โ โ โ "Eh, lihat itu deh."
โ โ โ Fokus Lusi sejenak teralih pada dua wanita di dekatnya. Sebelumnya suara salah satunya terdengar cukup keras, tapi kini mereka hanya berbisik sambil menunjuk-nunjuk ke arah Lusi dan @terlempai.
โ โ โ Kenapa, ya? Apa mereka berniat membela Lusi?
โ โ โ Bukan hanya segelas kopi di tangan yang panas, sorot sinar mentari pukul dua belas siang pun begitu.
โ โ โ Lusi, gadis berpipi tembam dengan tas ransel merah di gendongan, berjalan terburu-buru di tepi jalan; di atas trotoar. Ia menunduk berusaha menyembunyikan wajah dari
โ โ โ "Maaf, Pak, Lulu enggak bermaksud ... hiks. Lulu takut." Lusi menyeka air matanya sebelum mendongakโmenatap wajah lawan bicara yang jelas menyiratkan kekesalan. Pun Lusi menelan ludah. "Tapi uang Lulu habis untuk beli kopi ... Lulu enggak ada uang untuk ganti kemeja Bapak."
Kemeja putihnya kini berwarna cokelat pada bagian depan akibat tumpahan kopi.
Kalingga memandang bergantian dari kemejanya dan @MUDBL00M yang masih berdiri di hadapannya. Ia hanya menghela nafas dan mengambil gelas kopi yang terjatuh.
โGak liat kalau ada orang lagi jalan, ya?โ
dari atas sampai bawah. Kemudian bibir tebalnya kembali bergerak, "Lulu tahu nama Clara soalnya Clara populer. Lulu enggak nyangka ... niat baik Lulu malah bikin Lulu bisa duduk dekat Clara, hehe."
โก ` @berjingkat !
โ โ โ "Biasanya teman-teman ngincar bangku depan atau belakang, lho, Clara. Makanya Lulu pilih bangku di sini ... biar teman-teman enggak terpaksa duduk di sini."
โ โ โ Setelah berujar demikian Lusi kembali duduk di bangkunya. Ia menautkan kedua tangan sambil menatap Clara