🚨 400 TIM BAYANGAN: INOVASI ATAU PINTU KORUPSI BARU?
Kalau benar ada sekitar 400 orang “tim bayangan” di Kemendikbudristek era Nadiem, pertanyaan publik tidak boleh berhenti pada: “Mereka pintar atau tidak?”
Pertanyaan yang lebih penting:
Siapa yang merekrut?
Siapa yang menggaji?
Dari pos anggaran mana?
Apa dasar hukumnya?
Apa output kerjanya?
Siapa yang mengawasi?
Kepada siapa mereka bertanggung jawab?
Negara tidak boleh dikelola seperti startup pribadi.
Dalam birokrasi negara, tidak boleh ada kekuasaan tanpa struktur, anggaran tanpa akuntabilitas, dan pengaruh besar tanpa pertanggungjawaban hukum.
Kalau ratusan orang di luar struktur formal bisa ikut mengendalikan arah kebijakan pendidikan nasional, maka ini bukan sekadar “tim inovasi”.
Ini berpotensi menjadi kotak hitam kebijakan.
Dan kotak hitam seperti ini wajib diaudit total.
Jangan-jangan setelah Chromebook dan Google Cloud, tim bayangan 400 orang ini menjadi pintu masuk kasus korupsi baru.
Pendidikan bukan ruang eksperimen elite teknologi.
APBN bukan venture capital.
Kementerian bukan perusahaan rintisan.
Anak-anak Indonesia bukan data pasar.
Buka semuanya.
Audit kontraknya.
Audit gajinya.
Audit output-nya.
Audit konflik kepentingannya.
#TimBayangan #NadiemMakarim #KorupsiPendidikan #WhiteCollarCrime #ChromebookGate #GoogleCloudGate #MerdekaBelajar #APBNPendidikan #PendidikanIndonesia #AuditDigitalisasiPendidikan
Ini gak salah baca kan? KICKBACK SETERANG INI!!
... Guna mendapatkan 30% revenue Google untuk membayar gaji tim tech, yang diperoleh dari pembayaran Kemdikbud RI atas pengadaan ...
🇮🇩Controversial businessman Gaurav Srivastava who allegedly posed as CIA agent wooed Indonesian president and his brother. He ingratiated himself with Indonesia’s most powerful family, securing preliminary agreements for multi-billion-dollar defense deals, documents show.
Read the full story by Anand Mangnale (@FightAnand), Tom Allard (@tom_allard) and Adil Al Hasan (@tempodotco): https://t.co/muZx1JzYx4
Anomali juknis DAK dalam kasus Chromebook ini adalah contoh nyata bagaimana korupsi modern bekerja. Ia tidak lagi berbentuk suap dalam koper, melainkan bersembunyi di balik regulasi yang rapi: Corruption by Design. Mari kita bedah mengapa ini berbahaya bagi publik.
Dalam tata kelola publik, pola ini disebut Regulatory Capture (pembajakan regulasi). Alih-alih menyusun aturan berdasarkan kebutuhan riil sekolah di daerah (bottom-up), aturan dikunci dari pusat agar menguntungkan vendor atau produk tertentu (vendor lock-in).
Bahayanya? Desentralisasi lumpuh. Dana Alokasi Khusus (DAK) yang harusnya memberi otonomi daerah untuk beli alat sesuai kondisi lokal (misal: daerah susah sinyal butuh laptop offline), terpaksa dipakai beli perangkat cloud-based yang akhirnya mangkrak di kardus.
Korupsi jenis ini merampok dua hal sekaligus: uang negara dan masa depan anak bangsa. Spek rendah dengan harga tinggi (overpricing) membuat anggaran habis tak bersisa, sementara guru dan murid di daerah 3T terjebak dengan teknologi yang belum siap mereka gunakan.
Korupsi bukan cuma soal nominal uang yang dicuri, tapi soal kebijakan yang dimanipulasi sejak dalam pikiran. Publik harus makin kritis: jika sebuah juknis atau aturan pengadaan terasa "terlalu spesifik mengunci merk/sistem", di situlah a
Tanggal 15 Juni 2026, saat MBG digugat ke MK, BGN melakukan RDPU dengan Komisi IX secara tertutup. Ternyata Tahun Anggaran 2027 mereka akan tetap menggunakan anggaran pendidikan.
Fix harus dilawan.
*Paparan aslinya menggunakan wajah anak, saya buramkan.
Setiap 1 porsi MBG ada potongan Rp 2.500 untuk yayasan
Dalam 1 hari ada 60 juta porsi MBG
60 juta porsi x Rp 2.500 = Rp 150 M
22 hari x Rp 150 M = Rp 3.3 T
12 Bulan x Rp 3.3 T = 39.6 T
Jika program ini berlanjut sampai 5 tahun
5 tahun x Rp 39.6 T = Rp 198 T
Berarti ada uang negara sebesar itu masuk ke yayasan-yayasan yang menaungi dapur MBG
Berikut adalah pemilik beberapa yayasan MBG.
cc.thread.faizal_mahakar
tag @menuembegejelek
Benarkah penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus hanya aksi spontan empat prajurit?
