@mantriss yok wes wayae bangsa iki sadar, terjerat dengan pengkultusan individu. wayae mbangun sistem, udu mbangun figur. wayae ndue nalar, duk ndelehne nalar manut kondone wong liyo, ning gus gus an misale. ayo berakal
@sukakicecream lanang yo iso ngono kang. lek kui dasar e manungso. boh kui lanang boh kui wedok.
duduk sama rata, berdiri tanpa raja. jare wedok prinsip e kesetaraan mak.
dididik untuk tahu yang benar dan mana yang salah, bukan taat pada perintah. mugo konco2ku kedinasan, taruna, aparat ngerti ndi wayae kudu patuh, ndi wayae ora. masio aku ga ngerti jerone pie, tapi kebenaran akan menemukan jalannya. salah yo salah. bener yo bener.
mugo dadi uwong udu taat hukum, tapi ngerti dan paham akan nilai keadilan walaupun keadilan mutlak milik Allah Azza Wa Jalla. Tugas kita sbg manusia cukup berusaha π€²π½
semakin lama tak sadari, terkadang ada jurang pemisah antara hukum dan keadilan. hukum kadang dadi kepentingan politik. keadilan kui sebener e kebeneran mutlak, tapi manusia sifat e terbatas ga bakal nyampe iso ning titik keadilan.
jarene rocky gerung, ijazah iku tanda uwong pernah sekolah, bukan tanda orang pernah berfikir.
kelingan, ndisek tau viral, omongan e gibran. terkait asam sulfat, seharus e kan asam folat kan yo.
nah soko kui ketok lek gibran ra tau mikir.
wes ra tau mikir, ijazah yo ruwet
Tidak semua yang kita pikirkan perlu menjadi kenyataan. Beberapa cukup singgah sebagai kemungkinan, lalu kita biarkan pergi. Kedewasaan kadang bukan tentang mendapatkan semua yang diinginkan, tetapi tahu mana yang layak diperjuangkan.
"Dosa meninggalkan pengaruh pada hati. Jika seseorang terus menerus melakukan dosa tanpa taubat, hati dapat menjadi semakin tertutup dari kepekaan terhadap kebenaran."
Imam al-Ghazali
Mari kita biasakan mengatakan ini: "Tuhan, perbaiki aku. Kadang aku bukan sekadar punya masalah, aku adalah masalahnya. Perbaiki aku, karena aku lelah mencoba memperbaiki diriku sendiri. Bentuklah hatiku menjadi lebih lembut, lebih mudah memaafkan, dan semakin penuh kasih. Ajari aku bertanggung jawab tanpa terjebak dalam kegagalanku. Bantu aku tumbuh melalui luka, kesalahan, dan air mata. Teruslah ada di dalam diriku, Tuhan. Aku serahkan hidupku sepenuhnya kepada-Mu.
Kopi terasa enak karena secangkir, bukan segalon. Mie ayam terasa nikmat karena semangkuk, bukan sebaskom. Pelangi terasa indah karena hadir sebentar, bukan seharian. Ternyata, banyak hal dalam hidup terasa lebih berarti saat kita menikmatinya secukupnya, bukan semaunya.
Katanya, kita nggak bisa menghindari rasa kecewa terhadap manusia. Bahkan sebaik apa pun seseorang, dia tetap punya potensi untuk mengecewakan. Bukan karena dia jahat, tetapi karena dia manusia.