Bersua malah menjadi luka
Rindu bukan jawaban lara
Berpeluk dengan pelik
Menabur kebencian atas diri
3, 2, 1 mencoba lari
Kaki tak enggan pergi
Kalut menyelimuti
Benci jadi diri
Berteriak memaki
Sunyi sepi pagi
Meriuh gemuruh malam
Cahaya berlari-lari
Jadi inget Mbah Tejo pernah bilang "Apa sih yg bukan titipan? nada dan diksi contohnya. Penitipan karya itu lewat alam bawah sadar & kita cuma mediator”
Seni, sastra itu gila. Sulit kalau diukur pakai logika. Rahayu 🙏🏻
Hari 3 dalam tahun yang baru, saya yakin akan ada ke-tidak baik-baik saja, dan saya siap melewatinya, tahun 2022 sudah lumayan belajar banyak, dan akan terus belajar.
Aku jatuh cinta, atas semua yang terjadi saat itu
Sosokmu tidak hilang, hanya pergi duluan
Menunggu kembali terulang, melihatku terus berkembang
Ada hal yang ingin kusampaikan, tapi lupa dimana dan bagaimana caranya
Semoga tetap damai bagimu dan jua diriku.
In frame: Tasya
Mataku mulai merekam momen itu
Duduk bersamamu saat senja
Kala matahari berganti peran dengan bulan
Gemuruh ombak, suara angin
Tak sedikitpun mengganggu
Ceritamu terlalu mengasyikan atau,
Imajinasiku yang terbilang liar
Bulan menunjukkan sosoknya
Lemah lembut terasa membelai
Hanya ingin mati
Sebuah ungkapan dari hati
Tersimpan rindu abadi
Kembali ke pangkuan ibu
Ya Ibu pertiwi
Etnisku bukan asli
Tapi jiwaku?
Tak usah ditanya lagi
Tak cukup kah dimaki
Hanya karena mataku
Kulitku, rambutku dan cara berbicaraku
Tapi jangan pernah memaki Indonesiaku.
Ada yang merasa rumah tidak seperti rumah
Ada yang merasa kesepian lebih meramaikan
Ada yang merasa kebersamaan menjadi kesendirian
Kita tidak mampu mengungkapkan apa yang sebenarnya kita mau dari diri kita sendiri, dan diri kita kadang masih menjadi misteri bagi kita.
Kita hidup selalu meninggalkan jejak, entah itu luka yang bekasnya tidak memudar ataupun serpihan PUP yang menempel di closet, nikmati dan jangan lupa untuk selalu memaki setiap keadaan karena bentuk dari mensyukuri tidak harus mengucapkan kata terimakasih.
Aku Ber-dialog senja diantara hitam-putih lagu 4.20, payung teduh diatas meja, berasmalibrasi bersama. pulau banda neira masih menyimpan bukti bahwa lara dan 3 pagi masih menjadi rasa dan karsa yang bertaut mengubah resah menjadi luka.
Aku menoleh kebelakang, bukan karena mendengar suaramu, tapi kembali kulihat kesalahanku, agar tak terhambat langkahku untuk maju dan semakin mantap melaju.
In Frame: ivanna Pazia
Kamu terlihat manis ketika senyummu tertutup oleh maskermu, kamu terlihat cantik ketika maskermu menutupi sebagian wajahmu, tapi kamu bukan siapa-siapa, dan kuanggap siapa?