Zulhas nggak salah.
Kalau pembangunan gedung koperasi dikerjakan TNI, angka proyek memang bisa lebih murah, karena bisa menghemat dari komponen tenaga kerja, dimana komponen manpower sipil biasanya 20–30% dari total biaya proyek.
Mengingat anggaran gedung koperasi adalah Rp1,658 miliar per unit, artinya, maka penghematan seharusnya sekitar Rp332–497 juta per unit.
Pertanyaannya, kalau anggarannya masih tetap segitu, padahal komponen manpower sudah bisa ditekan, sisanya lari ke mana? 😏
Masih menjadi salah satu cerita underdog terhebat dlm sejarah sepak bola.
Bagaimana seorang anak korban perang yg hidup di pengungsian, anak yg kelewat kecil dan pernah kekurangan gizi, mampu tumbuh menjadi salah satu ikon paling terkenal di sepak bola dunia.
Seorang yg tak menggunakan kekuatan tubuhnya sbg modal utama, tetapi memakai visi, kecerdasan otak, kemampuan mengendalikan tempo, serta umpan2 yg elegan utk menaklukkan pertandingan2 berat sepanjang kariernya.
Seseorang yg sukses luar biasa dgn memenangkan lebih dr 30 trofi mayor, peraih penghargaan individual paling bergengsi, dan membantu negerinya mencapai final Piala Dunia.
Akhirnya waktu ini tiba.
Terima kasih, Luka Modric.
Kebagian juga nih sensus.
Mama ku : kok hutangnya ga ditanya bu?
Petugas : yaah klo itu kan urusan pribadi pak, bu.
Kami serempak : ya penghasilan juga urusan pribadi kali buu..
Maaf ya bu, kita tau ibu2 ini hanyalah petugas lapangan aja. Tapi zuzur.. udh keburu gondok aja klo udh menyangkut sama govt. Skrg tuh.
Kamu udh ada yg didatengin petugas sensus ekonomi kah?
momen ahli MBG kena skakmat hakim:
Ahli MBG DPR (Parulian): Yang Mulia, di Finlandia dan Swedia, makan siang gratis itu hak subjektif setiap siswa, didanai penuh oleh pajak. Di Inggris hanya untuk kelompok penerima manfaat tertentu. Prancis dan Italia mengombinasikan subsidi negara dengan iuran orang tua dan standar gizi ketat. Bahkan di Jepang, makan siang jadi bagian kurikulum pendidikan lewat Gakkou Kyushoku. Brasil mencantumkan hak atas makan dalam konstitusinya, India lewat putusan MA sebagai hak dasar hidup.
Hakim MK (Saldi Isra): Saya singkat saja, tapi dijawab langsung ya, Pak Doktor Parulian. Dari negara-negara yang tadi Bapak jadikan komparasi, ada enggak di konstitusinya yang menentukan mandatory spending 20 persen untuk pendidikan? Tolong dijawab, Pak.
Ahli MBG DPR (Parulian): Tidak ada, Prof.
Hakim MK (Saldi Isra): Oke, terima kasih, saya tidak melanjutkan pertanyaan saya.
Intinya Saldi menskakmat dengan satu pertanyaan perbandingan Parulian dianggap tidak setara karena Indonesia punya kewajiban konstitusional 20% anggaran pendidikan yang tak dimiliki negara-negara pembanding tersebut.
@LambeSahamjja Mereka nyari 1001 macam alasan buat melanggengkan proyek MBG.
Padahal Cina, Jepang, dan negara² lain yg super kaya pun tidak memberikan MBG kpd seluruh siswanya. Cina hanya memberi sekitar 50 jt siswa. Jepang cuma 5 jt siswa.
NKRI negara kere gegayaan ngasih makan 83 jt penerima
Sebelum mendapatkan transfer impiannya senilai €55 juta ke FC Bayern, Ismael Saibari "hanya" mendapatkan €19.200 per minggu di PSV Eindhoven.
Pacarnya, yang tidak terkesan dengan gajinya, meninggalkannya, dengan alasan bahwa ia tidak mampu memberikan gaya hidup yang diinginkannya.
Namun situasinya segera berubah. Begitu transfernya ke Bayern diumumkan, ia langsung mengirimkan pesan panjang kepadanya untuk meminta maaf dan mencoba memenangkan hatinya kembali.
Alih-alih membalas, Saibari hanya memposting tangkapan layar pesan lamanya, di mana ia mengatakan: "Kamu tidak mampu merawatku," tepat di sebelah pesan permintaan maaf barunya.
Tidak butuh waktu lama bagi Saibari untuk menjadi pencetak gol terbanyak Maroko di Piala Dunia, dengan 3 gol dalam 4 pertandingan. Ia juga mencetak gol penalti melawan Belanda yang mengamankan tempat mereka di babak 16 besar.
Host: MBG lagi ribut nih, Om.
Deddy: Emang hancur-hancuran, buktinya Dadan ditangkap. Ada yang salah di pengelolaannya.
Host: Berarti setuju dikritik habis?
Deddy: Setuju. Kalau busuk, bongkar aja.
Host: Tapi Om jarang vokal ya?
Deddy: Gue bedain kritik berilmu sama ikut arus. Yang paham data kayak Feri Irwandi, Felix Siauw, Feri Amsari, itu gue dengerin.
