Aku: “I’m so happy with my 100mbps fiber at home”
Teman: “100mbps? People usually go for 1 or 2Gbps”
Aku: “well I used to get unreliable 20mbps for the same price so..”
Aku: “I love this park!”
Teman: “but this is just a residential park”
Aku: “yeah I barely had any park at all”
Sebetulnya gue melihat para penyembah Ferry Irwandi tuh sebagai masalah besar yang di luar kendalinya. Yaa gimana yaa? Emang konsekuensi kemarau wawasan aja sih. Lagian susah juga doi mau kontrol persepsi orang...
...EHH TAUNYA DOI BENERAN TERNAK DOMBA DI KANDANG SEBELAH!!!
@anxietyinsidee@radicalcox_21@__ishtar_@Parampa03 @keboydayaan Apaan si lo semua ngentot, gaada yg peduli lo mau tuhanin ferry kek mau benci kek mana, gaada yg peduli. Orang2 laen pada fokus bela rakyat, lawan ke atas lo pada coli intelektual pake bhs inggris. Kontol.
@champagneojan I was thinking about the things u can and u cant control.
People’s reaction is one of them, while it is completely true that thrist trap ≠ consent—but remember that u will receive varied reactions. For me, Its about how u manage your response to the reactions.
Secara bawaan, otak kita cenderung cari pembenaran atas perasaan dengan membuat alasan, daripada menganalisis perasaan secara rasional untuk memahami sumber atau kebenarannya.
Saat berpikir, biasakan bertanya: apakah saya sedang cari pembenaran, atau menganalisis perasaan?
Kebahagiaan orang tua pun kesepiannya orang tua, bukan tanggung jawab anak.
Itulah mengapa orang tua juga harus punya kehidupan sendiri, punya coping positif yg bisa dijadikan kekuatan saat anak akhirnya dewasa dan punya kehidupannya sendiri.
Jangan cek berapa jumlah energi yg dibutuhkan utk memecah air menjadi hidrogen dan oksigen
Saya ingatkan, jangan
===
Don't find out how much energy it takes to split water into hydrogen and oxygen
You've been warned
Bangsa ini gak punya karakter kebangsaan. Makanya gak jelas nilainya.
Pancasila itu terlalu generik dan rawan misinterpretasi. Sementara
Cina punya Hé (Harmony)
Jepang punya Bushido (Honor)
Vietnam punya Kiên cường (Resilient)
Indonesia apa? Multikultural tapi apa?
X itu sosmed yang paling napak tanah. Makanya terlihat "brutal."
Tiktok, yang terlihat tenang, adalah modern sirkus.
Diktator menyediakan hiburan berupa sirkus untuk menyibukkan warganya. Just saying.
Stop perlakukan Prabowo seperti toddler!
He is a fucking president ffs.
Gak semua masalah harus selalu disuapin ke dia.
Just call it what it is: Prabowo itu pemimpin yang pasif dan tidak punya kepekaan (lack of empathetic intelligence).
"Anak kelaparan gak bisa nunggu"
"Tak perlu orang pinter, yang penting cinta rakyat"
Gak, ini bukan statement biasa. Populisme anti-intelektual memang taktik kekuasaannya Prabowo
Jargon ini gak cuma diarahkan buat para cendekiawan, tapi juga semua orang yang berani kritik rezim
Ada yang bilang, "bodo amat dengan anjloknya Rupiah terhadap Dolar, toh kita ndak punya Dolar". Saya kasih tahu yak, hutang negara ini Dolar, jika nilai Dolar naik, otomatis hutang negara kita bengkak. Belanja impor kita pakai Dolar, jika Dolar naik maka harga belanja kita dari luar akan jadi mahal.
Biasanya akan ada yang bilang, "kan saya ndak pernah belanja barang impor, sayur dari Bogor, daging dari Jawa Timur, susu dari Bandung, beras dari Karawang." Begini bambang, saya kasih tahu yak, BBM kita itu sebagian masih impor dan bahan baku industri kita masih impor. Kebutuhan sekunder kita apa lagi, sebagian besar masih impor. Semuanya pakai Dolar.
Perlahan harga-harga akan naik ketika uang cadangan negara sudah mulai tiris. Subsidi untuk rakyat di sektor sana-sini sudah tidak kuat lagi untuk bersandar. Kalau sudah begitu masih mau bilang "bodo amat?"
Jadi bro, hemat-hematlah uang kita ke belakang ini. Belanja seperlunya. Hindari membeli barang yang tidak penting. Hidupkan pasar tradisional, jajanlah di Kaki Lima atau UMKM lainnya. Sekali-kali jalan ke mal cuci mata, lihat alas kaki bermerek yang harganya setara satu truk beras. Jangan pernah beli, nonton aja di etalase. Jika memang Teri, jangan maksa jadi Baronang.
Selain orang pintar, orang jujur juga lebih sering dapat penalty dibanding reward.
Kalau orang pintar akibat meritokrasi minim, orang jujur akibat kecurangan yang ga ada konsekuensi.
Contoh simple: antrian kendaraan di saat macet. Yang nyerobot lebih cepat, dan ga kena tilang.
Kemaren Prabowo bilang orang pinter sering gak jadi apa2.
Lo pada ngerasa ga sih ini kayak kurang lebih nunjukkin kalo meritokrasi tu seringnya dapet penalty instead of reward di NKRI ini?