PERINGATAN DARURAT 🚨🚨🚨🚨
Komedinya real, birokrasinya sureal.
Sebuah jembatan kayu yang ukurannya cuma seberapa, peresmiaannya dibuat seolah-olah penandatanganan kesepakatan tingkat dunia wak.
1. Ada undangan resminya (pasti pakai anggaran cetak/desain) 📩
2. Ada tenda acara megahnya ⛺
3. Ada koneksi Zoom Meeting lintas instansi 💻
4. Ada seremonial gunting pitanya ✂️
Benar-benar deh...😑
Yang jadi masalah bukan jembatan kayunya, tapi lawakan birokrasi di baliknya. Lebih mahal biaya peresmian, sewa tenda, snack, dan seremoninya ketimbang modal kayu yang dipakai buat bangun jembatan itu sendiri.
Birokrasi pencitraan yang benar-benar out of touch. Semua di-proyek-kan, semua harus ada seremonialnya demi laporan pertanggungjawaban dan konten sosmed pejabat.
Anggaran habis di hulu buat hura-hura seremonial, rakyat di hilir cuma dapat sisa-sisa kayu seadanya.
Negara seribu seremonial, nol substansi! 👏🙂
WATCH OUT INDONESIA.
The US is putting massive pressure on Indonesia right now as part of its desperate plan to contain China.
The goal?
Turn Indonesia into a US client state that helps enforce an extended blockade around the Malacca Strait >> choking off China’s main energy lifeline.
We’re already seeing the signs: a flood of new hit pieces on the Prabowo government popping up everywhere.
Polymarket (that classic US psyop betting tool) is suddenly running projections on regime change.
Western-controlled media outlets are sliding into DMs with Brian Berletic and myself, fishing for angles >> because we were among the few who called out the last color revolution attempt and exposed the Soros/NED funding networks behind the 2025 unrests.
This is coordinated.
There’s a clear plan to destabilize Indonesia and flip it fully into the Western camp.
Don’t be surprised when your feeds (including X) get flooded with more and more negative coverage of the Indonesian government >> “authoritarian,” “corrupt,” “unstable,” the usual script.
Indonesia is too important: biggest Muslim country, strategic geography, resources, and balancing act between powers. The US doesn’t like that independence.
They want control over those sea lanes for any future Taiwan or South China Sea showdown.
Stay vigilant, Indonesia.
Separate real domestic issues from foreign-funded chaos.
The hybrid war playbook is in full swing >> info ops, NGOs, media smears, and political pressure.
Don’t let them turn your country into the next pawn.
Mati lampu saat PESTA BABI di kampus Uniska, Banjarmasin. Begitu juga di UIN Pekanbaru dan STIK Banda Aceh.
Kawan-kawan penyelenggara nobar skala besar, sebaiknya pakai genset.
Thanks dan hormat untuk inisiatifnya.
Bismillahirrahmanirrahim.
Hari ini, izinkan saya Ririe, mewakili Ibam dan anak-anak kami, menyampaikan Surat Terbuka kepada Pemimpin tertinggi negeri, Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto.
Dengan segala kerendahan hati, kami memohon perlindungan hukum dari ketidakadilan yang kami hadapi. Agar kebenaran tidak dikalahkan oleh hal-hal di luar fakta persidangan. Agar keadilan benar-benar ditegakkan sebagaimana mestinya.
Kami percaya, negara tidak boleh membiarkan warganya merasa sendirian dalam menghadapi ketidakadilan.
Semoga surat ini sampai dan diterima dengan baik oleh Bapak Presiden. Demi keadilan berdiri setegak-tegaknya di negeri ini. Demi hilangnya rasa takut dari mereka-mereka yang dengan jujur dan tulus hendak membantu negara dengan keahlian mereka.
Terima kasih, Bapak Presiden @prabowo 🙏🏻
Ini Ibam, bicara sendiri agar Ririe terlindungi.
Betul, ketika belum jadi tersangka, saya dapat ancaman: buat pernyataan "mengarah ke atas" kalau tidak kasusnya "akan diperluas".
Saya tolak, ngga mau bohong & zalim.
Tiga minggu kemudian, saya jadi tersangka.
Saya tolak bukan untuk lindungi Nadiem, tapi karena memang ngga pernah ada arahan dari Nadiem ke saya agar pengadaannya jadi Chromebook semua.