Host: Beda sama yang cuma ribut doang?
Deddy: Beda jauh. Yang berisik tanpa ilmu itu cuma nambah gaduh, enggak produktif.
Bagaimana mungkin Timnas Prancis, sebuah tim yg berakar dr negara yg liganya terus2an dirundung persoalan finansial, yg klub2nya terpaksa menjual aset terbaiknya setiap musim panas.
Atau negara yg sistem pajaknya dirancang seolah2 utk menghukum industri olahraga, bisa tetap berdiri tegak sebagai salah satu kekuatan utama sepak bola global?
Jawabannya terletak pada ketahanan sebuah ekosistem yg simbiotik.
Timnas Prancis telah membuktikan bahwa dlm sepak bola modern yg dikendalikan oleh kapitalisme global, modal finansial bukanlah satu2nya jalan menuju kejayaan.
Jika ligamu tak punya uang utk membeli bintang jadi dari pasar eksternal, artinya kamu harus memiliki keunggulan institusional yg mutlak dlm mengelola modal manusia dan modal budaya yg ada di dalam negerimu sendiri.
Tulisan agak panjang saya soal mengapa stok talenta2 pesepak bola kelas dunia dari Prancis seakan tak pernah habis..
https://t.co/edZJoa18az
Akun @cabinetcouture_idn di Instagram yang spill harga outfit pejabat sudah diblokir oleh Komdigi.
Di keterangannya tertulis dibatasi atas permintaan legal Komdigi.
Ini mengingatkan pada Nepal.
Sebelum kerusuhan Gen Z pecah, akun-akun medsos ramai membongkar gaya hidup keluarga pejabat lewat hashtag #PoliticiansNepoBabyNepal, #NepoKids, dan #NepoBabies: outfit mahal, mobil, liburan luar negeri, sekolah elite.
Isunya cepat melebar karena publik melihat keluarga elite hidup terlalu nyaman, sementara anak muda biasa susah kerja dan banyak yang harus jadi pekerja migran.
Saat itu pemerintah Nepal memblokir 26 platform medsos, yang justru menjadi pemantik kemarahan GenZ hingga terjadi kerusuhan.
Pejabat Indonesia seharusnya belajar dari Nepal.
Alih-alih membatasi akun yang menaruh price tag pada gaya hidup elite, mereka seharusnya lebih peka untuk tidak mempertontonkan kemewahan di tengah hidup warga yang makin berat.
Di zaman medsos, pemblokiran tidak membuat isu hilang, tapi justru membuat publik makin ingin tahu apa yang sedang ditutup-tutupi.
Olise diplot di no 10 bikin dia lebih dekat dengan Mbappe sekaligus ke arah gawang. Bergerak lebih roaming ke sisi kiri atau kanan & di laga ini cetak 2 assist menunjukkan ia punya kemampuan playmaking.
Deschamps ada Cherki yg punya sihir namun Olise jadi pilihan utama berkat kemampuan adaptif dengan peran free rolenya.
funfactnya adalah dr. Icha sudah melapor sejak 14 Juni. ke Badan Kehormatan DPRD, ke Dinkes TTU dan ke IDI.
semua jalur resmi sudah ditempuh. tapi yang membuat kasus ini akhirnya "bergerak cepat" bukan laporan itu, melainkan "kematiannya"
dinkes TTU memang sudah menyatakan keprihatinan sejak awal. tapi keprihatinan saja tidak menghentikan apa pun. tidak ada tindakan tegas dan konkret yang membuat dr. Icha merasa lebih aman untuk kembali bertugas.
RS Leona baru menemui Bupati untuk minta maaf, setelah dr. Icha meninggal dan kasusnya ramai di media, setelah izin operasionalnya terancam. bukan saat dokternya "masih hidup dan ketakutan" untuk kembali bekerja.
"dimana perlindungan RS terhadap dokternya??"
Golkar baru menugaskan pemanggilan kadernya hari ini. PKB baru berencana tabayun. Semua "akan", dan "baru menugaskan", serta baru "berencana".
kata- kata kerja masa depan, padahal kasusnya sudah berlangsung dua minggu sebelum dr. Icha menghadap yang kuasa.
sungguh miris "kepedulian itu baru muncul" setelah ada yang harus meninggal lebih dulu.
"apakah harus ada nyawa melayang dulu baru peduli?"
Ini pola yang lazim dan sering kita lihat di negeri ini. Institusi bergerak cepat untuk pemulihan citra, tetapi lambat untuk pencegahan.
surat keprihatinan dikirim cepat. izin RS dibekukan cepat. tapi perlindungan nyata, yang seharusnya hadir SEBELUM seseorang putus asa, "datang terlambat."
dr. Icha sudah melakukan semua yang seharusnya. Melapor lewat jalur resmi, mengikuti SOP, mencari pendapat dari yang lebih ahli, berusaha bertahan. sistem yang gagal menjaganya bahkan di tengah ia berusaha menjaga dirinya sendiri. beliau menjadi korban.
RS gagal melindungi karyawannya, dinkes gagal melindungi tenaga kesehatannya, IDI gagal melindungi anggotanya, badan kehormatan DPRD gagal membina anggotanya. MIRIS