banyak orang lagi silent struggle. keliatannya fine, ketawa, jalanin hari kayak biasa. padahal deep downnya lagi capek-capeknya bertahan. so be kind, always. kita ga pernah tau seberapa berat dunia seseorang hari ini.
Pernah nggak sih lo tidur jam 11 malem, udah nyenyak banget, eh tau-tau kebangun jam 3 atau 4 pagi?
Abis itu muter kiri kanan, nyoba tidur lagi, tapi pikiran malah masih aktif dan susah merem sampai subuh.
Kondisi kayak gini disebut Early Awakening Insomnia.
Apa itu maksudnya?
biasa mikir apa-apa sendiri, ngusahain semuanya sendiri, tiba-tiba ada yang bantu mikir, ada yang ngeprovide apa yang aku butuh, jadi canggung, ngerasa ga enak dan ga layak diperlakukan sebaik ini 🥺
Empat syarat Kartini sebelum (terpaksa) mau dipoligami:
1. Boleh mendirikan sekolah & mengajar untuk putri di Rembang, melanjutkan cita-citanya memajukan pendidikan perempuan.
2. Penolakan adat feodal dalam upacara pernikahan: tidak mau berjalan jongkok di belakang suami, tidak berlutut, tidak menyembah/mencium kaki suami.
3. Kesetaraan bahasa: berbicara dengan suami menggunakan bahasa Jawa Ngoko (bahasa sehari-hari setara), bukan Krama Inggil (bahasa hormat yang menunjukkan hierarki istri lebih rendah).
4. Boleh membawa ahli ukir dari Jepara ke Rembang untuk mengembangkan kerajinan secara komersial sebagai kegiatan ekonomi perempuan.
Semua syarat ini (sangat progresif & radikal pada masa itu) dipenuhi oleh calon suaminya, Bupati Rembang Raden Adipati Djojoadiningrat.
Kartini melihat poligami sebagai bentuk penindasan terbesar terhadap perempuan. Ia menyaksikan langsung penderitaan ibunya, Ngasirah, yang dimadu oleh ayahnya. Dalam surat-suratnya, ia menulis dengan getir bahwa tak ada perempuan yang bahagia dimadu, & laki-laki yang memadu kehilangan kehormatan. Poligami dianggapnya sebagai "dosa" yang membuat perempuan menjadi saingan dan korban, sementara laki-laki bebas. Ia juga menolak pernikahan paksa dengan orang asing yang belum dikenal, karena cinta sejati harus dimulai dari rasa hormat, bukan paksaan adat.
Namun, pada 1903, Kartini di usia 24 tahun (dianggap perawan tua yang memalukan keluarga ningrat pada masa itu) terpaksa menikah dengan Raden Adipati Ario Djojoadiningrat, Bupati Rembang yang jauh lebih tua (~25 tahun) & sudah punya 3 istri (salah satunya baru meninggal) karena tekanan budaya feodal priyayi pada masa itu & karena ayahnya, R.M. Adipati Ario Sosroningrat, sakit serta terus "dibully" teman-temannya karena anak perempuannya belum menikah.
“Saya telah berjuang, bergulat, menderita, dan saya tidak dapat menjadikan nasib celaka Ayah, dan dengan demikian membawa bencana bagi semua yang saya cintai." (Surat Kartini kepada Abendanon, 14 Juli 1903)
Meski seumur hidup menentang poligami & pernikahan paksa, Kartini terpaksa mengalahkan idealismenya, terpaksa menanggalkan egoismenya, serta harus berkompromi dengan realitas sosial feodal Jawa demi menjaga kehormatan ayah & keluarga yang dicintainya.
Tekanan budaya feodal & partriarkis kelas priyayi pada masa itu terlalu kuat & ketat, di mana poligami & pernikahan paksa merupakan norma adat (diperkuat ajaran agama), sehingga meskipun Kartini sempat menolak keras, beliau kalah, beliau akhirnya terpaksa menerima pernikahan poligami itu.
Kartini tetap melanjutkan perjuangan emansipasi & pendidikan perempuan dari dalam pernikahan, meski hanya berlangsung singkat karena beliau wafat 4 hari setelah melahirkan anak pertamanya pada pada 17 September 1904 di usia 25 tahun.
Penyebab utama kematiannya adalah komplikasi persalinan, diduga akibat preeklampsia (tekanan darah tinggi pada kehamilan yang dapat memicu kejang dan kegagalan organ). Tragedi ini sangat ironis karena Kartini baru saja mulai mewujudkan cita-citanya setelah menikah, yang salah satu visinya tentu saja untuk meningkatkan akses kesehatan yang lebih baik bagi perempuan, khususnya kesehatan reproduksi & maternal (masa kehamilan, persalinan, & pasca melahirkan).
