ngomong kemana aja > adu argumen > merasa benar & pintar > ternyata rasis > tutup akun > panik > langsung nge down > klarif dan minta maaf. udah tau pola nya sih….
@nelaknpyah @KanayakanSC Abimah mangnyeri hatekeun saat si teteh ieu ber statment, terus di satusisi lain abi ngabayangkeun aya seorang ayah ngadorong anakna kanu gerobak jang nyaksian konvoi, aya aki2 nini2 momy2 nu rela papanasan demi ngarayakeun. Plis sia teh nyakola luhur! Akal pake jang kontrol diri
sagede ieu power bobotoh. padahal teu saling kenal, teu saling apal, tapi boga rasa nu sama. teuing kunaon, arurang bisa sarua panas hulu, nyelekit hate pas barudak digogoreng ku batur. bener ceuk aki, PERSIB NGAHIJIKEUN KABEH. HIDUP PERSIB! sehat-sehat barudak🫂
Intinya kemenangan persib itu milik semua orang, dan kami juga tidak membenarkan oknum yg hanya 15% dari 100% itu, pasti dicari.
Adapun “sdm rendah” dll itu akibat kegagalan pemerintah tidak memberi kesejahteraan kepada masyarakat Jabar. Banyak yang putus sekolah kan masyarakat Jabar ini. Jadi kepada mahasiswa @itbfess_x kritiklah pemerintah bukan ke bobotoh.
maksudnya teh kami harus gimana dengan informasi itu? emg ga boleh ya kami defensif ketika ada yang ngerendahin suku sendiri? padahal rasisme ini ga boleh dinormalisasi pada siapapun😅🙏
Jawa dikata hama jauh lebih sering. Ini rasis. Tapi memangnya mau gimana?
Kalau kami baper, nanti tambah dirasisin. Kalau mau dituntut, nanti penjara penuh. Kalau mau diparani, maaf sibuk mbut gawe.
Njuk piye? Kami sibuk kerja, gak kepikiran urus yang rasis satu-satu.
Penjelasan resmi dari Ketua Viking dan Rektor ITB terkait polemik yang sempat beredar telah disampaikan secara terbuka, transparan&jelas.
Mari bersama-sama menyimak informasi resmi ini dengan bijak agar tidak ada lagi kesalahpahaman di ruang publik.
(Video 1/3)
@AdeTaufikHiday6@roninveluv lieur meren om, tiap liburan kadieu benang macet na hungkul tp eweh action nanaon ti pemkot na. berhubung ker aya momentum, jadi menggila pisan🙈
pesta babi lagi tayang, bukannya marah karena orang Papua martabatnya diturunkan tapi orang sunda cengeng gak bisa nerima kritik dari luar lingkarannya? aduhai tribalisme banget nih
Tidak sama sekali membenarkan segala aktivitas yang bertolak belakang dengan korelasi sepakbola. Tapi naha maraneh (mahasiswaitbygbersangkutan) giliran kanu kieu gesit, mun tentang isu sosial kamarana? Ngabetem wae. Jeung maraneh teh kaum terpelajar, teu kudu nepi ka rasis euy.
Bandung memang tidak dibangun dari duit Persib.
Tapi kalo kata Zen RS di salah satu tulisannya,
"Bandung juga tersusun dari kaki-kaki kecil yang terus berani main walau diteriaki Satpol PP. Bandung juga dibangun oleh anak-anak yang tetap datang walau lapangan dikunci, walau bola bolong, walau digebuk aparat, padahal hanya bermain bola plastik di Cikapayang atau Saparua pada Jumat malam. Mereka datang. Mereka main. Karena itu satu-satunya cara mereka bertahan."
Suka tidak suka, untuk mayortias warga Jawa Barat, Persib ini menjadi sebuah alat komunikasi kaum rentan di kelas bawah. Menjadi belati dari dago elos, hingga sukahaji. Menjadi identitas kolektif untuk kaum yang rentan di kehidupan sehar-hari.
Bahwa masih ada sekumpulan orang yang belum terdidik dan kelakuannya merugikan banyak pihak, itu juga harus diakui. Tapi, untuk menggeneralisir dan memukul rata dan menjadikannya satu juga saya rasa tidak adil, apalagi bijak.
Sekali lagi, Bandung tidak dibangun pake duit Persib. Tapi jangan lupa, eta jalan diponegoro arek ditutup permanen ku bapa sararia saha atuh anu naekeun awareness na tepikat teu jadi lamun lain datangna ti sebagian Bobotoh Persib? lalawora sia mah kehed.
Sudah saatnya kita berhenti saling menyalahkan dan mulai menoleh pada akar masalahnya. "kualitas sosiologis masyarakat dan profesionalisme keamanan negara."
Kita butuh pemerintah yang memiliki kemauan politik untuk mengedukasi masyarakat dan memperbaiki taraf hidup rakyat, serta pemerintah yang mau mendengar dan peduli pada hal yang terjadi di masyarakat.
Maneh arek beberewekan sakumaha tarik oge, ari masalah utamana teu beres mah nu kieu patut bakal aya deui aya deui.
Kampus tone deaf, elitist af, ga ngerti aksi massa, ga ngerti kondisi kondisi sosial sekitar, gatau militansi bobotoh pas aksi2 beberapa tahun terakhir lebih kenceng dari kampus gajah. Malu aing sbg alumni wwkkwk
Pendidikan kita ada yg salah, mereka yg terpelajar ini alih-alih menyatu dengan grassroot, malah terjebak di menara gading.
Konvoy persib memang banyak yg perlu di evaluasi tapi kalo cuma teriak anonim mending gak usah sekolah aja, engga gitu cara memperbaiki yg ga bener.
Dago elos diserang aparat, gas air mata, bahkan peluru ke pemukimann, SAYA DIAMM.
Sukahajii mencekam dibakarr, SAYA DIAMM.
Tapi hari ini gara-gara konvoi saya gabisa pesen gopudd. SAYA AKAN LAWANN!!