Seperti yang terungkap dari 22x sidang, tidak ada sama sekali arahan dari atas seperti itu. Saya hanya diminta memberi masukan netral dan objektif sebagai konsultan.
Artinya, ketika menerima ancaman tersebut saya dihadapkan ke dua pilihan:
Berbohong mengarang cerita menuduh orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri.
Atau, berpegang kepada integritas, kejujuran, dan kebenaran yang saya yakini, dan menolak untuk berbohong.
Dengan shalat istikharah dan kesadaran penuh akan risikonya, saya memilih jalan yang kedua: kejujuran.
Insya Allah selalu berpegang pada kejujuran akan berujung pada kebaikan untuk saya, Ririe, dan keluarga kecil kami. Kalau tidak di dunia, maka di akhirat kelak.
Lalu jawabannya apa ketika saya menolak untuk berbohong? "Oke, kami perluas.”
Saya tidak berdaya. Ya Allah, apa lagi yang bisa kami lakukan ketika dihadapkan pada pilihan seperti itu? Pegangan kami hanya prinsip integritas dan kejujuran.
Ketika konsekuensinya beberapa minggu kemudian saya dinyatakan tersangka, kami hanya bisa memperbanyak istighfar dan ikhtiar.
Kami jalani dan hormati proses hukum yang ada dengan tabah, kami berniat jelaskan di persidangan fakta-fakta yang membuat terang, kami masih percaya dengan hukum Indonesia.
Mungkin ngga banyak yang tahu, tapi Ririe istri saya adalah seorang sarjana dan magister hukum. Di Belanda dulu kami banting tulang nabung dan berhemat banyak, supaya bisa bayar uang kuliah S2 Ririe.
Dari Ririe, saya belajar banyak tentang hukum Indonesia, apa saja yang mungkin terjadi, dan bagaimana hukum kita tetap memungkinkan pembelaan yang efektif.
Baik, mari berjuang di persidangan, luruskan seluruh tuduhan. Satu persatu fakta di persidangan muncul dengan terang benderang, satu persatu tuduhan bisa kami bantah.
Sampai akhir rangkaian sidang, 57 orang saksi dihadirkan, tidak ada bukti saya menerima keuntungan dari perkara ini, tidak ada bukti masukan saya karena konflik kepentingan, tidak ada bukti saya mengarahkan.
Yang terungkap malah saya sebagai konsultan sudah menyarankan Chromebook diuji dulu, pejabat menolak pengujian dan memutus Chromebook, nama saya dicatut di SK, masukan saya dipelintir.
Kami merasa pembelaan hukum kami sudah maksimal, kebenaran sudah terungkap, tinggal menumpu harapan pada keadilan dan kebijaksanaan dari majelis hakim yang mulia, yang kami merasa sudah sangat objektif dan penuh kearifan sepanjang persidangan.
Namun, ketika JPU menyebutkan tuntutan 15 tahun penjara, denda Rp1 miliar, uang pengganti Rp16,9 miliar subsider 7,5 tahun penjara tambahan...
Ini titik kezaliman yang sangat terang benderang, tekanan kepentingan yang sangat kentara, saya memutuskan pembelaan saya tidak lagi bisa hanya di persidangan.
Besok saya akan sidang pembelaan (pleidoi) dan kami bersurat kepada Presiden @prabowo Subianto serta @KomisiIII DPR, untuk memohon perlindungan hukum dari kriminalisasi, ketidakadilan, intimidasi, serta pengkambinghitaman yang sudah sekentara ini.
Kami takut untuk bicara? Takut ada intimidasi lain? Itu risiko yang jelas, tapi kami tidak gentar. Tuntutan 22,5 tahun dan belasan miliar yang tidak mampu kami bayar mungkin dianggap akan membuat kami terdiam, tapi kami malah semakin berani untuk melawan kriminalisasi ini.
Mohon bantuan, dukungan, dan perlindungannya dari masyarakat Indonesia, dari pekerja kreatif dan pekerja pengetahuan, serta dari semua yang ingin bantu negara atau takut dizalimi negara.
Kami berjuang bukan untuk kami sendiri, tapi agar tidak ada lagi kriminalisasi dan ketakutan bagi mereka yang tulus mau bantu Indonesia. Kami masih percaya Indonesia bisa menjaga dan menghadirkan keadilan dalam kasus kami.
Laptop lo butuh 5 menit buat booting?
