinggi sekali? Salah satunya karena mungkin, dunia harus menciptakan istilah baru untuk dia.
Banyak yang menganggap kalau Morgan Rogers adalah pemain #10. Namun, nyatanya, dia bukan #10 tradisional, bukan juga advance #8.
Bukan juga raumdeuter, si spesialis pencari ruang seperti Thomas Muller yang beroperasi “di ruang antara”. Rogers bermain di antara #10 dan second striker.
Dia bukan kreator seperti banyak pemain yang bermain di posisi #10. Bukan juga sumber gol alternatif dan penyedia peluang seperti second striker. Masalahnya, dia BISA SEMUA. Namun, Rogers melakukannya dengan “caranya sendiri”.
Rogers adalah pemain yang disebut “spesialis”. Dia tidak bermain di dalam batasan teknik atau instruksi pemain. Dia memadukan antara momentum, imajinasi, dan keberanian. Maka tidak aneh kalau Rogers pernah bilang kalau, “Saya bermain tidak untuk mencari rasa aman.”
Eksplorator yang eksplosif, bukan cepat
Saya akan menggunakan istilah “eksplorator” untuk Rogers. Eksplorator sendiri adalah seseorang yang melakukan eksplorasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah ini merujuk pada seorang penjelajah atau penyelidik yang bertujuan untuk menemukan, meneliti, atau menggali hal-hal baru di suatu wilayah, bidang ilmu, maupun ranah lainnya.
Jadi, sebagai #10, Rogers tidak bisa dibatasi area bermainnya. Dia akan turun ke bawah menjemput bola atau membuka ruang ke samping untuk melebarkan area permainan.
Namun, di momen tertentu, dia akan menjadi pemain terdepan untuk menerima umpan jauh. Dia adalah pemain yang selalu “mencoba sesuatu” dengan caranya sendiri.
Sebagai seseorang yang selalu berusaha mengeksplorasi, Rogers punya senjata paling mematikan. Dia punya kemampuan ball-carrying yang unik. Dia tidak akan menggiring bola dengan anggun seperti Maradona. Bukan juga yang tipe mendobrak seperti Kaka.
Rogers adalah pemain yang memanipulasi gerakan lawan. Banyak yang menyebut caranya menggiring bola sangat unik. Dia tidak mengandalkan kecepatan. Rogers baru bereaksi, ketika lawan membuat gerakan yang salah. Jadi, dia gerakannya tidak terkalkulasi, tapi efektif.
Simak video di bawah supaya lebih jelas.
Ketahanan tubuh bagian atas dan produktif
Postur tubuh Rogers tidak besar, tidak juga kecil. Namun, dia punya ketahanan tubuh bagian yang atas yang bagus. Ketika menggiring bola, dengan penampilan yang “kasar”, Rogers sering menerima body charge dari lawan. Namun, dia tidak goyah ketika menyerap adu badan itu.
Hal ini membuatnya superior ketika masuk ke dalam kotak penalti. Rogers bisa menemukan ruang tembak. Sudah begitu, dia juga klinis dengan peluang.
Hal ini yang membuatnya jadi pemain mahal. Dia mampu membawa bola dari bawah tanpa kehilangan penguasaan, pandai mengeksplorasi ruang, dan jago memaksimalkan peluang.
Klub yang mengantre: Arsenal, Manchester City, Manchester United, Chelsea, Bayern, dan PSG.
Nggak heran kalau harga Rogers pasti di atas 100 juta euro.
https://t.co/SlbhGA5YAu
@AIS_JOGJA Lalu, jangan merasa klub hebat cuma karena udah juara setelah 22 TAHUN gak juara. Bahkan bisa dibilang klub kamu itu aib big 5 inggris🥰
Trofi UCL/ UEL aja gak punya masa merasa main character sih. Delusional final boss🥺
@gooners_r iyaaa gapapa juga padahal mau ngefansss mah merayakan juara jgn mau diaturrrr. juara premier league & masuk final UCL adalah kebanggaan! Bukan aib!