BBC News Indonesia nerbitin investigasi panjang soal Yasinta Moiwend alias Mama Yasinta, perempuan adat Marind-Anim dari Merauke yang selama 2 tahun vokal nolak PSN.
Tiba-tiba pergi dari kampungnya 23 Mei, muncul di Jakarta, terus LAPORIN koalisi masyarakat sipil yang selama ini nemenin dia ke Polda Metro Jaya.
Mama Yasinta pergi di hari yang SAMA pas Menhan Sjafrie Sjamsoeddin dateng ke Kampung Wanam. Keluarganya juga ragu dia punya duit buat terbang ke Jakarta, selama ini cuma jualan sayur di pasar.
Di Jakarta, Yasinta ketemu 3 advokat + 1 perempuan Papua asal Mimika bernama Eka Kora. Dua dari empat orang ini punya jejak digital yang nyambung ke BIN. Salah satu advokat kerja di firma hukum milik pengurus DPP Gerindra.
Soal Eka Kora: dia pegawai Kemenag Mimika yang pada 2022 jadi orang nomor satu di Papua Muda Inspiratif, komunitas yang dibentuk & dibina BIN. Pembina utamanya pejabat BIN.
Di video klarifikasi, Eka bilang "kebetulan ketemu" Yasinta di Jakarta dan "diminta temani". Tapi dia juga tiba-tiba deny pernah ada di Papua Muda Inspiratif, padahal jejak digitalnya ada.
Salah satu pengacara Yasinta, Tongku Daulay, kliennya adalah Ahmad Dedi, pejabat Bea Cukai yang lagi diperiksa KPK soal kasus suap impor, sekaligus bendahara di organisasi sayap Gerindra. Tempo bahkan nulis dugaan Dedi juga staf ahli BIN & Kemenko Polkam.
Pengacara kedua, Feri Kurniawan, teridentifikasi bekerja di firma Ahmad Fatoni & Partners, milik Wakil Sekjen Bidang Advokasi DPP Gerindra, yang juga pernah jadi kuasa hukum Prabowo di sengketa Pilpres 2024.
Semua pihak kompak bantah, tidak ada konspirasi, tidak ada pembiayaan, tidak ada keterlibatan militer.
Tapi pola koneksinya terlalu rapi,
BIN → Gerindra → advokat → perempuan Papua yang selama ini lawan PSN, tiba-tiba balik arah dan laporin pendampingnya sendiri.
Yang perlu dijawab publik:
siapa yang beli tiket pesawatnya?
kenapa advokat berlatar Gerindra yang turun tangan?
kenapa Eka Kora deny afiliasi BIN-nya padahal rekam jejaknya ada?
Baca investigasi lengkap BBC News Indonesia 👇🏼
#intinyadeh operasi militer terjadi di Kab. Puncak, Papua Tengah 14 Apr lalu.
Aliko Walia, anak laki2 usia 8 thn, tertembak peluru di dada kanan, akhirnya meninggal di RSUD Mulia setelah 36 hari dirawat.
Aliko ditembak bersama ibunya Wundilina Tabuni (40) yg tewas di tempat.
Direktorat Jenderal Palak menolak narasi @TheEconomist yang terus mendiskreditkan Indonesia.
Penolakan ini berdasarkan pada pernyataan Menkeu Purbaya yang mengkategorikan media ini sebagai media bodoh.
Bodoh karena masyarakat sudah tau bobroknya pemerintah. Ga usah diumbar lagi.
Seskab Letkol Teddy Indra Wijaya mengatur ketat arus informasi istana.
Mulai dari meminta wartawan memberitakan yang baik-baik saja, hingga menelpon manajemen dan petinggi media saat tidak suka dengan isi pemberitaan.
#DeadPressSociety#YaAkuBakalDibaca https://t.co/O6XCuqB4dA
Ingat baik-baik namanya, Nalince Wamang
Pelajar asli Papua, 17 tahun, tewas ditembak oleh tentara saat sedang mendulang emas di wilayah bekas aliran limbah tambang PT. Freeport demi mencari uang untuk kuliah
Dimiskinkan sistem, dibunuh aparat negara
Never forget, never forgive
Tangan Hatta itu berdarah paling banyak justru saat Re - Ra.
Salah satu biaya mahal kemerdekaan kita agar dijamin Amerika adalah untuk membersihkan kabinet Indonesia dari komunisme.
Hatta tau betul Re - Ra ini selangkah dua tiga pulau terlampaui. Emang mau efisiensi tentara sekaligus mau memantik amarah kelompok komunis.
Bener aja Musso memberontak. Ga terima kaum buruh dan tani dilucuti apalagi militer isinya kelompok elitis doang.
Kemudian perjanjian Renville juga yang tadinya Hatta support Amir Sjarifuddin, tiba-tiba koalisinya mundur saat sudah ditandatangani.
All the blame was put on Amir Sjarifuddin and his party.
It's a good book. Really. Banyak fakta menarik yang gak ada di Wikipedia.