Good morning. Woke up to $1 now equals 18.100 rupiah. Pertamax has risen from Rp12.300 to Rp16.250, and 5kg rice from Rp75.000 to Rp90.000. If you see nothing wrong with Indonesia's current fucked-up situation, you're either a nepo baby or braindead assholes who voted for 02.
kembali ke 2 juni, merayakan tujuh tahun menjadi ✨yatim✨ alias melanjutkan hidup yang susah susah (gak) gampang ini tanpa abi. the grief never really left, bi. and maybe kakak didn’t outgrow it, just got used to carrying it while growing around it 🥺🎈
so cruel yet so fascinating how you'll have to literally rewire your brain after a certain event while the other person goes on to live their life completely unaffected
>Mumpung gabut saya rangkumin isi videonya (khususnya buat buzzer)
>Anies bilang kondisi Indonesia sekarang tuh lagi ga baik-baik aja. Rupiah jatoh ke titik terendah sepanjang sejarah, harga barang naik, lapangan kerja makin dikit, daya beli masyarakat melemah.
>ke depan jg tantangannya masih panjang. Dunia lagi panas gara-gara geopolitik ama konflik Timur Tengah, ditambah El Nino kuat. Jadi masalah datengnya barengan, bebannya rakyat jadi dobel
>yg paling dibutuhin sekarang itu kepastian bukan sekadar narasi tenang aja atau masalah dianggap ga ada. Kepastian muncul kalo pemerintah transparan, buka semua data, kasih arah yg jelas, dan keliatan negara ini mau dibawa ke mana
>Masalahnya yg kejadian malah kebalikannya. Data yg ditampilin cuma yg bagus-bagus, yg jelek disimpen. Pejabat jg sering becanda atau terlalu enteng ngomongin masalah serius. Kebijakan hari ini beda ama besok, akhirnya pada bingung
>Padahal warning udah dateng dari banyak pihak. Dari ekonom dalam negeri, lembaga keuangan dunia, sampe media dalam dan luar negeri
>Solusi dia: berhenti kasih obat tidur ke rakyat. Buka semua data apa adanya, jujur ama kondisi, bikin kebijakan yg jelas dan konsisten, terus pemerintah harus beneran serius dari atas sampe bawah
“Rakyat kita bermimpi untuk hidup layak.”
Orang mah mimpi tuh keliling dunia, sekolah tinggi sampai S3 atau jadi profesor, punya penghasilan 3 digit perbulan… untuk hidup layak DOANG kok harus BERMIMPI tuh berarti negaranya gagal wok
Kalau rakyat tidak berani bermimpi menjadi kaya dan hanya bermimpi hidup layak. Artinya apa? Bahkan di negara ini bermimpi aja orang tidak berani saking gak ada harapannya.
Menurutku agak lucu ketika reading habit turned into ajang validasi intelektual. Seolah orang baru boleh dianggap “suka baca” kalau bacaannya sesuai standar tertentu.
Padahal selera bacaan tuh grows with age and life experience. Ada yang mulai dari Tere Liye atau Ika Natassa, lalu pelan-pelan berubah sendiri karena hidupnya juga berubah. Sama kayak music taste, film, atau cara kita lihat dunia.
Saya rasa tiap buku datang di timing yang beda buat tiap orang. Dan kadang yang paling ngaruh bukan bukunya “berat” atau enggak, tapi apakah buku itu berhasil bikin seseorang mau terus baca.