Alfatihah untuk Ibu Kartini, damai di surga 🌹🌷🌼💐🌺🌸🪻
Berikut daftar 30 Marga/Nama Bangsawan Sunda – Jawa beserta artinya:
1. Martadinata – Marta = pelindung/penjaga, Nata = pemimpin/raja → Pemimpin yang melindungi
2. Wiriadinata – Wiria = ksatria/berani, Nata = pemimpin → Pemimpin yang gagah berani
3. Wirahadikusuma – Wira = ksatria, Hadi = mulia, Kusuma = bunga → Bunga ksatria yang mulia
4. Kusumaatmadja – Kusuma = bunga, Atmaja = anak → Putra seperti bunga (anak yang indah)
5. Bratamanggala – Brata = tekad/nadzr, Manggala = keberuntungan → Tekad membawa keberuntungan
6. Djatikusumah – Djati = sejati, Kusuma = bunga → Bunga sejati (kemurnian hati)
7. Natalegawa – Nata = pemimpin, Legawa = tulus ikhlas → Pemimpin yang ikhlas
8. Wangsa nata – Wangsa = keturunan/silsilah, Nata = pemimpin → Keturunan pemimpin
9. Soemanagara – Suma = agung, Negara = negeri → Kemuliaan negara
10. Kartawidjaja – Karta = makmur, Widjaja = kejayaan → Kejayaan yang makmur
11. Hartadinata – Harta = kemakmuran, Nata = pemimpin → Pemimpin yang makmur
12. Puradiredja – Pura = istana, Diredja = agung → Istana yang agung
13. Adinata – Adi = unggul/utama, Nata = pemimpin → Pemimpin utama
14. Wiranatakusumah – Wira = ksatria, Nata = pemimpin, Kusuma = bunga → Pemimpin ksatria yang mulia
15. Ardikusumah – Ardi = gunung/tinggi, Kusuma = bunga → Bunga di puncak gunung (kemuliaan tinggi)
16. Wiranataatmadja – Wira = ksatria, Nata = pemimpin, Atmaja = anak → Putra pemimpin ksatria
17. Suryadiningrat – Surya = matahari, Deningrat = kemuliaan dunia → Matahari kemuliaan dunia
18. Natakusumah – Nata = pemimpin, Kusuma = bunga → Bunga kepemimpinan
19. Kusumahdiningrat – Kusuma = bunga, Deningrat = kemuliaan dunia → Bunga kemuliaan dunia
20. Suradiningrat – Sura = pemberani, Deningrat = kemuliaan dunia → Pemberani kemuliaan dunia
21. Kusumahwardhana – Kusuma = bunga, Wardhana = kemakmuran → Bunga pembawa kemakmuran
22. Wiradiredja – Wira = ksatria, Diredja = agung → Ksatria yang agung
23. Natadipraja – Nata = pemimpin, Dipraja = negara → Pemimpin negara
24. Wiradisastra – Wira = ksatria, Sastra = ilmu → Ksatria berilmu
25. Wirahadipradja – Wira = ksatria, Hadi = mulia, Pradja = negara → Ksatria mulia negara
26. Atmadiredja – Atma = jiwa, Diredja = agung → Jiwa yang agung
27. Wiranatakusuma – Sama seperti Wiranatakusumah (perbedaan ejaan)
28. Sastradipura – Sastra = ilmu, Pura = istana → Ilmu istana
29. Suryakusumah – Surya = matahari, Kusuma = bunga → Bunga matahari (kemuliaan & keindahan)
30. Wangsadipura – Wangsa = keturunan, Pura = istana → Keturunan istana
@HmnsId kak, mau tanya.
aku punya parfum yang aku simpen di dalem box. pas aku keluarin kek oksidasi gitu. warnanya jauh lebih gelap. yang asalnya kuning jadi coklat. apakah masih aman buat dipake? aromanya sih ga berubah ya. bukan brand hmns ya kak ✌🏻
Tidak ada tempat aman buat perempuan.
Baju terbuka dikata menggoda, baju udah tertutup malah dilecehin.
Jalan biasa aja kena cat calling, ramah salah, keluar malem salah.
Laki-laki?
"Wajar lah, namanya juga cowok" 🥲
nih orang2 yg masih pada ngebela ngeselin banget sumpah. liat konteks "cuma chat", tp ga nyimak kalo beberapa chat itu dilakukan (diketik) langsung di depan korban. di forum juga banyak yg speak up mereka jadi korban KS verbal irl. mau keliatan edgy tp ga paham konteks. blo'on.
“Para bapak, sudahi prinsip: mendidik anak laki-laki itu mudah. Turun tangan, didik anak laki-lakimu”
Semalam 16 mahasiswa FH UI disidang sampai jam tiga pagi, sidang terbuka, disaksikan secara live oleh ribuan orang.
Kejadian ini tidak tiba-tiba. Ini akumulasi. Terlalu lama society menelan mentah-mentah prinsip: “mendidik anak laki-laki itu mudah.”
TIDAK.
Justru karena dianggap mudah, banyak hal yang tidak diajarkan. Lihat saja pola yang sering diremehkan:
Berawal dari obrolan santai yang melecehkan, jadi kebiasaan, jadi cara pandang, lalu jadi perilaku nyata (liat gambar piramida perkosaan)
Tidak semua langsung jadi pelaku kekerasan seksual. Tapi hampir semua berangkat dari titik yang sama: normalisasi.
Society sibuk mendidik anak perempuan: jaga diri, jaga batas, jaga perilaku. Tapi kendor pada anak laki-laki.