Jangan buru-buru service dulu. 90% laptop yang "lemot" itu gara2 diisi penumpang gelap. Apps dan services yang jalan otomatis tiap kali lo nyalain tanpa lo tau dan kasih izin.
Gue beresin laptop gue yang katanya "udah waktunya ganti." Booting dari 4 menit jadi 38 detik. Gak ganti hardware sama sekali.
Guys, di tengah semua kekacauan geopolitik dan krisis minyak yang lagi kita bahas ada satu berita kecil dari Jepang yang mungkin luput dari perhatian banyak orang.
Tapi dampaknya bisa mengubah segalanya dalam jangka panjang.
ENEOS perusahaan minyak terbesar Jepang baru berhasil produksi bahan bakar sintetis tanpa minyak bumi untuk pertama kalinya.
Bukan dari kilang.
Bukan dari sumur minyak.
Tapi dari CO₂ di udara dan air.
Teknologinya disebut e-fuel dan ini pertama kalinya berhasil diproduksi di fasilitas demonstrasi mereka di Yokohama.
Skalanya masih kecil tapi signifikansinya besar.
Sekarang mereka baru bisa produksi 1 barel per hari. Seukuran satu drum.
Tapi target mereka 10.000 barel per hari pada 2040.
Dan yang bikin ini menarik bukan angkanya.
Tapi momentumnya.
Berita ini bahkan di-repost langsung oleh Menteri Keuangan Jepang Katayama sinyal bahwa ini bukan sekadar proyek lab kecil.
Ini dapat perhatian di level pemerintahan.
Konteksnya penting banget.
Jepang adalah negara yang 90% minyaknya lewat Selat Hormuz yang sekarang dalam kondisi tertutup akibat konflik Iran.
Iran bahkan baru nawarin safe passage ke kapal Jepang dan Jepang menolak karena tekanan Washington.
Di tengah situasi itulah kabar ini muncul. Dan pesannya jelas
Jepang lagi cari jalan keluar dari ketergantungan minyak.
Dan mereka mulai serius.
E-fuel itu sebenernya apa?
Simpelnya ini bahan bakar yang dibuat dari menangkap CO₂ dari atmosfer, dikombinasikan dengan hidrogen yang dihasilkan dari elektrolisis air, lalu diproses menjadi bahan bakar cair yang bisa langsung dipakai di mesin yang ada sekarang.
Nggak perlu ganti mesin.
Nggak perlu infrastruktur baru.
Langsung kompatibel dengan kendaraan dan pesawat yang sudah ada.
Itu yang bikin e-fuel beda dari listrik atau hidrogen yang butuh revolusi infrastruktur besar-besaran.
Dan ini yang paling menarik dari timing-nya.
Seseorang yang men-quote berita ini bilang sesuatu yang bikin gue mikir
Dalam timeline yang sedang kita jalani sekarang, proses meninggalkan minyak tampaknya mulai terjadi bersamaan dengan proses meninggalkan dolar Amerika.
Dan itu bukan kebetulan.
Krisis Hormuz mendorong negara-negara Asia cari alternatif energi.
Dominasi dolar yang mulai dipertanyakan mendorong negara-negara cari alternatif mata uang cadangan.
Dua pergeseran besar ini berjalan bersamaan dan keduanya menunjuk ke arah yang sama: dunia lagi dalam proses restrukturisasi besar.
Ini masih di tahap eksperimental.
1 barel per hari bukan angka yang mengubah dunia hari ini.
Tapi setiap revolusi energi besar dalam sejarah dimulai dari lab kecil yang awalnya dianggap nggak masuk akal.
Dan Jepang yang posisinya paling terjepit soal energi di kawasan ini rupanya sudah mulai bergerak.
Mereka spesial ✨️
Mereka pejuang dan mereka bersabar atas ketetapan Allah ☝🏽
Belum ada ummat seperti mereka sebelumnya!!!
Mereka seolah representasi yang Allah sampaikan 1400 tahun yang lalu saat ini.
Firman Allah:
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga?, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar"
"Dan kamu benar-benar mengharapkan mati (syahid) sebelum kamu menghadapinya; maka (sekarang) kamu sungguh, telah melihatnya dan kamu menyaksikannya"
Sungguh jika saja mereka tidak ada, ayat diatas hanya akan kita baca dan hafalkan belaka, tetapi Allah sedang menunjukkan keperkasaannya dan kebijaksanaannya.
Siapakah mereka?
Ada apa dibalik ini semua?