Investigasi Project M menemukan dugaan operasi intelijen terstruktur yang melibatkan belasan orang, personel TNI AD, AU, dan AL, hingga pencatutan identitas warga. https://t.co/20aUrQlcmK
Gerombolan preman tidak mungkin mampu mengelola perekonomian.
Pelajaran pahit ini kita telan pada 1957-1967.
Gerombolan bandit buas bersenjata masuk perkebunan karet, mencuri sertifikat tanah, dan mengangkut pergi hasil panen.
Warga setempat ditembak.
Di bawah pengelolaan langsung gerombolan bersenjata senapan mesin yang kini menduduki kursi ruang kantor perusahaan sitaan, produksi komoditas kayu bulat, karet, kopra, kopi, dan sebagainya dilakukan dengan sangat ngawur dan asal-asalan tanpa ilmu dan tanpa adab.
Akibat miskelola mereka, produksi ekspor komoditas Indonesia sepenuhnya ambrol dengan mengejutkan:
- Pembibitan asal-asalan dan bibitnya dicuri,
- Pemanenan asal-asalan dan hasil panennya dicuri,
- Pergudangan asal-asalan dan isi gudangnya dicuri,
- Pencatatan asal-asalan dan uang kas perusahaannya dicuri,
- Distribusi asal-asalan dan isi truknya hilang dicuri dan truknya ikut hilang dicuri [1],
- Penggajian karyawan perkebunan asal-asalan dan uang untuk gajinya dicuri.
[1] Misal, Panglima Territorium IV / Jawa Tengah, Kolonel Soeharto, tertangkap basah mencuri sebanyak 200 buah truk.
Dalam waktu singkat, ekonomi se-Indonesia segera roboh dengan spektakuler dan mengerikan. Sistem logistik nasional kolaps dan isi truknya dijarah warlord bandit berseragam dan truknya dicuri. Beras tidak ditanam, tidak dipanen, dan tidak sampai ke pasar. Hiperinflasi. Kemiskinan ekstrem dan meluas. Kelaparan besar.
Kebingungan, kepanikan, dan kekacauan besar di kehidupan rakyat semua daerah memicu api kemarahan dan kebencian politik ekstrem dan meluas di akar rumput, berakhir dengan genosida massal semesta 1965-1967.
1967, gerombolan bandit hutan buas pengacau itu belajar: "Sewa tenaga ahli. Kita yang tolol dan memang tidak pernah dididik dalam hal ekonomi tidak usah sok tahu deh. Kita cukup diam, biarkan orang lain kerja, lalu curi semua hasil kerja para teknokrat itu."
"Ekonomi nasional itu seperti ayam. Ayam harus kita biarkan beranak sebelum kita potong dan makan."
Pelajaran 1967 ini bahkan sudah terlupakan hari ini.
Hari ini gerombolan penjahat preman buasnya sangat belagu, sangat sok tahu, dan sangat gila serakah karena sudah hampir 30 tahun tidak berkuasa sehingga dikejar-kejar penagih utang.
Seperti binatang buas yang tidak berakal, ayamnya dimakan sebelum bertelur karena sangat lapar. Praktik korupsi pencurian ratusan triliun gila dan tanpa pikir panjang ini ialah MBG dan Kopdes.
Nicolae Ceaușescu - Pemimpin yang terlalu lama hidup di dunia palsu
Selama bertahun-tahun, Nicolae Ceaușescu percaya rakyat mencintainya. Karena semua orang di sekelilingnya terus bilang begitu. Sampai suatu hari, rakyat mencemoohnya langsung di depan kamera.
Ini adalah kisah tragis tentang bagaimana seorang pemimpin bisa benar-benar buta terhadap realita rakyatnya sendiri karena terlalu lama hidup dalam gelembung pujian dan kebohongan.
Awalnya adalah Harapan
Pada tahun 1960-an hingga 70-an, Nicolae Ceaușescu sebenarnya sempat populer. Ia dipuji dunia Barat karena terlihat lebih independen dari Uni Soviet, dan rakyat Romania awalnya percaya bahwa ia akan membawa perubahan besar. Namun, seiring berjalannya waktu, kekuasaan mengubahnya menjadi sosok yang terobsesi pada loyalitas dan pencitraan.
Dunia dalam Sandiwara
Lama-kelamaan, Romania berubah menjadi panggung sandiwara raksasa. Media hanya menjadi alat propaganda yang memajang wajahnya di mana-mana, dan istrinya, Elena, dipuja-puja sebagai ilmuwan besar meski gelarnya hasil manipulasi politik.