“Namanya juga laki-laki.”
“Cuma bercanda.”
“Nanti juga ngerti sendiri.”
"Boys will be boys"
Tidak.
Karakter tidak tumbuh sendiri. Ia dibentuk. Dilatih. Ditegaskan.
Orang tua, perhatikan obrolan anak laki-lakimu. Kalau sudah mulai ada convo yang melecehkan: Tegur. Luruskan. Jangan ditertawakan atau dianggap enteng. Karena di situlah fondasi dibangun.
Terutama para bapak. Anak laki-laki belajar bukan dari teori, tapi dari contoh.
Bagaimana kamu bicara tentang perempuan. Bagaimana kamu memperlakukan pasanganmu. Bagaimana kamu menempatkan perempuan sebagai manusia, bukan objek. Semua itu direkam.
Dan akan mereka ulang.
Ketika seorang bapak menganggap mendidik anak laki-laki itu mudah, dia sedang memilih untuk menjerumuskan anak dengan tidak hadir secara penuh, tidak waspada, hingga di satu titik si anak bisa jadi pelaku ataupun korban.
Anak kemudian dibesarkan oleh algoritma, oleh teman, oleh budaya yang seringkali permisif terhadap pelecehan dan standar moral yang yang tidak sehat.
Kalau kita tidak serius mendidik anak laki-laki hari ini, jangan kaget dengan realitas besok. Karena pelaku tidak lahir tiba-tiba. Mereka dibentuk pelan-pelan, dari hal-hal yang selama ini dianggap “sepele.”
Just incase ada yang komen: "emang siapa yang bilang mendidik anak laki-laki itu mudah? Saya dididik dengan sangat keras"
Oh well, cara pandang itu sudah mengakar sejak lama di masyarakat.
thread update kasus FH UI:
Gambar 1: Ini adalah tampang 16 pelaku pelecehan seksual verbal dan objektifiksasi terhadap perempuan di FH UI. Ini adalah moMen ketika mereka disidang oleh forum mahasiswa dan live di tiktok.
Gambar 2: Ibu yang berpakaian batik dan dipeluk menjadi salah satu korban yang dilecehkan para pelaku di grup chatnya. Beliau adalah salah satu dosen di FH UI. Beliau saat forum bilang “pas saya lihat chatnya, saya kaget ada nama saya”.
Guys, ini bukan sekadar drama rumah tangga biasa… ini kisah nyata yang bikin hati benar-benar hancur.
Seorang perempuan bernama Melda harus menerima kenyataan pahit ditinggal suaminya tepat di momen paling krusial dalam hidup mereka.
Setelah 5 tahun berjuang bersama dari nol hidup susah, jualan sampai dini hari, bahkan pernah makan cuma dengan sambal semuanya runtuh hanya dalam hitungan hari.
Kronologinya begini.
Tanggal 15, mereka hanya cekcok kecil soal kondisi rumah dan ekonomi. Hal yang sebenarnya sangat umum dalam rumah tangga. Tapi siapa sangka, dari konflik sederhana itu, sang suami langsung mengucapkan talak tiga di depan Melda. Tanpa proses, tanpa perbaikan, tanpa memikirkan anak-anak mereka yang masih kecil.
Yang bikin makin menyakitkan…
Dua hari setelah menceraikan istrinya, tepat tanggal 17 Agustus, sang suami justru resmi menerima SK sebagai PPPK—sebuah titik yang selama ini mereka perjuangkan bersama. Momen yang seharusnya dirayakan sebagai keluarga, justru jadi titik kehancuran.
Melda yang selama ini:
Banting tulang jualan dari malam sampai subuh
Menyisihkan uang sedikit demi sedikit untuk kebutuhan suami
Bahkan menabung untuk baju pelantikan suaminya
…malah ditinggalkan tepat saat “hasilnya” mulai terlihat.
Lebih parah lagi, selama ditinggalkan:
Anak-anak sempat kelaparan sampai harus numpang makan
Melda harus bertahan sendiri tanpa nafkah jelas
Komunikasi diputus, bahkan diblokir
Dan yang bikin hati makin perih, ini bukan pertama kalinya dia ditelantarkan. Sudah ada tanda-tanda sejak lama: komunikasi dingin, ekonomi berat, sampai kebutuhan sederhana seperti makanan pun pernah tidak dipenuhi.
Tapi Melda tetap bertahan… demi anak.
Sekarang?
Dia memilih pulang ke orang tuanya, membawa dua anaknya, dan mencoba bangkit dari nol lagi.
Yang bikin banyak orang tersentuh bukan cuma ceritanya…
Tapi sikapnya.
Dia tidak dendam. Tidak minta balas. Bahkan masih bilang:
“Kalau dia mau ketemu anak, silakan… karena bagaimanapun dia tetap ayahnya.”
Pesan paling dalam dari kisah ini:
jangan pernah menggantungkan hidup sepenuhnya pada pasangan. Karena ketika harapan itu runtuh, yang tersisa hanya diri sendiri.
Ini bukan cuma soal perceraian…
ini tentang pengkhianatan di titik paling rentan dalam hidup seseorang.