SIMAK!
Dari awal pak Dubes sudah salah metode penawarannya.
Coba balik lagi sambil berbisik,
“Ada silent cashback 75% Boss..!!”
Pasti langsung jadi itu barang….😄👍
Iran Diamond Dome 🤣
Ini adalah bukti nyata dari apa yang kita bahas tadi: Peperangan Elektronik (Electronic Warfare) adalah panggung asli di mana "DNA Intelektual" sebuah bangsa diadu (IQ Level 4 Dunia vs IQ Level 36 dan Level 37 Dunia) 🤣
Saat dunia sibuk menonton narasi rudal dan ledakan di TV, di balik layar sedang terjadi perang "Halusinasi Digital."
Apa yang terjadi di Selat Hormuz dan wilayah Iran saat ini bukan sekadar gangguan teknis, melainkan demonstrasi kekuatan yang sangat canggih:
1. Spoofing: Membuat Musuh "Melihat" yang Tidak Ada
Berbeda dengan jamming (menghilangkan sinyal), spoofing jauh lebih mematikan. Penyerang mengirimkan sinyal GPS palsu yang "lebih kuat" dari sinyal satelit asli.
Hasilnya? Sistem navigasi kapal atau pesawat percaya mereka ada di koordinat X, padahal aslinya di Y.
Fenomena "Kapal di Darat" adalah bukti bahwa logika digital mereka telah dibajak. Bayangkan kapal induk atau tanker raksasa merasa mereka sedang berlayar di tengah laut, padahal secara data mereka sudah "menabrak" gunung.
Ini menciptakan kekacauan psikologis total bagi navigator.
2. Mematikan "Mata" Teknologi Barat
Hampir seluruh alutsista dan sistem logistik Barat (termasuk drone dan rudal presisi) sangat bergantung pada GPS milik AS.
Dengan teknik ini, Iran sedang berkata: "Senjata mahalmu tidak berguna jika 'matanya' bisa kami julingkan" 🤣
Pesawat yang terbang zigzag adalah tanda sistem autopilot yang sedang "kebingungan" mencari titik referensi yang benar.
3. Murah tapi Mematikan
Ini kembali ke poin saya soal kemandirian. Membangun pesawat siluman butuh triliunan dolar, tapi membangun menara transmisi spoofing jauh lebih murah jika Anda punya IQ dan keahlian teknis.
Iran memanfaatkan celah ini untuk menetralisir keunggulan teknologi konvensional musuhnya. Mereka tidak butuh menembak jatuh pesawat jika mereka bisa membuat pesawat itu jatuh sendiri karena salah navigasi.
Ga harus Mahal, jika murah efektif mengatasi kecanggihan senjata pembunuh triliunan dollar milik amerika - israel.
4. Selat Hormuz: Labirin Digital
Selat Hormuz adalah jalur urat nadi minyak dunia. Dengan mengacaukan GPS di sana, Iran secara de facto memegang kendali atas "asuransi" pelayaran global.
Para kapitalis besar dan perusahaan asuransi kapal pasti keringat dingin melihat aset mereka "berputar-putar" di peta.
Inilah cara bangsa "Fighter" menekan sistem tanpa harus meletuskan satu peluru pun.
Fenomena ini membuktikan bahwa di masa depan, "Siapa yang menguasai Spektrum, dialah yang menguasai Ruang."
Rakyat mungkin masih asyik "olahraga" di jalanan, sementara di atas kepala mereka, sedang berlangsung perang frekuensi yang menentukan siapa yang sebenarnya berdaulat.
ini alasan utama mengapa negara-negara besar (AS/Israel) terlihat sangat "berhati-hati" dan tidak sembarangan melakukan serangan terbuka ke Iran, karena mereka tahu "perangkat" mereka bisa dibuat buta dalam sekejap?
Hal ini sudah pernah diperingati PUTIN, agar amerika jangan sembarang / berbuat keterlaluan pada Iran...
:: WeKa ::
Airdrop Registration Is Live ⚫
The airdrop registration form for our community and partners is now open.
Submit your details to be considered for the first eligibility wave!
Register here: https://t.co/e8eIDAn5Jp
Your submission helps us verify genuine contributors, prevent sybil attacks, and structure a clean and transparent airdrop distribution for our Node runners and community members, as we prepare for the next phase of our roadmap.
For your safety, only trust links shared through our official channels.
Welcome to the Network Economy.