Di tingkat pemerintahan, terjadi fenomena yang berbahaya:
- Ketakutan Berkata Jujur: Karena polisi rahasia (Securitate) sangat brutal, tidak ada pejabat yang berani membawa kabar buruk.
- Realita Palsu: Ceaușescu hanya melihat versi Romania yang indah-indah saja dari para penjilatnya, sementara rakyat sebenarnya sedang menderita luar biasa.
Penderitaan di Balik Layar TV
Pada 1980-an, ekonomi Romania hancur karena obsesi Ceaușescu melunasi utang luar negeri. Caranya sangat brutal, bahan pangan diekspor besar-besaran sementara rakyat harus antre roti, listrik dibatasi, dan pemanas rumah dikurangi. Ironisnya, di televisi nasional, berita selalu menunjukkan produksi yang meningkat dan rakyat yang bahagia . Ceaușescu hidup di dunia di mana semua orang selalu bilang, “Rakyat mencintaimu” padahal kebencian sudah memuncak di mana-mana.
Momen Ilusi Itu Pecah: “Alo... Alo...”
Puncaknya terjadi pada 21 Desember 1989. Dalam sebuah pidato besar yang dirancang untuk menunjukkan dukungan rakyat, sesuatu yang tak terduga terjadi, massa mulai mencemoohnya.
Rekaman sejarah menunjukkan momen yang sangat sureal, Ceaușescu terlihat bingung dan terus berkata, "Alo... Alo..." ke arah mikrofon. Ia mengira pengeras suaranya yang rusak, padahal yang sedang hancur adalah ilusi yang selama ini melindunginya. Untuk pertama kalinya, sang diktator sadar bahwa rakyat sebenarnya membencinya.
Kejatuhan yang Kilat
Setelah momen di balkon tersebut, segalanya runtuh dalam hitungan hari. Demonstrasi meluas, militer goyah, dan Ceaușescu bersama istrinya mencoba kabur dengan helikopter namun tertangkap. Pada Hari Natal 1989, sosok yang selama puluhan tahun dianggap tak tersentuh itu akhirnya dieksekusi setelah pengadilan militer yang singkat.
Kisah ini menjadi pengingat sejarah tentang betapa mematikannya sebuah “echo chamber” atau ruang gema kekuasaan yang hanya berisi pujian tanpa kebenaran.
Percakapan dengan bapak setelah bapak nonton Kompas TV soal liputan guru honorer tadi malem.
Bapak,
"Guru banyak yang mau dipecatin itu, bahkan banyak yang ga digaji kaya kasus guru yang di Cirebon itu. Termasuk kamu juga atuh ya?"
Saya,
"Iya pak, ga apa apa udah risiko. Makannya kita bakalan terus melawan dengan berbagai cara. Termasuk untuk engga nyabut gugatan di MK, buat mempertahankan profesi ini & ngejaga masa pendidikan"
Bapak,
"Oh gitu ya...."
Percakapan berlanjut sampe saya ngejelasin pelan pelan soal surat Edaran Kemendikdasmen itu, sampe hubungannya dengan kemurniaan anggaran pendidikan 20%
Dan berakhir dengan ucapan bapak "Prabowo kok.... gitu ya, padahal uangnya kan banyak"
Gw setuju sama poin Bu Elisa.
IMHO narasi yang Mas Ibam angkat terkait pengabdian dengan mengorbankan offering dari Facebook malah kontraproduktif sih mengingat masih banyak guru pengabdiannya luar biasa tapi gajinya cuma sepersekian dari gaji beliau apalagi guru honorer.
Saya tetap nggak akan nerima opini ndakik2 orang masalah pendidikan kalau mereka nggak pernah liat betapa timpang dan nggak meratanya pendidikan di Indonesia. Bukan masalah gaji guru, tapi akses ke hal-hal mendasar untuk menimba ilmu. Bahkan di tahun 2026.
Last week, American/Israeli fighter jets targeted Iranian Pistachio Company warehouses. The Resnick family's Beverly Hills-based pistachio empire stands to gain. You won't believe the backstory ⤵️
Ben Gvir is posting videos showing off the execution chamber where he will exterminate thousands of Palestinian hostages.
Imagine if Hitler broadcast videos of his gas chambers to gloat like this.
Tim Advokasi Untuk Demokrasi (TAUD) merilis (30/3) laporan investigasi independen “OPERASI PARA PENGECUT”, yang mengungkap dugaan keterlibatan 16 orang dalam kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus. Temuan ini membuka indikasi operasi yang terorganisir dan melibatkan jaringan aktor besar.
Indonesia is on track to become the world champion of tropical deforestation. Under the Prabowo administration, over 433,000 hectares were cleared in 2025, nearly double the previous year. Driven by mining and palm oil, the loss equals six times the size of Singapore.
Israel's Prime Minister David Ben-Gurion wrote in his diary about how 20+ Israelis gang raped and killed a Palestinian girl
"It was decided and carried out: they washed her, cut her hair, raped her and killed her," he wrote.