sebenernya simple banget, you must know your boundaries.
kalo temen lawan jenis lu udah punya pacar, chat seperlunya aja. kalo nggak penting, ya nggak harus dibales. apalagi sampai intens, tiap hari, saling flirting, cari-cari alasan buat ngobrol.
“kan cuma chat doang??? gue sama yang lain juga gitu kok” is not an excuse. boundaries exist for a reason.
intens chat sama pacar orang, apalagi flirty, udah masuk wilayah micro-cheating. respect their relationship and know when to step back.
MENURUT GUA kalo sedih mah sedih aja, upset mah upset aja... nggak usah dilawan dengan pura-pura gapapa like nothing happened. Something clearly happened and your feelings didn’t come out of nowhere. They’re valid, you’re allowed to react to what hurt you. Just saying lho ya✌🏻
Sekelompok orang melakukan eksperimen pada goa terdalam di bumi, goa veryovkina di Georgia, dengan melemparkan bongkahan batu besar ke dasar goa.
Suara gema aneh (seperti teriakan manusia) yg dihasilkan ketika batu menghantam permukaan membuat mereka semua panik.
Sound on 🎧
elvis recorded more than 711 songs, but only 18 became global hits. thomas edison registered more than 1,100 patents, but people only remember one.
lionel messi has taken over 4,520 shots and only scored 859.
walt disney was rejected 302 times because of a lack of creativity before he got mickey mouse financed. van gogh made more than 2,100 paintings, died poor, and most people can't name more than 10.
james dyson built 5,127 prototypes and only 1 changed his life.
and you're giving up cos you haven't got what you want after trying what? twice? or maybe just 10 times? look, and at the end of the day, you don't have to be great to start, but you do have to start to be great.
a winner is just a loser that tried one more time and that's just it. winners lose more than losers even try.
🚨 🗣️💔 BREAKING: GABRIEL MARTINELLI SPEAKS AFTER JOINING AL-HILAL…
🎙️ Interviewer: “Gabriel, you’re now in Saudi Arabia with Al-Hilal. Looking back, you joined Arsenal as a boy and leave as a Premier League champion and the club’s record sale. How do you feel?”
🗣️ Martinelli:
“It’s emotional.
I came to Arsenal as a boy with a dream, and I’m leaving as a champion. If the decision was completely mine, I would have stayed, but sometimes football makes decisions for you.
I’m proud to have won the Premier League and happy to leave Arsenal as their record sale.
Most importantly, I’m grateful to the fans, my teammates and everyone at the club. Arsenal will always be a part of my heart.
#AFC
#TransferNews
Ada satu hal yang sering kita lupakan ketika melihat seseorang belum menikah: kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang ia tanggung.
Betapa banyak laki-laki di luar sana yang masih menjadi tulang punggung keluarganya. Membantu orang tua, membiayai adik-adiknya, membangun karier dari nol atau sekadar berusaha membuat hidupnya sendiri lebih stabil.
Jangankan berpikir untuk menikah dan menanggung keluarga baru, memikirkan kesehatan fisik dan mentalnya sendiri pun terkadang belum sempat.
Namun di sisi lain, ada pula orang yang memang mendapat dukungan keluarga. Biaya pernikahan dibantu, tempat tinggal disiapkan, bahkan kebutuhan awal rumah tangga ikut ditopang.
Itu bukan sesuatu yang salah. Justru merupakan nikmat jika keluarga mampu membantu.
Hanya saja, "kita tidak bisa menjadikan kondisi seseorang sebagai standar untuk mengukur kesiapan orang lain."
Sebab setiap orang berangkat dari titik yang berbeda.
Ada yang sejak muda sudah memiliki support system yang kuat. Ada yang harus membangun semuanya sendiri. Ada yang kariernya sedang berkembang. Ada yang masih punya tanggung jawab terhadap keluarganya. Ada pula yang sebenarnya sudah ingin menikah, tetapi belum menemukan pasangan yang tepat.
Menariknya, tekanan sosial terhadap laki-laki dan perempuan juga sering datang dalam bentuk yang berbeda.
Perempuan usia 25 tahun mungkin sudah sering mendengar, “Jangan terlalu pilih-pilih, nanti susah dapat pasangan.”
Sementara laki-laki bisa mendengar, “Kalau sudah mau menikah, memang sudah siap menafkahi?”
Yang satu sering dikejar oleh waktu, yang lain sering dikejar oleh kesiapan.
Padahal pernikahan bukan sekadar soal siapa yang lebih cepat sampai.
Ada tanggung jawab besar setelah akad yang harus dijalani dua orang, bukan hanya sebuah pesta yang selesai dalam satu hari.
Maka mungkin kita perlu berhenti menjadikan usia pernikahan sebagai ukuran keberhasilan hidup.
"Menikah muda bukan otomatis lebih baik. Menikah lebih lambat juga bukan otomatis lebih buruk."
Yang perlu dilihat adalah bagaimana seseorang mempersiapkan dirinya, memilih pasangannya dan menjalankan amanah ketika waktunya tiba.
Karena kita sering melihat umur seseorang.
"Tapi tidak pernah melihat seluruh perjalanan yang membawanya sampai di sana."